Apakah Gagasan Dominan Otak Kanan dan Kiri Benar?

  • Bagikan
Otak kanan dan otak kiri. (Foto: Pixabay)
Otak kanan dan otak kiri. (Foto: Pixabay)

Tugujatim.id – Apakah kamu tipe orang pemikir logis dan teliti atau kamu orang yang lebih bebas dan berjiwa artistik? Jika kamu memilih yang pertama mungkin seseorang pernah mengatakan bahwa kamu adalah tipe orang otak kiri. Begitu pula jika kamu memilih pilihan kedua maka kamu adalah orang yang dominan otak kanan. Bahkan ada terapi yang mengklaim bisa membantu untuk mengoptimalkan bagian otak yang lebih dominan dan lebih berdamai dengan bagian otak yang lemah.

Gagasan bahwa otak bagian kanan adalah bagian yang kreatif sedangkan otak kiri adalah bagian logis hanyalah sebuah mitos belaka. Apalagi hal ini disambungkan dengan sifat dan karakteristik seseorang semakin menambah bumbu yang tidak benar dalam gagasan ini. Meskipun jelas bahwa kita memiliki kepribadian dan bakat yang berbeda, tidak ada alasan untuk percaya bahwa perbedaan ini disebabkan oleh dominansi separuh otak terhadap separuh lainnya.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Baca Juga: 5 Trik Pencarian Google Andalan untuk Browsing Lebih Tepat

Penelitian yang menggunakan brain imaging technology juga belum ada yang menemukan dominasi dari otak kanan atau kiri. Salah satu kesalahan fatal dari mitos ini adalah konsepsi samar yang dijelaskan mitos ini terhadap suatu fenomena. Misalnya, Matematika membutuhkan pemikiran logis sehingga dikaitkan dengan otak kiri dan berlawanan dengan otak kanan yang penuh dengan seni.

Padahal faktanya, Matematika juga membutuhkan sebuah upaya kreatif dalam memecahkan masalahnya. Hal ini juga berlaku untuk sebuah karya seni artistik yang bukan hanya soal emosi seni. Ada banyak karya seni besar yang merupakan hasil pemikiran cermat dan teliti. Daripada sekedar memisahkan kerja otak menjadi dua bagian kanan dan kiri, otak kita akan berfungsi jauh lebih maksimal secara satu kesatuan.

Lantas mengapa masih banyak orang yang mempercayai gagasan otak kanan dan otak kiri? Hal ini bisa dihubungkan dengan kecenderungan kita yang suka mengkategorikan diri ke dalam kelompok tertentu berdasarkan karakteristik emosional dan intelektual kita.

Baca Juga: Kaleidoskop Internasional 2020: Kebakaran Hutan Australia hingga Ledakan Beirut

Kebanyakan tes seperti tes kepribadian Myers-Briggs memiliki cara kerja yang mirip seperti horoskop. Tes semacam ini menimbulkan fenomena psikologis yang dikenal Efek Barnum. Artinya ketika seseorang disajkan deskripsi individual tentang kepribadian mereka, ada kecenderungan untuk menerimanya sebagai sesuatu yang bermakna dan benar, terutama jika pernyataannya positif.

Pada intinya, gagasan otak kanan dan otak kiri menjadi mitos yang populer karena gagasan ini membahas topik yang kita sukai: tentang diri kita. (Andita Eka W)

 

Referensi: britannica.com & health.harvard.edu

  • Bagikan