• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Stockholm Syndrome. (Foto: Pinterest/Tugu Jatim)

Ilustrasi korban sandera yang sedang diculik. (Foto: Pinterest)

Mengenal Stockholm Syndrome, Bentuk Ikatan Emosional Korban Sandera dengan Penculik

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
4 years ago
in Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Kasus penculikan kerap kali menimbulkan trauma terhadap korbannya karena beberapa perlakuan yang dialami selama disandera. Mulai dari diperlakukan secara kejam hingga disakiti secara fisik. Namun sebaliknya, korban penderita stockholmGejala syndrome tak merasa demikian. Mereka justru akan merasa terikat secara emosional dan bersimpati kepada pelaku penculikan. Kok bisa?

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Stockholm syndrome adalah respons psikologis saat sedang ditawan. Penderita sindrom ini membentuk ikatan batin dengan penculiknya dan mulai bersimpati dengan mereka.

You might also like

Jatim

Dindik Jatim Tegaskan Kepala Sekolah Dilarang Terima Titipan Siswa pada SPMB 2026

03/06/2026 3:53 PM
LPPM UM.

Kolaborasi LPPM UM X Direktorat Inovasi UM Dorong Hilirisasi Riset Global melalui Pameran AFRASIA 2026

03/06/2026 3:16 PM

Banyak profesional medis menganggap perasaan positif yang dirasakan korban terhadap pelakunya sebagai respons psikologis–atau biasa disebut mekanisme koping– yang mereka gunakan untuk bertahan hidup dari trauma berlebihan dan ketakutan akibat penculikan.

Dikutip dari Alo Dokter, kondisi ini tidak hanya berlaku pada situasi penculikan, tapi bisa terjadi pada situasi tertentu, yaitu pelecehan anak, pelecehan antar pelatih-atlet, pelecehan di dalam hubungan (hubungan abusive), dan perdagangan seks.

Awal Penamaan Istilah

Sebelum membahas penyebabnya, mari telurusi lebih dalam mengapa gangguan psikologi ini dinamakan demikian. Dilansir dari Cleveland Clinic, hal ini bermula dari insiden perampokan bank dan penyekapan sandera yang terjadi di Kota Stockholm, Swedia, pada 1973.

Selama 6 hari penyekapan, banyak pegawai bank yang bersimpati kepada para perampok bank. Setelah mereka diselamatkan, beberapa dari pegawai bank menolak untuk bersaksi di pengadilan. Bahkan, mereka menggalang dana untuk membela para perampok. Dari kejadian itu, kriminologi dan psikiater yang menangani kasus itu menyebut keadaan ini dengan istilah “Stockholm Syndrome”.

Apa Penyebabnya?

Sampai saat ini, peneliti belum menemukan mengapa beberapa sandera mengalami stockholm syndrome, sedangkan yang lainnya tidak. Satu teori menyatakan, ini adalah teknik yang diturunkan dari nenek moyang.

Pada masa peradaban awal, manusia di zaman itu selalu berisiko ditangkap atau dibunuh oleh kelompok sosial lain. Ikatan yang dibangun dengan penculik ini meningkatkan harapan untuk bertahan hidup. Beberapa psikiater evolusi percaya bahwa teknik dari nenek moyang ini pada dasarnya adalah sifat alami manusia.

Teori lain menyebutkan bahwa situasi dari sandera atau korban pelecehan sangat emosional. Orang-orang menyesuaikan perasaan mereka dan mulai berbelas kasih pada pelaku ketika menunjukkan kebaikan dari waktu ke waktu.

Selain itu, dengan bekerja sama dan tidak melawan pelaku, korban dapat mengamankan keselamatannya sendiri. Ketika tidak disakiti pelakunya, korban mungkin akan merasa bersyukur dan bahkan memandang pelakunya manusiawi.

Apa saja Gejalanya?

Dilansir dari berbagai sumber, korban yang mengidap sindrom ini pada umumnya akan memiliki gejala signifikan. Tapi, beberapa gejala juga mirip dengan penyakit mental lain yaitu post-traumatic stress disorder (PTSD), di antaranya:

1. Perasaan positif terhadap para penculik atau pelaku kekerasan.
2. Bersimpati dengan keyakinan dan perilaku penculik.
3. Berprasangka negatif pada polisi atau figur otoritas lainnya.
4. Sering memikirkan masa-masa saat disandera.
5. Selalu mendukung apa yang dilakukan pelaku.
6. Merasa tidak bisa memercayai siapa pun.
7. Selalu curiga.
8. Mudah marah dan tersinggung.
9. Gelisah.
10. Cemas.
11. Tidak dapat bersantai dan menikmati hal-hal yang sebelumnya dinikmati.
12. Kesulitan berkonsentrasi.
13. Merasa seperti tidak berada dalam kenyataan.

Cara Pengobatan

Tidak ada standar untuk penanganan stockholm syndrome. Namun, untuk perawatan gejala PTSD, pengobatannya akan melibatkan psikiater dan konseling psikologi seperti terapi dengan berbincang dan meresepkan obat-obatan antiansietas untuk meredakan kecemasan.

Penderita nantinya juga akan diminta menjalani serangkaian terapi untuk mengatasi trauma. Pada akhirnya, tujuan dari terapi ini akan membantu korban untuk memahami pengalaman dan rasa simpati pada pelaku hanyalah sebatas perjuangan untuk bertahan hidup. Penderita akan didorong untuk belajar dari masa lalu dan terus melangkah maju demi masa depan.

 

 

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim , 
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

Tags: Gejala Stockholm SyndromeIkatan emosional penculik dan sanderaKasus penculikanPenanganan Stockholm SyndromePengertian Stockholm SyndromePenyebab Stockholm SyndromeSindrom korban penculikanStockholm SyndromeStockholm Syndrome adalah
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Jatim

Dindik Jatim Tegaskan Kepala Sekolah Dilarang Terima Titipan Siswa pada SPMB 2026

by Mochamad Abdurrochim
03/06/2026 3:53 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id - Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menegaskan seluruh kepala sekolah SMA, SMK, dan SLB negeri di wilayah setempat dilarang...

LPPM UM.

Kolaborasi LPPM UM X Direktorat Inovasi UM Dorong Hilirisasi Riset Global melalui Pameran AFRASIA 2026

by Dwi Linda
03/06/2026 3:16 PM
0

MALANG, Tugujatim.id — Pusat Sains dan Rekayasa (PSR) di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri...

Pelanggaran Etik Sosial

Pelanggaran Etika Sosial Masih Marak, Tempat Umum dan Medsos Jadi Lokasi Dominan

by Mochamad Abdurrochim
02/06/2026 8:10 AM
0

MALANG, Tugujatim.id – Pelanggaran etika sosial masih kerap ditemukan di tengah masyarakat. Tempat umum dan media sosial disebut menjadi lokasi...

Net Zero Campus.

Perkuat Transformasi, UM Inisiasi Kerja Sama Net Zero Campus dengan Climateworks Centre Monash University

by Dwi Linda
30/05/2026 11:19 AM
0

MALANG, Tugujatim.id - Universitas Negeri Malang (UM) menginisiasi kerja sama dengan program Net Zero Campus dari Climateworks Centre, Monash University,...

Next Post
Polres Pasuruan Kota. (Foto: Laoh Mahfud/Tugu Jatim)

Minimalisasi Kasus Kekerasan Anak, Polres Pasuruan Kota Bentuk Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID