Tugujatim.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menelurkan seri buku resiliensi berkelanjutan pada Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang berlangsung di Mojokerto pada 1-3 Oktober 2025. Buku yang dikemas dalam bentuk kompendium ini terdiri dari 5 seri.
Buku 1 adalah Pengantar Resiliensi Berkelanjutan. Buku ini terwujud berkat laporan kajian dari 4 seminar bulanan antara bulan Mei hingga Agustus 2024 lalu yang diikuti oleh 500 pemangku kepentingan dari kawasan Indo-Pasifik. Tiap peserta dalam seminar tersebut menyuguhkan keahlian masing-masing di bidang penanggulangan bencana, adaptasi perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.
Baca Juga: Mojokerto Jadi Tuan Rumah PRB 2025, Bupati: Dari Bumi Majapahit Untuk Nusantara
Resiliensi yang dimaksud dalam buku ini berkaca pada peristiwa luar biasa masa lalu; bencana tsunami Samudra Hindia pada 2004. Di Indonesia, bencana ini merenggut nyawa sekira 167.000 orang, sebagian besar korban meninggal di provinsi Aceh. Ribuan orang lainnya hilang, sehingga tsunami ini menjadi salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah bangsa.
Akibat bencana ini, lebih dari 500.000 orang mengungsi, serta lebih dari 120.000 rumah hancur. Belum lagi kerusakan yang terjadi pada sejumlah fasilitas umum utama seperti sekolah, rumah ibadah dan rumah sakit.
Peristiwa ini menjadi penanda besar terkait penanggulangan bencana di Indonesia. Hal ini terlihat pada tahun 2007, pemerintah Indonesia mengesahkan undang-undang baru sebagai panduan untuk membentuk kebijakan dan praktik penanggulangan bencana serta membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bertahun-tahun kemudian, bencana besar lain termasuk gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir, membentuk sistem yang lebih kuat dan lebih inklusif. Pertimbangan pengurangan risiko menjadi bagian dari perencanaan gedung baru, sekolah, layanan kesehatan, dan sistem darurat.
Baca Juga: Peringatan Bulan PRB 2025 di Mojokerto Dibarengi Launching Buku Penyandang Disabilitas
Indonesia juga merangkul lebih luas wacana dan pemikiran kebijakan tentang bagaimana perubahan iklim, kerusakan lingkungan, cepatnya pertumbuhan perkotaan, dan krisis kesehatan seperti pandemi, menimbulkan risiko yang dihadapi serta bagaimana hubungan antara faktor-faktor ini membuat manusia semakin terpapar terhadap risiko.
Dalam buku ini dijelaskan bahwa Indonesia menjadi tuan rumah Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana dan mengenalkan Agenda Bali untuk Resiliensi. Dalam konteks ini dibahas bagaimana mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih kuat, perencanaan yang lebih baik, dan lebih banyak investasi dalam resiliensi.
Dalam konteks domestik, Indonesia mengembangkan beragam macam alat dan program, termasuk:
- Platform digital seperti InaRISK untuk membantu orang-orang memahami bahaya di tempat mereka.
- Sistem peringatan tsunami seperti InaTEWS untuk memperingatkan masyarakat dengan cepat.
- Desa aman bencana yang memberikan pelatihan kepada penduduk dan membangun rumah yang lebih kuat.
- Proses perencanaan daerah (Musrenbang), tempat masyarakat dapat menyuarakan kebutuhan mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








