Belajar dari Sosok Al-Ghazali

  • Bagikan
Miski Mudin/Dok/Tugu Jatim
Miski Mudin/Dok/Tugu Jatim

Oleh: Miski Mudin, Dosen Hadits UIN Maliki Malang

Tugujatim.id – Suatu ketika, salah seorang murid sebuah perguruan tergopoh-gopoh mendatangi kediaman gurunya. Dia jengkel. Tak ada senyum sedikit pun di mukanya. Dadanya terasa sesak. Mukanya merah padam.

Di hadapan sang guru, dia menceritakan semuanya. Tak ada yang tersisa. Tentu saja dia puas. Plong. Tapi, apa respons sang guru mendengar semua ceritanya?

BANNER DONASI

“Santai saja. Jangan terlalu diambil hati. Orang iri selalu ada. Di mana-mana.”

Kira-kira begitu gambaran kisah singkat versi zaman now yang memicu lahirnya karya penting Faishal al-Tafriqah (cetakan Dar al-Minhaj, Bairut, 2017) di tangan al-Ghazali.

Buncahan amarah sang murid bisa dimengerti. Bayangkan, gurunya yang paling dihormati, al-Ghazali, direndahkan sedemikian rupa. Disesatkan. Bahkan dikafirkan. Padahal, persoalannya sepele. Hanya terkait hal-hal kecil tentang pikirannya yang dinilai menyalahi pemikiran sebagian penduhulunya dan berbeda dengan sebagian tokoh teolog lainnya.

Siapa yang tak kenal al-Ghazali? Tokoh penting dunia Islam. Multitalenta. Ragam keilmuan besar dikuasai dengan baik. Disebut-sebut pakar dalam keilmuan hukum Islam, teologi, tasawuf, dan sebagainya. Peran dan kontribusinya sama sekali tak bisa dilihat sebelah mata. Tapi, hal tersebut tak lantas membuatnya bebas begitu saja. Di berbagai sudut kehidupannya, ada banyak pasang mata yang selalu mengintai. Melempar tatapan sinis. Mencari titik lemah dengan bibir yang siap komat-komit penuh nyinyir.

Faishal al-Tafriqah sebagai Sebuah Cermin

Karya ini relatif sangat tipis. Tak ada apa-apanya dibandingkan Ihya’ ‘Ulumuddin yang sampai berlembar-lembar dan berjilid-jilid. Konon, nyinyiran terhadap al-Ghazali yang sampai menyulut amarah murid terdekatnya berkaitan dengan karya monumental ini. Tentu saja, al-Ghazali bukan kita yang sekali dinyinyirin langsung drop dan down sampai ke lapisan bumi terendah. Serasa dunia berhenti berputar. Al-Ghazali justru sebaliknya. Dia tak memilih naik pitam hanya karena harga dirinya yang diinjak-injak.

“Tak ada seorang pun yang lebih sempurna dan lebih cerdas dibandingkan Nabi Muhammad. Tapi, beliau justru dihujat dan disebut gila, kan? Tak ada pernyataan apa pun yang lebih agung dan lebih benar dibandingkan Al-Qur’an. Tapi, saat dia diturunkan, justru disebut sebagai dongeng masa lalu, kan?” salah satu responnya pada sang murid (hlm. 45). Dia tenang dan menenangkan.

Ya, saat itu al-Ghazali hidup di tengah-tengah masyarakat yang tak semuanya berani berbeda dan siap menerima perbedaan. Berbeda sedikit saja berarti harus siap dengan konsekuensi yang tak sederhana: diberi label sesat atau bahkan kafir. Fanatisme kelompok disadari sepenuhnya oleh al-Ghazali sebagai salah satu pemicu utama fenomena tersebut.

Bagi al-Ghazali, bila ada orang yang mengira bahwa batas kekafiran ada pada keyakinan yang menyalahi mazhab Asyari, Muktazilah, Hanbali, dan lain-lain, jelas bebalnya keterlaluan (ghirrun balidun). Dia dibutakan oleh fanatisme (baca: taklid). Sejatinya dia lebih buta dari orang yang benar-benar buta. Percuma memberinya wejangan. Hanya akan buang-buang waktu. Tak akan pernah mempan. Sampai kapan pun (hlm. 49).

Berebut Kebenaran

Satu paragraf di atas merupakan narasi sederhana dari al-Ghazali tentang sikap kritis. Dia mempertanyakan adanya sikap fanatik berlebihan terhadap sosok Asyari hingga memosisikannya sebagai parameter kebenaran. Sikap ini jelas bermasalah. Begitu ketegasannya.

Menurut al-Ghazali, mengasosiasikan kebenaran dengan satu sosok tertentu cenderung lebih dekat pada dua hal: pertama, kekafiran. Sebab, dengan begitu, berarti dia sudah memosisikan sosok tersebut seperti nabi yang terjaga dari kesalahan. Konsekuensinya, harus diimani. Bila tidak, bisa terjatuh dalam kekafiran. Kedua, dekat dengan sikap yang kontradiktif, memaksa orang lain memiliki persepsi dan penafsiran yang sama dengan dirinya (hlm. 50-52).

