JEMBER, Tugujatim.id – Di tengah semilir angin di pesisir Paseban, tersembunyi sebuah kisah dakwah yang luar biasa dari Makam Mbah Gembong, sebuah tempat peristirahatan terakhir yang jarang dikenal oleh banyak orang. Di sinilah tercatat perjalanan panjang Syekh Sayid Alimul Hasanningrat yang lebih dikenal dengan julukan Mbah Gembong dalam menyebarkan ajaran Islam di selatan Jember.
Menurut Sumo (80) penjaga makam tersebut, Mbah Gembong lahir di Jawa Barat sekitar tahun 1488 dan memulai misi dakwahnya di Banten. Perjalanan beliau tidak berhenti di situ, melainkan terus menapaki berbagai daerah, mulai dari Magelang, Pati hingga Ponorogo, sebelum akhirnya menetap di Jember.

Di masa itu, ketika ajaran Buddha masih mendominasi Nusantara, upaya penyebaran Islam memerlukan ketekunan luar biasa. Mbah Gembong diketahui menghabiskan waktu bertahun-tahun di setiap kota, menetap hanya setelah berhasil mengumpulkan sejumlah pengikut yang setia.
BACA JUGA: Makam Mbah Gembong Jember, Situs Sejarah Penyebaran Islam di Selatan Kota Cerutu
“Jadi, Mbah Gembong itu baru pindah ke daerah lain setelah dia berhasil mendapat banyak pengikut,” terang Sumo pada Minggu (9/3/2025).
Mbah Gembong Pernah Dakwah dan Menikah di Pasuruan
Kisahnya semakin menyentuh ketika tercatat bahwa sang pendakwah pernah menetap di Pasuruan dan menikah. Namun, setelah kelahiran anaknya yang sayangnya hanya bertahan selama 36 hari (selapan), beliau kembali melanjutkan perjalanannya.
BACA JUGA: KH Achyat Halimi, Sosok Kiai Mojokerto Peduli Pendidikan dan Kesehatan
Destinasi berikutnya adalah kawasan selatan Jember, tepatnya di wilayah Paseban, di mana Mbah Gembong akhirnya dikenal oleh masyarakat. Mengingat keterbatasan usianya yang sudah lanjut dan kesulitan berkomunikasi, ketika warga bertanya tentang asal-usulnya, jawabannya sederhana ‘Gembong’. Julukan itulah yang kemudian melekat dan dikenal luas.
“Dari situlah asal nama Mbah Gembong, soalnya pada masa itu warga masih belum tahu kalau Mbah Gembong ini pendakwah,” jelas Sumo.
Legenda setempat menuturkan bahwa di Paseban, Mbah Gembong menjalani praktik puasa yang sangat ekstrem. Ia hanya mengonsumsi seekor ikan lele setiap 36 hari, tepat pada hari Jumat Kliwon.
BACA JUGA: Sekilas Tentang KH Nawawi, Sosok Kiai Heroik Asal Mojokerto
Ritual spiritual tersebut dijalani selama satu windu, atau delapan tahun, sebagai bentuk persiapan untuk bersatu kembali dengan Sang Pencipta setelah merasa tugas dakwahnya telah tuntas.
Akhirnya, pada tahun 1611, Mbah Gembong menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk mengenang dedikasi dan keteguhan imannya, masyarakat mendirikan sebuah patung lele di depan makam, simbol dari perjalanan spiritualnya yang penuh pengorbanan.

“Patung lele itu untuk mengenang, kami membangun patung lele di depan area makam,” imbuh Sumo. Hingga kini, Makam Mbah Gembong tetap menjadi saksi bisu perjalanan penyebaran Islam yang penuh liku di Nusantara.
BACA JUGA: Menilik Sejarah Ikhbar Ramadan Pada Masa Awal Berdiri Nahdlatul Ulama
Tempat ini tidak hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga pengingat abadi bagi generasi berikutnya tentang keberanian dan pengorbanan seorang pendakwah yang rela menapaki jalan penuh tantangan demi menyebarkan syiar Islam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko







