MAKKAH, Tugujatim.id – Penziarahan spiritual berkat kerja sama Chatour Travel dan Tugu Media Group, mengantarkan penulis ke makam KH Maimoen Zubair yang ternyata sangat populer di Jannatul Ma’la, Makkah. Berikut catatan seri ke-20.
Sejak awal, salah satu destinasi yang penulis ingin kunjungi ketika di Makkah adalah Jannatul Ma’la, sebuah makam yang di dalamnya terdapat beberapa tokoh besar dalam sejarah Islam.
Di tempat ini, berbaring jenazah istri Nabi Muhammad SAW yang sangat beliau cintai yakni Sayyidah Khadijah Binti Khuwailid, dua anak Nabi Muhammad SAW Qasim dan Abdullah, Abu Thalib (paman), dan Abdul Munthalib (kakek).
Baca Juga: Berikut Dua Amalan agar Seseorang Dimudahkan untuk Bisa Umrah Menurut Mutowif Chatour Travel (18)
Dari Indonesia, dua ulama besar yang dimakamkan di Ma’la adalah KH Maimoen Zubair, pengasuh pesantren Al Anwar Rembang, Sarang, Jawa Tengah; dan Syeikh Nawawi Al Bantani.
Penulis berziarah ke Jannatul Ma’la pada Sabtu (23/08/2025). Penulis tiba sekitar satu jam sebelum waktu salat Asar. Ketika itu, pemakaman ma’la masih tutup dan baru buka setelah salat Asar. Saat tiba, penulis yang berziarah seorang diri, bertemu dengan rombongan jemaah umrah asal Jawa Barat.
Rombongan ini sebenarnya ingin ke makam Mbah Maimoen, tapi karena ma’la masih tutup, jemaah ini terpaksa hanya membaca tahlil dan salawat dari luar area Makam Ma’la. Setelah membaca tahlil dan salawat, rombongan ini lalu kembali ke kompleks Masjidilharam mungkin untuk salat berjamaah.

Sedangkan penulis menunggu hingga waktu Asar berkumandang dan salat berjamaah di depan Jannatul Ma’la. Baru setelah selesai salat Asar, makam Ma’la dibuka untuk umum.
Meski makam Ma’la sangatlah luas, tidak sulit bagi penulis untuk sampai ke makam Mbah Maimoen Zubair. Total ada tiga petugas dan pengunjung Ma’la yang penulis tanya soal posisi makam Mbah Maimoen, dan semuanya tahu letaknya. Ini menunjukan begitu populernya makam Mbah Maimoen di Ma’la.
Pertama, penulis bertanya kepada seorang jemaah ketika baru hendak masuk gerbang Ma’la. Jemaah yang berwajah Arab ini menunjukkan blok area makam Mbah Maimoen.

Setelah itu, penulis menaiki mobil operasional yang kebetulan melintas. Kepada sopir, saya bertanya makam Mbah Maimoen, lalu saya diberhentikan di area makam tersebut. Setelah turun, penulis masih kebingungan karena batu sebagai penanda makam semuanya hampir sama.
Terakhir penulis bertanya kepada seorang petugas lagi. Lantas, petugas itu mengantar kami ke makam Mbah Maimoen. Di sini, terdapat terdapat dua batu penanda bahwa ini adalah makam Mbah Maimoen.
Pertama, penandanya batu biasa tanpa ada tulisan. Sedangkan penanda satunya batu yang bertuliskan: Waliyulloh Simbah KH Maimun Zubair Indonesia Rembang.

Di makam beliau, saya membaca surat Yasin sambil mengelus-ngelus batu yang bertuliskan nama beliau. Selain itu, penulis membacakan kosidah Shalawat Kosidah Sa’duna Fiddunya yang merupakan salawat kesukaan Mbah Maimoen.
Salawat ini juga menandakan kecintaan Mbah Maimoen kepada istri Nabi yakni Siti Khadijah. Kebetulan, Mbah Maimoen juga dimakamkan di area kompleks pemamakan istri nabi tersebut. Hal ini seperti menegaskan kebenaran salah satu Hadis Nabi Muhammad SAW yang intinya seseorang akan bersama dengan seseorang yang dicintainya.
Setelah selesai berziarah ke makam Mbah Maimoen, penulis berziarah ke makam Siti Khadijah. Makam Siti Khadijah, berada dalam sebuah bangunan berpagar. Di tempat ini, penulis dapati banyak peziarah yang membaca surat-surat dalam Al-Qur’an dan bacaan-bacaan lainnya.
Karena matahari sedikit demi sedikit terbenam, penulis pulang ke area Masjidilharam dengan berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, kurang lebih memerlukan waktu sekitar 30 menit. Agar tidak kesasar, perbanyaklah bertanya kepada petugas dengan menyebut kata Masjidilharam.
Saran jika Ingin ke Jannatul Ma’la
Dari area Masjidilharam, jannatul Ma’la bisa ditempuh dengan menggunakan taksi. Harganya sekitar 15-20 Riyal. Sebaiknya menyiapkan uang Riyal. Lantaran, penulis yang membayar dengan uang Rp100.000 Indonesia, oleh sopir berkebangsaan Bangladesh, masih dimintai uang lagi. Padahal Rp100.000 itu lebih dari 20 Riyal.
Awalnya, si sopir memotret uang tersebut ke temannya, mungkin bertanya nominal uang tersebut. Setelah itu, sopir meminta uang lagi karena menganggap uangnya kurang. Saya mencoba menjelaskan kalau uang itu lebih dari 20 riyal, tapi tetap saja tidak bergeming. Setelah saya menambah uang rupiah sedikit, baru sopir taksi melunak dan mengantarkan saya ke Ma’la dengan selamat.
Selain itu, ke Jannatul Ma’la juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pulang pergi sekitar satu jam. Persering bertanya kepada petugas arah Jannatul Ma’la agar tidak salah arah. (bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Irham Thoriq
Editor: Dwi Lindawati








