• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Salah satu rumah di kawasan Kampung Lawas Maspatih, Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Salah satu rumah di kawasan Kampung Lawas Maspatih, Surabaya. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Jejak Wisata ‘Kampung Lawas Maspatih’ Surabaya di Tengah Pandemi COVID-19

Mulai dari Kerajaan Islam hingga Kemerdekaan RI

Redaksi by Redaksi
5 years ago
in Featured, Sastra & Budaya, Wisata
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Jalan paving itu tampak warna-wani bergambar bunga, tanaman hias berjajar rapi, deretan rumah khas kampung masih bergaya lawas era kolonial. Gangnya kecil, tapi unik dan menawan. Ya, ‘Kampung Lawas Maspatih’ tidak sekadar kampung, namun punya sejarah tentang Tumenggung dan Adipati Keraton Surabaya.

“Kampung ini, waktu Kerajaan Mataram. Sebrang sana ada Keraton. Di sini perumahan Adipati dan Tumenggung (sejajar Menteri, red). Pasca itu, Raden Pekik (hidup pada tahun 1659, red) tinggal di sini, maka dijuluki ‘Maspatih’, artinya perumahan para Adipati,” jelas Sabar Suastono, Ketua RW 3 Kampung Lawas Maspatih, Jumat (08/01/2021), pukul 15.45 WIB.

You might also like

Kuliner malam Malang.

Ramai hingga Tengah Malam, Deretan Kuliner Malam Malang Favorit Ini Selalu Diburu

06/07/2026 9:15 PM
Mikutopia Batu.

Libur Sekolah Belum Usai, Mikutopia Batu Perpanjang Promo Tiket Murah hingga 12 Juli

06/07/2026 8:55 PM
Pemandangan di Kampung Lawas Maspatih. Sesuai namanya, rumah-rumah kuno tampak berjajar hampir di segala penjuru. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Pemandangan di Kampung Lawas Maspatih. Sesuai namanya, rumah-rumah kuno tampak berjajar hampir di segala penjuru. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Baca Juga: Herry Rasio, Master Aquascape Kelas Dunia Asal Malang

Kampung itu sudah ada sejak abad ke-17, dulu jadi tempat tinggal para ‘abdi dalem’ Keraton Kerajaan Surabaya. Karena lokasi yang tidak jauh dari keraton, sekitar 100 meter, ada di sebrang Jl. Maspatih Surabaya. Sehingga bisa cepat datang bila diperlukan oleh kerajaan.

“Dulu rumahnya tidak dempet, agak jauhan. Di sana ada makam mbah Buyut Suruh. Waktu itu, punya cucu namanya Sawunggaling. Adipati Surabaya pada masa Kerajaan Islam membuat sayembara, memilih Adipati. Sawunggaling nakal, ndableg, tapi kakek-nenek (Raden Karyo Sentono dan mbah Buyut Suruh, red) mendukung sampai ternyata dia jadi Adipati,” cerita Sabar pada Tugu Jatim, sambil duduk di kursi panjang tepi jalan Kampung Lawas Maspatih.

Tugu Jatim menyisiri Kampung Lawas Maspatih. Ada rumah Ongko Loro, dibangun tahun 1907. Konstruksi masih asli, khas rumah lawas. Pintu, jendela dan dinding bagaikan rumah masa ‘Bumi Manusia’ milik Pramoedya Ananta Toer. Rumah Ongko Loro dulu dipakai sekolah rakyat untuk mengurangi warga yang buta huruf, supaya bisa membaca.

Papan petunjuk jalan untuk para wisatawan yang berkunjung ke kampung ini. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Papan petunjuk jalan untuk para wisatawan yang berkunjung ke kampung ini. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

Baca Juga: Buah-Buah Terbaik untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh

“Pasca Kerajaan Islam dan masuk masa kemerdekaan Indonesia, perang 10 November di Tugu Pahlawan (jarak 200 meter dari kampung, red), di tahun 1900-an ada rumah yang dipakai diskusi para pejuang. Ada dapur perang di losmen. Tentu, ini adalah sejarah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah,” lanjut Sabar dengan wajah yang menghayati cerita itu, Jumat (08/01/2021).

Kampung yang terletak di Jl. Maspatih, Bubutan, Surabaya itu juga mempunyai sudut sejarah seperti Rumah Raden Sumomiharjo dan Rumah Sehat Kenanga. Ada juga tambahan wisata seperti Lorong Selfie, Edukasi UKM, Aula dan Area Kuliner Kampung Lawas Maspatih yang dibuat oleh warga, sebagai upaya elaborasi dengan masa kini.

“Kesimpulannya, kampung dan negara duluan kampung lahirnya. Tanpa ada kampung, mustahil ada negara. Sebuah pembangunan dimulai dari kampung, tanpa memulai dari kampung saya yakin pembangunan itu tidak akan berhasil. Kampung itu laboratorium pancasila, kampung harus dilestarikan, kalau kampung hilang pancasila bisa hilang,” harapan Sabar yang diceritakan pada Tugu Jatim, Jumat (08/01/2021).

Baca Juga: Wiji Thukul, Mengenang Sastrawan dan Aktivis yang Hilang pada Masa Orde Baru

Nuansa sejarah kental, membuat Kampung Lawas Maspatih dikunjungi wisatawan asing dari Eropa dan Asia. Mendapat banyak predikat. Sertifikat lomba, penghargaan dan apresiasi terpasang rapi di dinding rumah Sabar Suastono. Yang berkesan, ucapan Sabar bahwa ‘kampung lahir lebih dulu ketimbang negara. Kampung ialah laboratorium pancasila. Maka, harus dijaga’. (Rangga Aji/gg)

Tags: Destinasi Wisatadestinasi wisata di SurabayaKota Surabayarekomendasi wisatarekomendasi wisata di SurabayaSurabaya
Redaksi

Redaksi

Related Stories

Kuliner malam Malang.

Ramai hingga Tengah Malam, Deretan Kuliner Malam Malang Favorit Ini Selalu Diburu

by Dwi Linda
06/07/2026 9:15 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Kuliner malam Malang seolah punya aturan tak tertulis. Makin malam, makin banyak godaan makanan yang bikin susah...

Mikutopia Batu.

Libur Sekolah Belum Usai, Mikutopia Batu Perpanjang Promo Tiket Murah hingga 12 Juli

by Dwi Linda
06/07/2026 8:55 PM
0

BATU, Tugujatim.id – Menyambut pekan terakhir libur sekolah 2026, destinasi wisata bertema dunia jamur Mikutopia di Kota Batu memperpanjang masa...

Tempat ngopi hidden gem Surabaya.

15 Tempat Ngopi Hidden Gem Surabaya yang Jarang Diketahui Anak Muda

by Dwi Linda
06/07/2026 5:44 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Surabaya punya banyak kedai kopi unik yang lokasinya tersembunyi, jauh dari hiruk-pikuk kafe mainstream yang menawarkan suasana...

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

by Dwi Linda
06/07/2026 5:13 PM
0

LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu...

Next Post
Bupati Malang, Sanusi tanggapi terkait PSBB dan PPKM yang dilakukan di Malang Raya khususnya di Kabupaten Malang. (Foto: Rap/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Bupati Malang Pastikan PPKM Lebih Longgar Daripada PSBB

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID