SURABAYA, Tugujatim.id – Suara ledakan di Gaza mungkin telah mereda, namun bekasnya tidak pernah benar-benar hilang. Di balik puing-puing bangunan dan udara penuh debu, dua mahasiswa Palestina membawa secercah harapan keluar dari tanah kelahirannya yang porak-poranda.
Harapan itu pun kini berlabuh di kampus di Surabaya. Mereka adalah Ahmed Eliaan Syakir Abuajwa dan Ibrahim M. M. Abusalem, dua mahasiswa Palestina yang tengah menempuh pendidikan dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).
Baca Juga: Dampak Serangan AS ke Iran, Pakar Unair: Selat Hormuz Tutup, Krisis Energi Ancam Dunia
Ahmed memilih Program Spesialis Bedah Saraf, sedangkan Ibrahim fokus di Program Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik.
Bagi keduanya, gelar bukanlah tujuan akhir. Mereka memikul misi kemanusiaan untuk bisa kembali ke Gaza dengan keterampilan medis yang mampu mengobati luka perang, baik yang terlihat di tubuh maupun yang tersimpan di jiwa.
Tekad Ahmed: Pulang Membawa Ilmu, Bukan Kosong Tangan
Bagi Ahmed, bisa belajar di Unair adalah kebanggaan sekaligus amanah besar. Dia meninggalkan Gaza yang kini hancur lebur, rumah keluarganya rata dengan tanah, rumah sakit dan sekolah porak-poranda, sementara krisis pangan dan air terus mengimpit.
“Salah satu motivasi saat belajar di Unair ini karena kami di Gaza sangat membutuhkan dokter bedah saraf. Saya tidak akan kembali sebelum membawa bukti kelulusan,” kata Ahmed, Sabtu (09/08/2025).
Meski komunikasinya dengan keluarga besarnya terbatas. Namun setiap kali berhasil terhubung, suara keluarganya selalu menguatkan. Hingga kini, mereka masih tinggal di pengungsian.
“Lanjutkan mencari ilmu, jangan khawatirkan kami,” ucap Ahmed menirukan pesan keluarganya yang selalu dia simpan di hati.
Meski dari negara yang jauh dari Indonesia, Ahmed tidak mengalami kesulitan berarti dalam belajar maupun bersosialisasi. Sebelumnya, dia memang pernah menempuh pendidikan dokter di Unair sehingga sudah mengenal lingkungan dan sedikit menguasai bahasa Indonesia.
Di sisi lain, Ahmed pun berharap bisa mendapatkan beasiswa dari Unair untuk menempuh pendidikan spesialis yang dia pilih tersebut.
“Saya sudah nyaman di UNAIR. Meski ada tawaran dari universitas lain, saya memilih tetap di sini. Semoga ke depan bisa mendapat beasiswa, karena saat ini biaya pendidikan saya tanggung sendiri,” tukasnya.
Perjalanan Panjang Ibrahim: Mulai Mesir, Jerman, hingga Surabaya
Ibrahim datang dengan beasiswa dari Kementerian Kesehatan. Lulus dari Fakultas Kedokteran di Mesir pada 2018, dia mengabdi di Mesir, Gaza, dan Palestina, lalu sempat menempuh studi di Jerman sebelum akhirnya memilih Unair.
“Belajar di universitas dengan reputasi dan kedisiplinan tinggi seperti Unair adalah kehormatan besar,” tutur Ibrahim yang mengaku belum fasih berbahasa Indonesia itu.
Menurut Ibrahim, bidang yang dia tekuni bukan sekadar soal estetika. Bedah plastik rekonstruksi di daerah konflik berarti memulihkan fungsi tubuh korban perang, dari wajah yang rusak, anggota tubuh yang hilang, hingga trauma fisik akibat ledakan.
“Bedah plastik rekonstruksi adalah soal mengembalikan fungsi dan martabat manusia, bukan hanya penampilan,” tegas Ibrahim.
Sedikit bercerita, sebelum tiba di Surabaya, Ibrahim lebih dulu singgah di Jakarta dan disambut para dokter yang membantu mencarikan tempat tinggal serta membimbing memahami sistem pendidikan di Indonesia. Meski sempat mengalami culture shock karena perbedaan bahasa, Indonesia dan Jawa, dia menikmatinya sebagai pengalaman berharga.
“Indonesia ini negara mayoritas muslim, menariknya budaya dan bahasa yang saya temui juga berbeda-beda. Mereka ada yang menggunakan bahasa Indonesia, ada juga yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Tapi saya menikmatinya, sebagai pengalaman berharga,” tandas Ibrahim.
Gaza di Hati, Masa Depan di Tangan
Kini, hari-hari mereka di Surabaya diisi dengan studi dan praktik di rumah sakit. Tidak ada pekerjaan sampingan, tidak ada kesibukan lain, hanya fokus menimba ilmu demi satu tujuan membangun kembali Gaza yang hancur.
“Gaza membutuhkan tangan-tangan terampil seperti kami, bukan hanya untuk mengobati luka, tapi juga untuk mengembalikan martabat manusia,” pungkas Ahmed.
Di tengah jarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran, Ahmed dan Ibrahim meyakini bahwa ilmu yang mereka bawa pulang suatu hari nanti akan menjadi bagian dari penyembuhan, baik bagi tubuh yang terluka maupun jiwa yang tersayat perang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








