TUBAN, Tugujatim.id – Ratusan tukang becak wisata Makam Sunan Bonang yang mangkal di Terminal Kebonsari, Kabupaten Tuban, Jatim, menggeruduk Kantor Bupati Tuban, Rabu (05/02/2026). Tukang becak Sunan Bonang ini demo menuntut penataan transportasi peziarah yang dinilai semakin meresahkan dan berdampak langsung pada menurunnya penghasilan.
Aksi tersebut dipicu keberadaan angkutan shuttle dan becak motor (bentor) yang belakangan ramai mengangkut peziarah ke kawasan Makam Sunan Bonang. Para tukang becak Sunan Bonang ini menilai keberadaan angkutan tersebut mengambil ruang dan rezeki transportasi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung mereka.
Baca Juga: 200 Becak Listrik Disalurkan di Kabupaten Malang, Bupati Sanusi Apresiasi Bantuan Prabowo
Dalam aksi itu, perwakilan tukang becak Sunan Bonang diterima langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Kabupaten Tuban Anthon Tri Laksono. Pertemuan berlangsung di kantor bupati dan menghasilkan sejumlah kesepakatan awal.
Berdasarkan hasil pertemuan, disepakati empat poin utama. Pertama, seluruh bus peziarah yang bertujuan ke Makam Sunan Bonang wajib masuk dan parkir di Terminal Wisata Kebonsari Tuban. Kedua, penghentian operasional shuttle yang mengangkut peziarah menuju makam.
Ketiga, penertiban becak motor (bentor) yang dinilai mengganggu pengguna jalan lain sekaligus melanggar aturan. Keempat, mengembalikan becak sebagai moda transportasi utama peziarah di kawasan wisata religi tersebut.
Janji Penataan Transportasi Peziarah Bertahap
Anthon Tri Laksono menegaskan, penataan transportasi peziarah memang menjadi pekerjaan rumah yang tidak sederhana karena menyangkut persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Ketika ada peluang ekonomi, pasti dimanfaatkan. Itu wajar. Tapi di sisi lain, teman-teman di Terminal Kebonsari merasa penghasilannya berkurang. Maka hari ini kita sepakat, bus peziarah memang harus masuk ke Terminal Kebonsari,” ujarnya.
Dia mengakui, selama ini masih banyak bus yang berhenti di luar terminal. Karena sejumlah wilayah di Tuban ada potensi wisata Religi lainnya sehingga memunculkan praktik shuttle. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengangkut peziarah masuk ke area makam.
“Terkait shuttle, ini muncul karena ada bus yang tidak masuk terminal. Ini ekonomi. Tapi dampaknya dirasakan oleh tukang becak,” imbuhnya.
Soal bentor, Anthon menegaskan, secara aturan keberadaannya tidak diperbolehkan. DLHP bersama pihak terkait akan menertibkan secara bertahap.
“Bentor ini jelas tidak sesuai aturan. Kami akan fokus menata, tapi penataan ini tidak bisa instan. Butuh dukungan semua pihak,” katanya.
Dia menegaskan, hasil kesepakatan ini akan ditindaklanjuti dengan langkah penertiban di lapangan. Namun, dia juga menekankan bahwa penyelesaian persoalan transportasi peziarah tidak bisa dilakukan secara kaku karena menyangkut dinamika sosial.
“Ini bukan soal gagal atau tidak gagal. Ini evaluasi. Penataan sosial memang selalu ada pergeseran. Yang penting kita menuju kondisi yang lebih tertib dan adil,” tandasnya.
Baca Juga: 100 Becak Listrik dari Presiden Prabowo Diserahkan pada Tukang Becak Lansia Tuban
Sementara itu, salah satu tukang becak peserta aksi, Slamet, mengaku penghasilannya turun drastis sejak shuttle dan bentor beroperasi di kawasan Makam Sunan Bonang.
“Sejak ada shuttle sama bentor, penumpang becak makin sepi. Kadang sehari narik cuma dapat satu dua penumpang. Padahal, kami sudah puluhan tahun nglayani peziarah di sini,” ujarnya.
Dia menegaskan, para tukang becak tidak menolak penataan, namun berharap kebijakan pemerintah berpihak pada transportasi tradisional.
“Kami tidak minta macam-macam. Becak ini sudah jadi transportasi resmi peziarah sejak dulu. Kalau semua diambil shuttle, kami mau makan apa,” keluhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








