• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Dokter UB.

Dua dokter UB jadi relawan di Rumah Sakit An Nasr. (Foto: Dok)

2 Dokter UB Jadi Relawan Medis di Gaza Palestina, Operasi Diiringi Dentuman Bom dan Ancaman Sniper

Dwi Linda by Dwi Linda
10 months ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Pasca menuntaskan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina, selama hampir tiga pekan sebagai relawan media, dua dokter Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) Kota Malang membawa banyak pengalaman menyentuh. Apa saja kisah inspirasi dua dokter UB ini?

Kedua dokter UB tersebut adalah Dr dr Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat MKes MMR SpOT dan Dr dr Ristiawan Muji Laksono SpAn-TI SubspMN(K) FIPP. Dalam misi ini, mereka tergabung dalam tim relawan bernama Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) yang bekerja sama dengan Rahmah Worldwide.

You might also like

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

29/05/2026 7:00 AM
Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

27/05/2026 8:08 PM

Perjalanan dr Kuntadi dan dr Rustiawan dimulai sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 2025, mereka bertugas di dua fasilitas kesehatan yang masih aktif di tengah krisis, yakni RS An-Nasr dan RS Eropa.

Baca Juga: Dua Dokter Universitas Brawijaya Berangkat ke Gaza

Selama di Gaza, keduanya menyaksikan langsung kondisi yang memprihatinkan akibat konflik berkepanjangan. Alhasil, bukan sekadar pengalaman medis, keduanya pulang ke tanah air dengan membawa pesan kemanusiaan.

“Karena sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi orang lain. Bahkan jika tidak bisa membantu secara medis, kehadiran di Gaza bisa saja menjadi penghibur bagi mereka yang kehilangan,” terang dr Mohammad Kuntadi, Rabu (06/08/2025).

Suasana Mencekam dan Penuh Keterbatasan

dr. Kuntadi mengatakan, selama 40 tahun terjun di dunia media sebagai seorang dokter. Dia bahkan belum pernah melihat kehancuran memilukan seperti yang disaksikan saat menjadi relawan di Gaza.

Dia menggambarkan situasi dan kondisi yang begitu menyayat hati nuraninya. Mulai dari anak-anak yang terluka hingga pasien balita yang terkena peluru, napas mereka tersengal-sengal.

“Hingga semalam saya tiba-tiba menangis. Teringat kami cuma dua minggu. Tapi, mereka di sana bertahun-tahun, tenaga medis pun tetap bekerja walau situasi dan makan sulit,” sambungnya.

Dokter UB di Gaza.
Dokter UB tengah melakukan pembedahan tulang pada warga Palestina di Rumah Sakit An Nasr. (Foto: Dok)

Di sisi lain, dr. Ristiawan menceritakan bagaimana harus tetap menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan. Kondisi rumah sakit begitu memprihatinkan. Lonjakan kapasitas ruang perawatan yang mencapai 250 persen dari normal. Fasilitas rusak, obat-obatan terbatas, bahkan blok hemodialisis hancur akibat serangan bom.

“Obat kurang, terbatasnya air bersih, fasilitas rusak, hingga risiko keamanan tinggi. Standar medis yang biasa kami jalankan tidak bisa diterapkan sepenuhnya. Banyak prosedur lewat alat seadanya, bahkan pakai obat-obatan lama yang sudah jarang dipakai, tentu ini menjadi tantangan,” tuturnya.

Kondisi kelaparan tak hanya dialami warga sipil, tapi juga tenaga medis lokal. Dr. Ristiawan mengenang momen memilukan saat seorang dokter spesialis terpaksa diinfus dikarenakan tidak makan selama dua hari. Bahkan, satu permen pun menjadi hal yang sangat berharga di sana.

“Seorang dokter spesialis sampai harus diinfus. Anaknya menangis semalaman karena lapar. Dan kami tak tega makan sendiri. Bahkan pernah satu permen kopiko kami bagi ke dokter di sana. Mereka menerimanya dengan penuh syukur,” lanjutnya.

Dentuman Bom dan Ancaman Sniper

Selama dua pekan lebih di Gaza, keduanya tak pernah keluar dari rumah sakit karena ada ancaman sniper. Aktivitas mereka dibatasi ketat, bahkan membuka ponsel atau menyebut nama organisasi pun beresiko. Meski demikian, tekad dua dokter ini tak goyah.

“Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir, jadi saya menerima tawaran ini bahkan sebelum izin ke keluarga,” ujar Dr. Kuntadi.

Mereka juga melihat warga sipil yang lemah dan kelaparan, namun tetap menjaga etika. “Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry,” tambah Dr. Ristiawan.

Seruan untuk Tidak Menutup Mata

Setibanya di Indonesia, kedua dokter ini menyampaikan pesan mendalam kepada masyarakat. Mereka mengajak publik untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan yang dialami warga Gaza, Palestina.

Menurut kedua dokter itu, kepedulian tidak harus selalu dalam bentuk uang atau keahlian. Bahkan dalam situasi serba terbatas seperti di Gaza, kehadiran, doa, hingga dukungan sekecil apapun dapat menjadi kekuatan besar bagi mereka yang sedang berjuang bertahan hidup.

Dari misi kemanusiaan di reruntuhan Gaza, kedua dokter FK UB ini membawa pesan bahwa harapan, keberanian dan keikhlasan adalah bentuk tertinggi dari ilmu yang mengabdi untuk kemanusiaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

Writer: M. Ulul Azmy

Editor: Dwi Lindawati

Tags: Berita Kota Malang hari iniDokter FK UBDokter UB relawan GazaKota Malang hari iniMalangRelawan Gaza Palestina
Dwi Linda

Dwi Linda

Related Stories

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Biya Agus.

Biya Agus, Magister Fisika yang Viral di TikTok Berkat Pembahasan soal Rezeki bersama Chatour Travel

by Dwi Linda
19/05/2026 4:41 PM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Senin malam (18/05/2026), H Agus Rahman MPd atau yang populer dengan nama Biya Agus Chatour Gresik, sesenggukan...

Mie Cendana.

Atika C. Larasati, Owner Mie Cendana Viral di Malang Kolaborasi Unik bareng Pelaku UMKM Lokal Perempuan

by Dwi Linda
01/05/2026 7:27 PM
0

MALANG, Tugujatim.id - Siapa sih yang nggak mengenal Mie Cendana sebagai salah satu kuliner viral dari Malang, Jawa Timur? Bahkan,...

Next Post
Mahasiswa Palestina.

Tinggalkan Gaza di Tengah Krisis, Dua Mahasiswa Palestina Tempuh Pendidikan Dokter Spesialis di Unair

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID