MALANG, Tugujatim.id – Pasca menuntaskan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina, selama hampir tiga pekan sebagai relawan media, dua dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) Kota Malang membawa banyak pengalaman menyentuh. Apa saja kisah inspirasi dua dokter UB ini?
Kedua dokter UB tersebut adalah Dr dr Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat MKes MMR SpOT dan Dr dr Ristiawan Muji Laksono SpAn-TI SubspMN(K) FIPP. Dalam misi ini, mereka tergabung dalam tim relawan bernama Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang bekerja sama dengan Rahmah Worldwide.
Perjalanan dr Kuntadi dan dr Rustiawan dimulai sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 2025, mereka bertugas di dua fasilitas kesehatan yang masih aktif di tengah krisis, yakni RS An-Nasr dan RS Eropa.
Baca Juga: Dua Dokter Universitas Brawijaya Berangkat ke Gaza
Selama di Gaza, keduanya menyaksikan langsung kondisi yang memprihatinkan akibat konflik berkepanjangan. Alhasil, bukan sekadar pengalaman medis, keduanya pulang ke tanah air dengan membawa pesan kemanusiaan.
“Karena sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi orang lain. Bahkan jika tidak bisa membantu secara medis, kehadiran di Gaza bisa saja menjadi penghibur bagi mereka yang kehilangan,” terang dr Mohammad Kuntadi, Rabu (06/08/2025).
Suasana Mencekam dan Penuh Keterbatasan
dr. Kuntadi mengatakan, selama 40 tahun terjun di dunia media sebagai seorang dokter. Dia bahkan belum pernah melihat kehancuran memilukan seperti yang disaksikan saat menjadi relawan di Gaza.
Dia menggambarkan situasi dan kondisi yang begitu menyayat hati nuraninya. Mulai dari anak-anak yang terluka hingga pasien balita yang terkena peluru, napas mereka tersengal-sengal.
“Hingga semalam saya tiba-tiba menangis. Teringat kami cuma dua minggu. Tapi, mereka di sana bertahun-tahun, tenaga medis pun tetap bekerja walau situasi dan makan sulit,” sambungnya.

Di sisi lain, dr. Ristiawan menceritakan bagaimana harus tetap menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan. Kondisi rumah sakit begitu memprihatinkan. Lonjakan kapasitas ruang perawatan yang mencapai 250 persen dari normal. Fasilitas rusak, obat-obatan terbatas, bahkan blok hemodialisis hancur akibat serangan bom.
“Obat kurang, terbatasnya air bersih, fasilitas rusak, hingga risiko keamanan tinggi. Standar medis yang biasa kami jalankan tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Banyak prosedur lewat alat seadanya, bahkan pakai obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai, tentu ini menjadi tantangan,” tuturnya.
Kondisi kelaparan tak hanya dialami warga sipil, tapi juga tenaga medis lokal. Dr. Ristiawan mengenang momen memilukan saat seorang dokter spesialis terpaksa diinfus dikarenakan tidak makan selama dua hari. Bahkan, satu permen pun menjadi hal yang sangat berharga di sana.
“Seorang dokter spesialis sampai harus diinfus. Anaknya menangis semalaman karena lapar. Dan kami tak tega makan sendiri. Bahkan pernah satu permen kopiko kami bagi ke dokter di sana. Mereka menerimanya dengan penuh syukur,” lanjutnya.
Dentuman Bom dan Ancaman Sniper
Selama dua pekan lebih di Gaza, keduanya tak pernah keluar dari rumah sakit karena ada ancaman sniper. Aktivitas mereka dibatasi ketat, bahkan membuka ponsel atau menyebut nama organisasi pun beresiko. Meski demikian, tekad dua dokter ini tak goyah.
“Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir, jadi saya menerima tawaran ini bahkan sebelum izin ke keluarga,” ujar Dr. Kuntadi.
Mereka juga melihat warga sipil yang lemah dan kelaparan, namun tetap menjaga etika. “Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry,” tambah Dr. Ristiawan.
Seruan untuk Tidak Menutup Mata
Setibanya di Indonesia, kedua dokter ini menyampaikan pesan mendalam kepada masyarakat. Mereka mengajak publik untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan yang dialami warga Gaza, Palestina.
Menurut kedua dokter itu, kepedulian tidak harus selalu dalam bentuk uang atau keahlian. Bahkan dalam situasi serba terbatas seperti di Gaza, kehadiran, doa, hingga dukungan sekecil apapun dapat menjadi kekuatan besar bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup.
Dari misi kemanusiaan di reruntuhan Gaza, kedua dokter FK UB ini membawa pesan bahwa harapan, keberanian dan keikhlasan adalah bentuk tertinggi dari ilmu yang mengabdi untuk kemanusiaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Ulul Azmy
Editor: Dwi Lindawati








