JEMBER, Tugujatim.id – Tangannya bergerak lembut namun penuh makna, menerjemahkan setiap kata menjadi bentuk visual yang hidup. Anis Yulia Rachman, sosok penerjemah bahasa isyarat di Jember, memilih menyelami dunia senyap untuk membangun jembatan komunikasi.
Di balik setiap gerakan, tersimpan cerita panjang tentang dedikasi Anis Yulia, perempuan berusia 29 tahun itu, dalam menekuni bahasa isyarat selama 10 tahunan. Tidak sendirian, dia bersama berbagai komunitas penyandang tunarungu terus belajar bahasa tanpa suara ini.
Perempuan kelahiran Pulau Sapudi itu kini mengajar di Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan sambil terus memperdalam keterlibatannya dalam dunia disabilitas.
Awal Mula Perkenalan dengan Dunia Sunyi
Pada 2016 menjadi titik balik dalam hidup Anis. Kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengoordinasi pagelaran seni memperingati Hari Disabilitas Internasional – yang bersamaan dengan pengesahan UU Disabilitas – membawanya bersentuhan langsung dengan komunitas tunarungu untuk pertama kalinya.
“Waktu itu pengetahuan saya tentang bahasa isyarat benar-benar kosong. Namun, saya mendampingi mereka secara intensif selama sebulan penuh,” tutur Anis saat ditemui Tugujatim.id pada Sabtu (07/06/2025).
Pementasan kolaboratif yang melibatkan para penyandang tunarungu dalam berbagai bentuk seni – mulai deklamasi puisi, tarian, hingga pertunjukan musik – menjadi pintu masuk Anis mengenal lebih dalam dunia yang selama ini asing baginya.
Belajar dari Sumber Asli
Keingintahuan yang besar mendorong Anis untuk terus menggali pemahaman tentang bahasa isyarat. Meski berlatar belakang pendidikan luar biasa, kurikulum perkuliahannya dahulu belum memasukkan mata kuliah bahasa isyarat – baru generasi setelahnya yang mendapat kesempatan tersebut.
“Saya menempuh jalur belajar mandiri sambil terjun langsung ke lapangan,” ungkapnya disertai senyum yang ramah.
Proses pembelajaran Anis tidak berhenti pada penguasaan teknis gerakan tangan. Dia mendalami kehidupan keseharian komunitas tunarungu, mengamati pola komunikasi mereka dalam berbagai situasi, mulai dari percakapan santai, humor, berbagi cerita, hingga saat terjadi perbedaan pendapat.
“Bahasa isyarat mereka itu berkembang dengan menyesuaikan akar budaya serta lingkungan setempat. Sehingga, setiap tempat pasti ada variasinya tersendiri. Oleh karena itu, bahasa isyarat terus mengalami perkembangan,” jelasnya.
Keragaman dalam Kesatuan
Pengalaman Anis semakin kaya ketika berinteraksi dengan komunitas tunarungu dari berbagai daerah. Dia menemukan bahwa satu konsep bisa diekspresikan dengan gerakan yang berbeda-beda.
“Ambil contoh kata ‘makan’. Ada yang menggunakan gerakan seperti menyuap makanan ke mulut, ada pula yang menirukan cara mencubit nasi. Semua bergantung pada kebiasaan budaya setempat. Kami tidak bisa kaku dalam menerapkan satu standar. Fleksibilitas dan kepekaan menjadi kunci,” jelasnya.
Mengajar dengan Pendekatan Personal
Saat ini, selain aktif sebagai penerjemah bahasa isyarat di berbagai kegiatan resmi – mulai dari acara pemerintahan, seminar akademik, hingga pelayanan kepolisian – Anis juga mengabdikan diri sebagai pendidik di tingkat SMP Luar Biasa.
Tantangan terbesar dalam dunia pendidikan inklusif, menurut dia, adalah mengelola kelas yang terdiri dari anak-anak dengan kebutuhan khusus yang beragam.
“Ketika dalam satu ruangan berkumpul siswa tunarungu, tunanetra, dan autis, justru pengajar yang mengalami kebingungan. Setiap anak memerlukan pendekatan yang unik. Makanya saya lebih sering melakukan pendekatan individual,” tuturnya.
Miskomunikasi yang Mengundang Tawa
Anis pun membagikan salah satu kisah menariknya yang sering terjadi. Tidak jarang, orang-orang yang melihatnya berkomunikasi dengan komunitas tunarungu mengira bahwa dirinya juga penyandang tunarungu.

“Sering terjadi saat saya sedang berbincang menggunakan isyarat dengan teman, lalu ketika sampai di kasir untuk membayar, petugas kasir terheran-heran, ‘Lho, ternyata Mbak bisa bicara?,” kata Anis dengan raut tawa di wajahnya.
Empati sebagai Fondasi Utama
Bagi siapa pun yang berniat mempelajari bahasa isyarat, Anis menekankan pentingnya memahami konteks kehidupan komunitas tunarungu terlebih dahulu.
“Pahami dulu dunia tempat mereka hidup. Ini bukan semata-mata masalah penguasaan teknik, melainkan tentang kemampuan berempati. Jika seseorang hanya belajar dari platform digital tanpa interaksi langsung, mereka mungkin menguasai gerakan-gerakannya, namun belum tentu memahami esensi di baliknya,” jelasnya.
Setiap gerakan dalam bahasa isyarat, Anis melanjutkan, merupakan bentuk pengakuan terhadap eksistensi komunitas tunarungu dan hak mereka untuk mendapatkan akses yang sama dengan warga lainnya.
“Mereka memiliki sistem komunikasi tersendiri. Apabila kita tidak berupaya memahaminya, secara tidak langsung kita turut mempersempit ruang gerak mereka dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal, mereka adalah bagian dari warga negara yang berhak dipahami dan didengar,” paparnya dengan penuh keyakinan.
Harapan untuk Masa Depan
Menurut dia, di Kabupaten Jember, orang-orang seperti dirinya masih terbatas. Bahkan hanya dapat dihitung jari, yaitu sebanyak tujuh orang penerjemah bahasa isyarat di Jember. Sebagian besar dari mereka bekerja tanpa banyak mendapat perhatian publik. Meski demikian, Anis tetap optimis bahwa perubahan positif dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana.
“Transformasi bisa berawal dari tangan-tangan yang mau belajar berkomunikasi dengan cara baru, mata yang bersedia melihat lebih mendalam, dan hati yang terbuka untuk memahami bahwa dunia senyap pun memiliki caranya sendiri untuk bersuara,” refleksinya.
Pesan terakhir Anis sederhana namun bermakna dalam, yaitu membangun empati adalah kunci utama. Bagi mereka yang ingin mempelajari bahasa isyarat, langkah pertama yang paling penting adalah membuka diri terhadap pengalaman hidup komunitas tunarungu.
“Ketika kita mampu memahami mereka, artinya kita telah ikut memperjuangkan hak mereka untuk didengar dan dipahami,” pungkasnya dengan penuh harap.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








