Belajar dari Mbak Dewi

  • Bagikan
Dari kiri, General Manager (GM) tugumalang.id Fajrus Sidiq, CEO Tugu Media Group Irham Thoriq, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, GM tugujatim.id Bayu Eka Novanta dan Kepala Biro Kediri Rino Hayyu S. (Foto: Dokumen)
Dari kiri, General Manager (GM) tugumalang.id Fajrus Sidiq, CEO Tugu Media Group Irham Thoriq, Wakil Bupati Kediri Dewi Mariya Ulfa, GM tugujatim.id Bayu Eka Novanta dan Kepala Biro Kediri Rino Hayyu S. (Foto: Dokumen)

Oleh Irham Thoriq*

KEDIRI, Tugujatim.id – Kami belajar kesederhanaan dari Dewi Mariya Ulfa, Wakil Bupati Kediri. Kita belum pernah kenal sebelumnya, tapi disambut dengan sangat baik ketika saya bersama dengan tim Tugu Media Group (tugumalang.id dan tugujatim.id) bersilaturahim kepada Mbak Dewi-demikian dia akrab disapa, Kamis, 10 Juni 2021 lalu.

Saya sebelumnya tahu sedikit sepak terjangnya dari beberapa berita. Juga dari Sony Eko Setiono, teman kuliah saya, yang kebetulan bantu-bantu Mbak Dewi saat kampanye. Di sejumlah media, dalam Pilkada serentak beberapa bulan lalu, Kabupaten Kediri cukup sering diberitakan.

Ini setidaknya ada dua alasan kenapa media sering memberitakan Pilkada di Kabupaten Kediri. Pertama, karena di Kabupaten Kediri hanya ada calon tunggal yakni pasangan Hanindihito Himawan Pramana dan Dewi Mariya Ulfa. Faktor kedua, karena Hanindhito tak lain adalah anak dari politikus senior yang juga sekretaris Kabinet Kerja Pramono Anung.

Sedangkan dari sejumlah status Sony Eko Setiono, saya sering mendapati kalau dia memuji Mbak Dewi yang sederhana, apa adanya, tidak jaim, sebagaimana sejumlah pejabat.

Dan kesederhanaan itu, kami dapati ketika kita bersilaturahim ke Mbak Dewi. Mula-mula, kami yang tiba terlambat di ruang kerjanya, disambut dengan sangat ramah.”Owh ini yang temannya Sony ya,” kata Dewi Mariya ketika saya memperkenalkan diri.

Ketika itu, kami sekitar 20 menit di ruang kerjanya. Mbak Dewi harus ikut serta menemui Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan sejumlah pejabat lain yang lagi melakukan kunjungan di Kediri. Ketika itu, Mbak Dewi mohon maaf karena harus segera geser. Dia berjanji akan mengajak kami ngopi setelah acaranya selesai.

Betul. Setelah acara selesai, beliau mengontak Rino Hayyu S, Kepala Biro tugujatim.id di Kediri. Lantas, kami bertemu di rumah dinas Mbak Dewi, yang menurut kami rumah itu cukup minimalis dan sederhana untuk ukuran Wakil Bupati.

Dalam pertemuan sore hari di rumah dinas yang suasananya cukup sepi itu, Mbak Dewi melanjutkan cerita siang ketika kami bertemu di kantornya. Salah satu yang banyak diceritakan Mbak Dewi adalah, proses dipilihnya dia sebagai calon wakil bupati, mendampingi Hanindhito.”Benar-benar tidak menyangka, sebelumnya tidak pernah terpikirkan sama sekali,” katanya.

Ya, jauh sebelum terjun di dunia politik, dia adalah bankir yang bertugas di Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN). Selain bekerja sebagai seorang bankir profesional, alumnus Institut Teknologi Sepuluh September (ITS) ini juga menjabat sebagai Ketua Fatayat NU Kabupaten Kediri.

Dia tidak menyangka dia yang terpilih, karena banyak di luar sana yang ingin menjadi Calon Wakil Bupati mendampingi Hanindhito Himawan Pramana.”Saat itu ada yang minta berkas, saya bilang, ini serius tah, karena waktu itu saya tidak terpikir dan masih menjadi pegawai bank,” imbuhnya.”Kayak mimpi, saya yang dipilih, padahal yang ngotot banyak untuk jadi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut dia juga menjelaskan banyak yang kecewa setelah dia terpilih.”Tapi ya saya maklumi, karena banyak yang siap-siap tapi tidak terpilih, tapi saya yang ingin saja tidak, justru terpilih,” imbuh perempuan 40 tahun ini.

Bahkan, sebelum mencalonkan diri di Pilkada, Dewi belum pernah kenal sebelumnya dengan Hanindhito.”Waktu itu prosesnya benar-benar senyap, dan saya dapat banyak arahan dari Anggia Armarini (anggota DPR RI), saya harus bagaimana dan lain-lain dapat banyak arahan dari beliau, yang sudah saya anggap ibu sendiri,” jelasnya.

Di sela-sela obrolan, saya bertanya kepada Mbak Dewi, enak mana menjadi pegawai Bank dengan wakil bupati.”Ya beda, kalau pegawai bank-kan bekerja untuk diri kita sendiri, kalau wakil bupati bekerja untuk orang banyak, memberi manfaat untuk orang banyak,” imbuhnya.

Di sela-sela obrolan, Mbak Dewi memberi kami berempat nasi kotak. Usai menyantap hidangan dan ngobrol ngalor ngidul yang begitu akrab, seperti orang yang sudah lama kenal, kami pamit ke Mbak Dewi.

Dari Mbak Dewi, kami setidaknya belajar tentang takdir, kerendahan hati, dan sikap mengalir tanpa ambisi. Dengan tanpa ambisi, kita bisa meraih apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.

 

catatan Irham Thoriq, CEO Tugu Media Group. (Ilustrasi: Dicky Hanafi/Tugu Jatim)

*Penulis adalah CEO Tugu Media Group (tugumalang.id dan tugujatim.id)

  • Bagikan