5 Keunikan Batik Pace Asli Pacitan

5 Keunikan Batik Pace Asli Pacitan

  • Bagikan
Salah satu motif batik Pace asal Pacitan/tugu jatim
Salah satu motif batik Pace asal Pacitan. (Foto: Instagram @bangga pacitan)

PACITAN, Tugujatim.idPacitan, selain dikenal sebagai kota Seribu Satu Goa dan wisata alam pantai yang menawan, juga memiliki corak dan motif batik tulis yang sangat khas, yaitu batik Pace. Apa saja keunikan batik tulisan tersebut? Simak penjelasan berikut.

1. Representasi Sejarah Pacitan

Dilansir website Budaya Indonesia, bahwa motif batik Pace pada batik tulis tersebut diilhami dari asal mula Pacitan. Menurut buku Legenda Rakyat Pacitan dan Babad Tanah Pacitan, kata Pacitan berasal dari kata Pacewetan. Pace adalah nama buah yang biasa disebut mengkudu yang berbau menyengat namun memiliki banyak khasiat, sedangkan wetan berarti timur.

Penamaan ini berasal dari cerita sejarah Pangeran Mangkubumi dari keraton Surakarta mengalami kekalahan pada perang gerilya (1747-1749). Dia beserta dua belas pengikutnya mundur ke arah selatan Jawa dengan keadaan kelelahan.

Kemudian, Setraketipa, salah seorang abdinya memberikan buah mengkudu, atau yang kemudian disebut Pace. Juga diberikan minuman dari buah pace yang telah direndam dengan legen buah kelapa.

Seketika itu juga kekuatan Pangeran Mangkubumi pulih kembali. Ternyata di daerah tersebut banyak tumbuh buah pace dan diingat sebagai pace sepengetan. Kemudian disingkat pace-tan dan akhirnya menjadi Pacitan.

Sejarah tersebut telah menginspirasi masyarakat untuk melestarikannya dalam bentuk motif pace batik tulis.  Pada tahun 2004 dibuatlah motif tersebut menjadi motif batik tulis khas Pacitan.

2. Makna dan Filosofi

Dijelaskan dalam edhiebaskoro.com, motif pace merupakan simbol ketulusan, kesetiaan, dan pengabdian seseorang serta adanya rasa saling bergotong royong. Makna dan filososfi tersebut erat kaitannya dengan prinsip hidup masyarakat Pacitan yang menjunjung tinggi sikap gotong royong.

Menilik cerita sejarah, makna ketulusan, kesetiaan, dan pengabdian merupakan representasi dari tindakan Setraketipa yang memberikan buah pace kepada Pangeran Mangkubumi ketika dia sedang kelelahan. Cerita tersebut dapat dipahami bahwa seorang abdi memiliki kesetiaan dan ketulusan terhadap pangerannya.

3. Unggul dan Kompetitif

Akun instagram @banggapacitan, mengatakan bahwa batik Pace memiliki keunggulan kompetitif dari sisi warna. Dalam proses pembuatannya menggunakan bahan alami sehingga tampilannya terkesan sangat lembut. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menggunakan batik tersebut.

4. Hak Paten Milik Pacitan

Masih dari akun banggapacitan, pada tahun 2012 lalu, batik Pace telah memperoleh hak paten sebagai karya batik asli Pacitan. Kabar yang begitu menggembirakan bagi masyarakat Pacitan. Ini bisa menepis klaim dari pihak lain yang akan mengambil keuntungan dari batik Pace tersebut. Selain sebagai upaya melindungi kekayaan budaya daerah, hak paten dapat menjadi bekal optimalisasi pengembangan kerajinan batik itu sendiri.

5. Kaya akan motif

Batik Pace memiliki beragam motif pengembangan. Ada beberapa motif yang banyak diproduksi di Pacitan, antara lain: motif Pace Ceplok, Pace Galaran, Pace Sido Luhur.

Pace Ceplok, terdiri dari bentuk segi empat beraturan yang di dalamnya dibuat isi berupa buah pace yang disusun dibagian pojok-pojok segi empat. Segi-segi yang lain dibuat desain berupa bunga-bunga pace yang menyembul dari buahnya yang selang-seling.

Pace Galaran mengkombinasikan pace dengan latar belakang objek dibuat garis-garis mirip galar. Galar sendiri merupakan alas tempat tidur dari bambu. Objek berupa gambar buah pace mulai dari daun, buah, dan bunga yang tersebar merata di permukaan kain.

Pace Sido Luhur, motif pace dikombinasikan dengan motif klasik sido luhur. Buah pace yang disusun membentuk segi empat beraturan, berselang seling dengan motif kulit buah pace yang sedang ditumbuhi bunga-bunga diletakkan pada bagian dalam.

Itulah lima keunikan motif batik Pace asal Pacitan. Dengan mengetahui kekayaan budaya asli daerah, harapannya dapat menjadi pendorong untuk melestarikan dan melindungi budaya tersebut agar tetap eksis di tengah arus globalisasi.

  • Bagikan