Apel dan Malang Raya, Dua Sisi Mata Uang yang Tak Terpisahkan

  • Bagikan
apel malang
Ilustrasi apel malang. (Foto: Wikipedia)

Apel dan Malang ibarat dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berkaitan seperti dua sisi mata uang. Apabila berbicara terkait daerah penghasil apel di Indonesia, jawabanya tentu adalah Malang. Demikian pula saat berkunjung ke Malang, rasa-rasanya belum afdol bila belum menikmati apel dan membawanya untuk oleh-oleh.

Apel juga memiliki banyak manfaat di antaranya seperti membantu sistem pencernaan, menyehatkan mata, membuat kulit lebih halus, dan tinggi akan kandungan antioksidan.  Mayarakat tidak akan kesulitan mencari apel di Malang, karena banyak kios-kios yang menjual buah ini, misalnya di kios pinggir jalan, pasar tradisional, pasar modern, dan pusat oleh-oleh. Bahkan, masyarakat bisa memetik langsung di perkebunan yang dikelola menjadi tempat pariwisata.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Baca JugaModus Investasi Tembakau, Biduan Asal Malang Kena Tipu Rp 350 Juta

Apabila ditelisik sejarahnya, apel Malang dibawa oleh orang-orang Belanda daari Australia ke Indonesia pada tahun 1930. Apel ini pada mulanya ditanam di daerah Nongkojajar (Kabupaten Pasuruan). Kemudian sejak tahun 1960 tanaman ini sudah banyak ditanam di daerah Malang dan Batu.

Apel ini lebih banyak ditanam di dataran tinggi Jawa Timur khususnya Malang Raya karena iklim yang lebih sejuk dan kering. Daerah inipun akhirnya menjadi sentra produksi dan pengolahan apel di Indonesia. Ada berbagai jenis apel yang ditanam di wilayah ini, yakni manalagi, Rome Beauty, Granny Smith, Anna, dan Wanglin. Setiap jenis apel memiliki ciri khas tersendiri dan apel manalagi merupakan salah satu jenis apel yang paling terkenal serta paling banyak banyak diminati oleh masyarakat.

Apel Manalagi merupakan salah satu jenis apel yang banyak ditemukan di Indonesia. Apel ini juga dikenal sebagai apel Malang karena banyak ditanam di wilayah Malang Raya. Apel ini merupakan spesies buah berupa apel liar dari genus Malus. Nama ilmiah ini berarti “apel hutan” karena sering tumbuh secara liar di hutan dengan ketinggian dan iklim tertentu.

Baca Juga: Polisi Bekuk Sindikat Senjata Api di Malang, Sita Belasan Pucuk Pistol

Apel manalagi memiliki mahkota bunga yang melebar dan seringkali terlihat seperti semak dibanding pohon. Tanaman ini bisa hidup 80-100 tahun dengan tinggi sampai 10 meter dan diameter batang 23—45 cm. Bentuk apel ini bulat dengan ujung pangkal berlekuk datar. Apel manalagi memiliki rasa yang manis serta daging buahnya sedikit keras dan bertekstur liat. Warna buah ini hijau kekuningan dan aromanya harum. Apel ini juga memiliki daya simpan yang cukup lama, yakni sekitar 1 bulan.

Perkembangan zaman tentu memengaruhi segala sektor, salah satunya adalah sektor pangan. Apel yang dulunya hanya dinikmati secara langsung dalam bentuk buah, kini bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Olahan apel tersebut misalnya seperti keripik, dodol, apel, asinan, hingga minuman kemasan. Hal ini tentu membuat olahan apel bisa didistribusikan ke seluruh Indonesia. Masyarakat yang rindu akan cita rasa apel khas Malang pun tidak merlu jauh-jauh pergi ke Malang. Meskipun demikian apel dan Malang tetap seperti dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

 

Penulis: Sindy Lianawati
Editor: Gigih Mazda

  • Bagikan