• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Kati Pohler saat bersama kedua orangtua kandungnya, Fenxiang dan Lida. (Foto: BBC)

Kati Pohler saat bersama kedua orangtua kandungnya, Fenxiang dan Lida. (Foto: BBC)

20 Tahun Berpisah, Anak yang ‘Dibuang’ Akhirnya Bertemu Orang Tuanya

Gigih Mazda by Gigih Mazda
5 years ago
in Featured, Internasional, Pilihan Redaksi
0
Share on FacebookShare on Twitter

“Apakah saya lahir dari perutmu?” Ruth mengulang pertanyaan anak angkatnya itu. “Dan saya jawab: Tidak, kamu tidak lahir dari perutku.” Dia lantas menjelaskan bahwa dia lahir dari seorang perempuan yang tinggal di China. “Tapi percayalah kamu adalah belahan hatiku.”

Menurutnya, Kati tidak terus-menerus mengajukan pertanyaan tentang siapa orang tua kandungnya. “Mungkin karena dia disibukkan hal lain.”

You might also like

Colony.

Colony Tayang Awal Juni 2026, Film Zombie Korea Terbaru Ini Tembus 4 Juta Penonton dalam Dua Pekan

04/06/2026 10:01 AM
Dima Akhyar

Jalan Panjang Dima Akhyar, Dari Jual Motor hingga Direksi PDP Kahyangan Jember

01/06/2026 10:33 AM

Namun demikian, yang selalu diingat Ruth, sang anak angkat itu terlihat bahagia setiap mendapatkan jawaban atas apa yang menjadi keingintahuannya.

Kadang penasaran, tapi tidak saya besar-besarkan

Berambut hitam, paras agak bulat dan mata agak sipit. Kati yang saat itu berusia 22 tahun menyadari sepenuhnya bahwa ada perbedaan fisik dirinya dengan kedua orang tua dan dua saudara lelakinya. Tapi sepanjang hidupnya, Kati mengaku tidak pernah dibedakan oleh keluarga angkatnya.

“Kami begitu dekat, dan begitu dekatnya, sehingga saya merasa benar-benar diterima, walaupun fisik kami berbeda,” kata Kati.

Tapi, kemudian segalanya mulai menjadi berbeda ketika Kati berhubungan dengan komunitas di luar keluarganya. Di sinilah, saat dirinya bertemu dengan orang-orang yang tidak mengenal siapa dirinya, tidak tahu tentang latar keluarganya, dia seperti dituntun untuk mengetahui sejarah keluarga kandungnya.

“Saya rasa ada kalanya saya penasaran, tapi tidak pernah saya besar-besarkan,” ungkapnya.

Suatu saat, ketika didera penasaran luar biasa, dia berusaha mengetahui dokumen tentang sejarah kelahirannya. Arsip-arsip itu diletakkan di bagian rak paling atas di salah-satu ruangan rumahnya.

“Saya ingat ketika kanak-kanak, saya menarik kursi, memanjat, seperti mencoba mencapainya, dan saya ingin membukanya, dan membacanya. Saya ingat, saya beberapa kali melakukannya,” Kati mencoba mengingat lagi.

Dokumen penting yang ingin diketahui Kati adalah catatan berbahasa China yang ditinggalkan orang tua kandungnya. Kelak dia akhirnya memahami catatan yang berisi harapan orang tuanya yang ingin bertemu dirinya saat dia berusia 10 atau 20 tahun.

Saya tetap menunggu di jembatan itu

Sementara itu di Hangzhou, Lida dan Fengxian menjelaskan alasan yang melatari mereka menuliskan catatan yang kemudian diletakkan di atas bayi yang ditinggalkan itu.

“Saya pikir orang tua angkatnya tidak akan mengijinkan kita melihatnya dalam rentang dua, tiga, atau lima tahun, sedangkan kalau rentang waktu 10 dan 20 tahun itulah, dia akan mulai tahu bahwa dia diadopsi,” ungkapnya.

Pada secarik kertas itu, Lida dan istrinya menuliskan bahwa mereka terpaksa meninggalkan bayi itu dengan alasan kemiskinan dan masalah lainnya.

“Kami tidak punya pilihan selain meninggalkan gadis kecil kami di jalan. Aparat berwenang mengejar kami,” ungkapnya.

Itulah sebabnya, mereka memutuskan untuk melahirkan bayinya sendiri. “Saya memotong tali pusarnya dengan gunting.” Dan setelah bayi itu lahir dan diberi nama Jingzhi, “kami tidak dapat menemukan orang yang kami kenal untuk mengadopsinya.”

Karena itulah, mereka sangat berharap dapat dipertemukan kembali dengan anaknya di atas jembatan di Huanzhou.

Page 2 of 4
Prev1234Next
Tags: ChinaCinakisahTiongkok
Gigih Mazda

Gigih Mazda

Related Stories

Colony.

Colony Tayang Awal Juni 2026, Film Zombie Korea Terbaru Ini Tembus 4 Juta Penonton dalam Dua Pekan

by Dwi Linda
04/06/2026 10:01 AM
0

Tugujatim.id – Colony tayang di Indonesia akhirnya menjadi kenyataan bagi para penggemar film Korea yang sudah lama menantikan penayangannya di...

Dima Akhyar

Jalan Panjang Dima Akhyar, Dari Jual Motor hingga Direksi PDP Kahyangan Jember

by Mochamad Abdurrochim
01/06/2026 10:33 AM
0

JEMBER, Tugujatim.id – Dima Akhyar kini dipercaya menjabat Direktur Umum dan Keuangan PDP Kahyangan Jember. Namun, sebelum masuk jajaran direksi...

Malang

Kakao Malang Diam-Diam Punya Varietas Premium Langka

by Mochamad Abdurrochim
29/05/2026 7:00 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kabupaten Malang ternyata tidak hanya dikenal lewat sektor pertanian hortikultura maupun wisata alam. Di balik hamparan kebun...

Ledakan balon udara.

Sosok Korban MD Ledakan Balon Udara Blitar di Mata Keluarga, Dikenal Pekerja Keras dan Pulang Kampung Melepas Rindu

by Dwi Linda
27/05/2026 8:08 PM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Duka mendalam menyelimuti sebuah rumah sederhana di Desa Tambakan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menyusul insiden ledakan balon...

Next Post
Gerakan Rumah Ibadah Bergerak yang diinisiasi beberapa tokoh di Malang. Semangat saling bergandengan tangan untuk melawan pandemi Covid-19. (Foto: Dokumen)

Gerakan Rumah Ibadah Bergerak, Semangat Kebersamaan untuk Melawan Pandemi Covid-19

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID