Tugujatim.id – Darah pembaruan yang dititiskan pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan tampak merasuk dalam pikiran Abdul Musawir Yahya. Selama 11 tahun menyelam dan berselancar dalam lautan kaderisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Abdul berkeinginan mewujudkan generasi intelektual dan mandiri sesuai dengan ajaran “Tri Kompetensi Dasar”. Apa gagasan Abdul Musawir Yahya yang diusung untuk membawa perubahan IMM di Muktamar ke-19 nanti?
Meneropong Realitas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam Episentrum Gerakan Pembangunan Pemuda Indonesia
Abdul, sapaannya. Begitulah, semua kawannya memanggil pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini. Pemuda 29 tahun ini sekarang tengah menjadi salah satu kandidat terkuat Calon Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM.
Silir-silir daun yang diembus angin di Panjava English Garden, Malang, Abdul duduk di tengah sekelompok muda-mudi. Halaman per halaman kertas dari buku yang dipegangnya di balik perlahan. Suasana diskusi ini rupanya tak pernah dia tinggalkan di mana pun ketika datang untuk menyapa setiap pemuda. Detik pun menggelinding begitu saja dan mengantar ujung diskusi.
“Suasana ini selalu saya rindukan, diskusi, mendengarkan, dan berpendapat,” celetuk Abdul.
Menurut Abdul, selama 11 tahun menjadi kader IMM, ada tiga hal yang menjadi konsentrasinya. Yakni, bidang akademik, gerakan politik, dan kemandirian ekonomi. Tiga hal ini yang disusunnya sebagai narasi tentang realitas IMM dalam Muktamar IMM ke-19 di Kendari, 21-23 Oktober 2021.

Dengan optimistis, Abdul ingin menawarkan tiga realitas IMM untuk membawa gerbong perubahan di organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang akan memasuki 58 tahun pada Maret 2022.
Pikiran tentang akademik, Abdul menilai perlu adanya pengembangan sumber daya dengan pemenuhan keterampilan dalam menghadapi masa depan. Kecepatan perubahan sosial, Abdul mengatakan, harus bisa dilihat cermat kader IMM se-Indonesia. Tantangan globalisasi teknologi harus bisa dijawab kader IMM.
“Bahkan, kalau hanya ingin bertahan saja, kita harus tetap berubah. Apalagi, kita bercita-cita bisa membawa gerbong perubahan, maka juga harus beradaptasi dan menawarkan gagasan sesuai zamannya. Karena itu, kader harus menyadari perubahan itu dengan mengikuti pelatihan, workshop, atau kegiatan keterampilan yang dapat mengejar perubahan zaman itu,” beber Abdul.
Apa “jembatan” di dalam menentukan kebutuhan akademik kader? Mendapatkan pertanyaan ini, pemuda kelahiran 20 Maret 1992, itu menerangkan bahwa sesuai dengan tiga realitas kader IMM, Abdul berpandangan kader IMM harus terus memperbaiki dan mengikuti perkembangan riset dalam bidang keilmuan apa pun.
“Riset ini sangat penting, termasuk pemutakhiran metariset dalam jurnal semua keilmuan, sosial, maupun saintek,” ungkap ayah dari Naira Aksara Yahya ini.
Masih ada dua konsentrasi lain yang dibawa Abdul Musawir dalam membawa gerbong perubahan di tubuh IMM. Kecermatan Abdul dalam melihat gerakan politik IMM ternyata mendapatkan perhatian khusus dari alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dia mengatakan, bukan pada politik praktis. Dia menitikberatkan pada nilai politik kemanusiaan yang harus diperjuangkan kader IMM.

Dia mencontohkan dalam kehidupan demokrasi di Indonesia. IMM sebagai salah satu motor kemahasiswaan yang mendorong perbaikan kehidupan demokrasi akan terus memberikan kontrol sosial untuk pemerintah. Jadi, kader IMM diharapkan dalam menjadi opinion leader dalam narasi berkebangsaan.
“Kami mengawal banyak sekali kebijakan, kajian, dan pembacaan tentang kondisi politik nasional harus membuka mata setiap kader IMM untuk mengkritisi kebijakan yang lahir dari pemerintah. Sebab, dalam berbangsa ini sangat dibutuhkan kemesraan sosial untuk membangun peradaban Indonesia yang didasari Bhinneka Tunggal Ika,” terang Abdul.
Setelah dua realita ini dilihat secara jernih, Abdul menegaskan perlu adanya kemandirian ekonomi untuk kader IMM. Kemandirian ekonomi perlu dinilai Abdul Musawir Yahya dalam pencalonannya sebagai calon Ketua Umum DPP IMM periode 2021-2023.
Kemelekan atau literasi tentang pengembangan bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus bisa ditangkap kader IMM sebagai tantangan alternatif dalam menerjemahkan kemandirian ekonomi. Jadi, fasilitasi dunia ekonomi dalam bentuk pendampingan kewirausahaan menjadi sangat relevan untuk dilakukan DPP IMM dalam memberdayakan kader IMM di Indonesia.
“Dari ketiga realitas tersebut, saya memiliki komitmen untuk melakukan sebuah perubahan di IMM yang nantinya akan dirumuskan dalam sebuah visi misi dan akan di-breakdown ke sebuah program kerja. Dengan harapan IMM akan menjadi episentrum gerakan dalam membangun Indonesia yang lebih maju,” tegas Abdul Musawir. (*)