Tugujatim.id – Proses kemerdekaan Indonesia dilewati dengan beragam peristiwa penting, terutama perlawanan bangsa Indonesia terhadap pendudukan penjajah. Salah satunya terjadi pada 14 Februari 1945 silam di Blitar di mana tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang dipimpin oleh Soeprijadi memberontak terhadap pasukan Jepang.
Artikel yang ditulis oleh Hendra Nurdiansyah dan Aris Sarjito berjudul Nilai dan Semangat Tentara Pembela Tanah Air (PETA) untuk Membangun Budaya Strategis Bangsa Indonesia dalam Memperkuat Bela Negara dalam Jurnal Pertahanan & Bela Negara volume 12 Nomor 1 Tahun 2022 menyebutkan bahwa PETA merupakan bagian tidak terpisahkan dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Tema Hari Kanker Sedunia 2026, Berikut Sejarah Singkatnya!
“PETA dibentuk oleh Jepang pada 03 Oktober 1943 berdasarkan Osamu Seirei (Dekrit) Nomor 44 Tahun 1943 yang kemudian lahirlah Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) yang diumumkan oleh Panglima Tentara AD Jepang ke-16, yaitu Letnan Jenderal Kumakichi Harada,” tulis Hendra dan Aris.
Meski demikian, laman Asumsi menulis, PETA berbeda dengan Heiho. Tentara yang masuk dalam barisan Heiho memiliki pengalaman di medan tempur seperti Filipina, Myanmar termasuk Thailand bersama tentara Jepang. Hal ini tidak dijumpai pada tentara PETA sebab pembentukan PETA sendiri untuk mempertahankan wilayah Indonesia, terutama Jawa.
Pemberontakan Akibat Pelanggaran Hak Asasi
Memang, tujuan awal pembentukan tentara PETA oleh Jepang awalnya untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan tentara Sekutu. Namun, bangsa Indonesia melihat adanya Tentara PETA sebagai bekal menuju Indonesia Merdeka.
“Sejak Tentara PETA berdiri pada 1943, bentrokan-bentrokan bersenjata selalu terjadi, baik dalam skala kecil maupun besar antara pasukan-pasukan PETA dengan tentara Jepang, Hal ini muncul akibat tindakan-tindakan tentara Jepang yang melanggar hak-hak asasi rakyat Indonesia,” tambah Hendra dan Aris.
Pelanggaran hak asasi yang dimaksud di antaranya pemberlakuan kerja paksa (romusha), perampasan hasil pertanian, hingga perlakuan rasial. Perlakuan rasis ini turut dialami oleh tentara PETA yang notabene adalah bentukan Jepang sendiri.
Baca Juga: Hari Desa Nasional 2026, Bangun Desa Bangun Indonesia
Pemberontakan paling besar yang berakibat bentrok senjata terjadi di Blitar pada 14 Februari 1945 yang dipimpin oleh Soeprijadi. Selanjutnya disusul pemberontakan serupa yang terjadi di daerah-daerah lain seperti pemberontakan di Cilacap pada bulan Juni 1945 dan Cimahi kira-kira sebulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Namun, pertempuran di Blitar gagal dan berjalan tidak sesuai dengan rencana. Soeprijadi tidak bisa menggerakkan satuan lain untuk ikut memberontak, bahkan rencana tersebut sudah diketahui oleh Jepang. Dalam waktu singkat, Jepang mengatasi mengirim pasukan militer untuk menghentikan pemberontakan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