Dalam karya tersebut, dengan sangat lugas al-Ghazali menggambarkan bagaimana truth claim itu eksis. Masing-masing kelompok mengklaim dirinya pasti benar. Imbasnya, mereka pun menuding kelompok lain sebagai kelompok keliru bahkan kafir. Seorang penganut Hanbali mengafirkan penganut Asyari; pun demikian sebaliknya. Seorang penganut Asyari mengafirkan penganut Muktazilah; pun demikian sebaliknya. Saling mengafirkan dengan alasan-alasannya masing-masing (hlm. 56).

Tak hanya itu, di bagian lain dalam karya tersebut ada ulasan yang tak kalah menarik, yakni tentang jenis golongan manusia dalam menerima dakwah nabi. Bagi dia, orang yang tidak beriman sekalipun tetap bisa menjadi penghuni surga. Nantinya, dia memberi contoh orang yang sejak kecil hanya mendengar cerita tentang Nabi Muhammad secara keliru. Misalnya, info yang dia dapatkan sebatas, “Ada seseorang pembohong. Bernama Muhammad. Dia ngaku-ngaku sebagai Nabi.”

Menurut al-Ghazali, orang jenis ini sama dengan orang yang sama sekali tak mendapatkan info kebenaran apa pun tentang Nabi Muhammad. Sebaliknya, yang dia dapatkan justru info tentang sifat-sifat yang sebaliknya. Dalam hal ini, orang tersebut bisa dimaafkan (hlm. 103).

Apa yang bisa kita Pelajari?

Paparan di atas hanya cuplikan-cuplikan. Tak mengakomodasi keseluruhan isi Faishal al-Tafriqah. Tapi, melalui cuplikan-cuplikan tersebut, ada banyak pelajaran yang bisa didapatkan dari sosok al-Ghazali. Terutama dari kelahiran Faishal al-Tafriqah. Masing-masing dari kita bisa mendapatkan pelajaran yang berbeda-beda. Sesuai poin-poin inti yang menjadi fokusnya. Tapi, dalam ruang multikultural, mungkin beberapa poin berikut menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Pertama, kita tak perlu kagetan. Selama hidupnya di dunia ini, perbedaan selalu terbuka lebar. Tak hanya perbedaan yang sehat yang bisa ditemukan, perbedaan yang tak sehat pun tersedia. Perbedaan yang akhirnya hanya melahirkan nyinyiran bahkan tudingan kafir. Sikap kagetan hanya akan membuat suasana hati semakin runyam. Dari sosok al-Ghazali ini, kita bisa belajar menyadari keadaan, tetap tenang, latihan berjiwa besar, selalu legowo dan siap sedia menghadapi sesuatu yang tak mengenakkan.

Kedua, perbedaan itu niscaya. Selalu begitu. Sampai kapan pun. Dalam situasi tertentu, menutup ruang perbedaan rapat-rapat hanya akan membuka pintu konflik yang berkepanjangan. Tak jarang hanya akan seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Melahap habis. Semuanya. Karena titik penting dari adanya perbedaan adalah kesiapan menerima masukan dari yang lain. Bukan menganggap diri sebagai satu-satunya kebenaran. Dari poin ini kita pun bisa belajar untuk tetap kritis. Termasuk kritis pada sesuatu yang sejak awal kita yakini sebagai kebenaran. Bagaimanapun, al-Ghazali adalah pengikut teologi Asyari dan menjadi salah satu pembesar di masanya. Tapi hal tersebut tak mengekangnya untuk tetap bersikap kritis.

Ketiga, ini yang tak kalah penting. Jangan memonopoli kebenaran. Jangan pula memonopoli surga. Surga terlalu luas untuk ditempati sendirian. Begitu pernyataan bijak sesepuh kita. Benar, surga itu milik Allah. Dia berhak memasukkan siapa pun ke dalamnya. Bukan rumah kapling kita. Bukan pula wilayah kekuasaan otonom kita. Melalui argumen sederhana al-Ghazali di atas, kita jadi tersadar, memang ada orang-orang tertentu yang tak tahu apa pun tentang sosok Nabi Muhammad kecuali keburukan. Tentu saja ini problem kesalahan informasi. Dalam kondisi seperti ini, di tengah situasi yang tak memungkinkan untuk mencari tahu lebih jauh tentang “kebenaran”, pantas saja pada akhirnya dia bersikukuh menolak “kebenaran” versi kita. Jelas, ketidaktahuannya bisa menyelamatkannya.

Statemen al-Ghazali ini memang sangat berani. Apalagi di masa itu. Apalagi ini masuk kategori wacana yang sensitif: wilayah teologis. Lagi-lagi, perlu belajar dari al-Ghazali untuk tidak mudah menyalahkan, menyesatkan, apalagi sampai mengafirkan.

Tapi, jika dipikir-pikir lagi, tampaknya, bagian terpenting dari poin paling akhir ini bukan pada keberaniannya menyuarakan hal yang tak terpikirkan atau dinilai tabu oleh orang lain. Melainkan bagaimana caranya agar kita tidak menjadi media yang turut mencitrakan buruk agama yang kita yakini dan tiap waktu dijunjung tinggi. Dicitrakan buruk melalui perilaku-perilaku tak baik kita. Kan, tak elok bila semakin hari perilaku kita justru semakin menguatkan pernyataan bahwa “Kemuliaan Islam tertutupi oleh umatnya sendiri.” (*)

  • Bagikan