SURABAYA, Tugujatim.id – Imam Kartam Taselim, asal Pasuruan merupakan salah satu jemaah haji tertua dari Embarkasi Surabaya berusia 100 tahun.
Sebelumnya, jemaah haji paling tua di Embarkasi Surabaya sekaligus tertua di Indonesia adalah Hardjo Mislan yang berusia 109 tahun.
Ternyata kisah menarik juga datang dari jemaah haji tertua lainnya di Embarkasi Surabay, Imam Kartam Taselim atau yang akrab disapa Mbak Imam.
Meski di usianya yang mencapai satu abad, Imam terlihat sehat dan mampu berjalan tanpa bantuan kursi roda atau tongkat. Resepnya, olahraga, katanya.
“Saya sudah terbiasa berjalan kaki. Setiap hari saya ke sawah, ya meskipun cuma mengawasi saja di sana,” terangnya.
Padahal, jarak rumahnya menuju sawah kurang lebih 1,5 kilometer. Menurutnya tak begitu jauh dan mengkhawatirkan jika harus berjalan sendirian.
“Alhamdulillah saya masih kuat menempuh jarak sejauh itu setiap hari sendiri tanpa dibantu orang lain. Saya juga belum memakai tongkat,” katanya.
Imam merasa sangat bersyukur diberi Allah SWT umur yang panjang untuk bisa menunaikan ibadah haji 2024. Pasalnya, Mbah Imam pertama kali daftar haji saat usianya 94 tahun, tepatnya tahun 2018.
“Sebenarnya keinginan berhaji sudah ada sejak lama. Namun karena keterbatasan keuangan, pada tahun 2018 itu saya baru bisa mendaftar,” katanya.
Kala itu, Mbah Imam mendaftarkan diri untuk haji dari hasil tabungannya sendiri. Namun, keterbatasan usia membuatnya khawatir jika tabungan hajinya tak juga tercukupi.
“Alhamdulillah saya dibantu anak saya sehingga bisa mendaftar haji,” ucapnya penuh haru.
Ia rela meski harus mengenyampingkan keinginan pelunasan hajinya lebih cepat. Mbah Imam memiliki empati besar terhadap anak-anaknya.
“Kalau sekarang anak saya yang masih hidup ada empat, yang lain sudah meninggal. Sebagai orang tua, meskipun ingin sekali mendaftar haji. tetapi saat itu anak-anak juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi,” bebernya.
Sebenarnya, Mbah Imam sendiri masuk dalam kuota prioritas lansia dan hendak diberangkatkan pada 2020 lalu. Namun, pada saat ini, adanya pandemi Covid-19, pemerintaj Arab Saudi juga menutup akses haji.
“Saat itu saya mendapat kuota prioritas lansia sehingga cepat mendapat panggilan haji, namun ternyata tidak jadi berangkat karena ada pandemi Covid-19,” ujarnya.
Penantiannya akhirnya terbayarkan. Empat tahun berselang, dia bisa berangkat haji bersama anaknya yang juga sebagai pendamping.
“Setelah tertunda 4 tahun, Alhamdulillah saya tahun ini bisa berangkat bersama anak saya,” imbuhnya penuh rasa syukur.
Sementara itu, putra Mbah Imam, Yoyok Wijaksono juga mengakui jika ayahnya tersebut masib terlihat sehat meskipun usianya seratus tahun.
“Bapak itu makannya ya biasa saja. Tahu tempe ya mau. Kalau Idul Adha, makan sate kambing pun masih bisa banyak. Anak-anaknya malah yang khawatir kalau beliau kena darah tinggi. Tetapi waktu diperiksa Alhamdulillah tekanan darahnya normal saja,” tuturnya.
“Bapak itu setiap hari ada saja kesibukannya. Katanya kalau tidak ngapa-ngapain malah sakit semua badannya. Alhamdulillah kadar gula, kolesterol, dan tekanan darah Bapak sejauh ini semua normal,” tandasnya.
Mbah Imam dan Yoyok tergabung dengan kloter 31 Kabupaten Pasuruan dan diberangkatkan pada Senin (20/5/2024) lalu. Kini, keduanya telah tiba di Tanah Suci.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Izzatun Najibah
Editor : Darmadi Sasongko








