53 Tahun Tanpa Dibayar, Begini Kisah Penjaga Makam Pahlawan di Malang

  • Bagikan
penjaga makam pahlawan
Kisah Kembang, penjaga makam pahlawan yang selama 53 tahun rela tak dibayar. (Foto: Rizal Adhi Pratama)

MALANG – Kisah heroik kepahlawanan tak harus ditunjukkan di medan pertempuran. Bisa jadi, hal itulah yang ditunjukkan seorang penjaga Taman Makam Pahlawan (TMP) Bahagia, di Desa Gunung Petung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Kembang namanya. Selama 53 tahun sejak tahun 1967, ia rela merawat taman makam pahlawan tanpa dibayar.

Kembang bercerita awal mula ia menjadi penjaga makam pahlawan ini lantaran permintaan dari salah satu kiai setempat.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

“Tahun 1967, saya disuruh menjaga makam ini. Karena saya disuruh salah satu kiai. Karena waktu kiai itu mau meninggal, anaknya gak mau meneruskan,” terangnya saat ditemui tugumalang.id, grup Tugu Jatim, Jumat (14/08/2020).

Kiai tersebut datang langsung ke rumah Kembang, sambil meminta agar dirinya merawat makam yang saat itu terdapat sekitar 100 makam.

“Lalu kiai itu datang ke rumah minta buat merawat di sini kira-kira waktu itu masih 100 meter. Akhirnya saya mau mengurus karena tidak tega makam-makam pahlawan ini tidak terurus,” kenangnya.

Waktu awal diserahi makam tersebut, ia mengatakan jika kondisinya sangat memprihatikan.

“Awalnya makam ini tidak terurus. Dan banyak rumput-rumput ilalang setinggi batu nisan. Alhamdulillah saya bersihkan sampai serapi ini sekarang,” seraya menunjukkan taman makam pahlawan yang telah tampak rapi dan bersih.

penjaga makam pahlawan
Penjaga makam di Malang yang rela tak dibayar selama 53 tahun. (Foto: Rizal Adhi)

Tak Pernah Dibayar, Santunan Hanya Diberikan Mulai Tahun 2019

Namun, yang mengejutkan, sejak menjadi penjaga makam, Kembang menyatakan bahwa ia tidak mendapatkan gaji pokok dari pihak Desa Gunung Petung maupun dari Kecamatan Turen.

“Saya dari awal ikhlas tanpa dibayar, Alhamdulillah baru-baru ini dapat bantuan beras dan uang dari Departemen Sosial,” ungkapnya.

“Dari desa bantuan cuma dikasih beras sesekali dan baru-baru ini. Sebelumnya tidak pernah dapat bantuan sama sekali,” sambungnya.

Biasanya untuk kehidupan sehari-hari, biasanya kembang menjadi buruh cangkul atau mendapatkan santunan dari peziarah atau warga.

“Tapi, kalau dari merawat makam tidak dapat gaji. Biasanya ada bantuan seikhlasnya dari warga dan peziarah. Selain merawat makam ini biasanya saya bekerja jadi buruh cangkul,” jelasnya.

Sejak 2019, ia memang mendapatkan gaji per tiga bulan, tapi terasa tidak layak atas jasanya merawat makam para pahlawan ini sejak 1967.

“Dari Departemen Sosial juga sejak 2019 ini diberikan Rp 750.000,- per 3 bulan. Dan rencananya tahun 2020 ini Rp 1.120.000,- per 3 bulan, tapi belum tahu bakal jadi atau tidak,” ungkapnya.

Dari 100 Makam, Kini Menjadi 172 Makam

Dari tahun 1967 sekitar 100 makam, kini telah ada 172 makam di TMP Makam Bahagia. Kembang juga setiap hari datang untuk merawat setiap makam dengan bersih.

“Saya merawat di sini setiap hari. Dari pagi sampai sore. Biasanya menyapu dan mencabuti rumput,” ucapnya.

Sementara itu, Komandan Koramil (Danramil) 0818/14 Turen, Kapten Inf Yuyud Hadi Purnomo mengakui jasa-jasa Kembang selama ini. Bahkan, setiap kali dirinya datang ke TMP, ia selalu melihat kondisi TMP bersih tanpa ada rumput liar.

“Komentar saya mengenal Pak Kembang, apapun ceritanya bahwa dia berjasa kepada TMP,” tuturnya.

Yuyud mengatakan agar masyarakat peduli pada kondisi Kembang.

“Dalam hal ini Pak Kembang juga kategori keluarga ekonomi sederhana,” ujarnya.

“Kita harap juga ada perhatian dari semua pihak. Kalau hanya mengandalkan Koramil, ya pasti ada batasnya juga,” imbuhnya.

Terakhir ia mengatakan, jika Dinas Sosial dan pihak Desa Gunung Petung adalah pihak yang harus memberikan bantuan pada keluarga Kembang selama ini.

“Tugas untuk perawatan atau memberikan honor penjaga makam adalah pada dinas terkait. Sedangkan koramil hanya pemakaman dengan protokol-protokol kemiliteran,” pungkasnya.

 

Reporter: Rizal Adhi Pratama
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan