Belum ke Banyuwangi, Kalau Belum ke Waroeng Kemarang - Tugujatim.id

Belum ke Banyuwangi, Kalau Belum ke Waroeng Kemarang

  • Bagikan
Banyuwangi. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Dari kiri, CEO Tugu Media Group Irham Thoriq, Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana, dan owner Waroeng Kemarang Wowok Meirianto. (Foto: Dokumen)

BANYUWANGI, Tugujatim.id – Safari silaturahim selama 15 jam nonstop di Banyuwangi di 10 titik berbeda dalam sehari, membuahkan kepuasan batin bagi Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana dengan CEO Tugu Media Group Irham Thoriq (yang membawahi www.tugujatim.id dan www.tugumalang.id).

Dalam lawatan yang digelar Senin lalu (22/11/2021), selain mengunjungi sejumlah pejabat, juga mengunjungi sejumlah pengusaha. Salah satunya adalah Waroeng Kemarang yang berada di Jalan Perkebunan Kalibendo, KM 5, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.

Banyuwangi. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Lukisan nan indah ada di Waroeng Kemarang, Banyuwangi. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

Ketika itu, kami tiba di Kemarang saat panas baru beranjak datang di kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu. Kami disambut langsung Wowok Meirianto, pemilik Waroeng Kemarang, yang juga pensiunan perusahaan global Chevron Indonesia. Kami dikenalkan oleh Manager UP3 PLN Malang Krisantus H. Setyawan yang sebelumnya bertugas di Banyuwangi.

”Wah, beliau itu orang baik, karena beliau saya menjadi cinta pada PLN,” kata Wowok Meirianto membuka pembicaraan.

Banyuwangi. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Suasana di Waroeng Kemarang, Banyuwangi, yang asri bernuansa pedesaan. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

Ketika itu, kami bercerita panjang lebar, khususnya tentang Waroeng Kemarang yang grand launching-nya pada 16 Juni 2018. Tak tanggung-tanggung, grand launching waktu itu dihadiri langsung Menteri Pariwisata RI ketika itu, yakni Arief Yahya.

Ada banyak daya tarik yang kami saksikan saat berkunjung di warung makan khas osing Banyuwangi ini. Salah satu yang menggoda adalah sajian kulinernya yang benar khas pedesaan.

Ketika itu, kami disajikan Pecel Pitik. Sesuai namanya, makanan ini terdiri dari suwir ayam yang berlumur bumbu pecel. Ada juga ayam uyah asem, yakni masakan ayam dengan kuah yang menggoda selera. Ketika diseruput, hemm… sedap sekali. Sedangkan untuk camilannya, yang begitu favorit adalah kucur.

Banyuwangi. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)
Suasana di Waroeng Kemarang yang dimiliki oleh Wowok Meirianto dan dikelola bersama keluarga dan puluhan karyawannya. (Foto: Irham Thoriq/Tugu Media Group)

”Misi kami adalah menciptakan destinasi kuliner yang sederhana, nyaman, enak, dan terjangkau. Makanya, dari berbagai kelas sosial datang ke sini. Selain menyajikan masakan mewah, kami juga ada kopi seharga tiga ribu rupiah. Jadi, siapa pun bisa datang ke sini,” kata Wowok yang mengaku banyak terinspirasi dengan Chevron dalam mengembangkan usaha ini.

Selain soal makanan, Waroeng Kemarang juga mempunyai joglo dengan arsitektur rumah adat terbesar di Banyuwangi. Bangunan tersebut luasnya sekitar satu setengah lapangan futsal. Karena itu, para tamu yang berkunjung ke sini bisa nyaman. Terlebih, di samping kanan, sawah menghampar begitu luasnya.

Banyuwangi. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Aqua Dwipayana (kiri) mengobrol dengan Wowok Meirianto di Waroeng Kemarang.(Foto: Dokumen)

Waroeng Kemarang yang mempunyai luas sekitar 12 ribu meter persegi ini bukan hanya tempat makan. Saat itu, kami yang diajak berjalan-jalan, begitu menikmati suasananya. Kurang lebih, seperti suasana pedesaan di Ubud, Bali.
Tidak jauh dari tempat kami makan siang, ada galeri lukis. Selain itu, ada juga joglo-joglo sebanyak 30 buah. Joglo ini cukup memuat sekitar 5-7 orang. Dengan demikian, pengunjung bisa makan di joglo ini bersama keluarga dan kolega, ditemani semilir angin yang sejuk.

Selain itu, ada juga panggung Amprok Gandrung yang cukup besar. Di tempat ini, juga sering ada penampilan kesenian khas Banyuwangi. Ada juga Vila Kemarang yang tidak jauh dari rumah makan.

”Makanya orang menyebut Kemarang ini bukan hanya warung, tapi lebih dari itu,” imbuh Wowok yang merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Banyuwangi. (Foto: IG Waroeng Kemarang/Tugu Jatim)
Suasana di Waroeng Kemarang, Banyuwangi, tampak asri. (Foto: IG Waroeng Kemarang)

Dalam membangun Waroeng Kemarang ini, ada sejumlah niat baik yang dipegang Wowok. Salah satunya, dia ingin membuktikan bahwa desa itu sebenarnya cukup berdaya dengan segala potensinya. Karena inilah, Waroeng Kemarang mengusung konsep pedesaan.

Selain itu, Waroeng Kemarang juga seperti menggambarkan buku biografi Wowok yang berjudul “Kembali ke Desa”.

”Apalagi Banyuwangi ini mempunyai kesenian dan kebudayaan yang luar biasa, melalui tempat ini kami ingin melestarikan itu,” imbuh pria yang sudah mendirikan kurang lebih 14 unit usaha ini.

Banyuwangi. (Foto: IG Waroeng Kemarang/Tugu Jatim)
Suasana di Waroeng Kemarang, Banyuwangi. (Foto: IG Waroeng Kemarang)

Meski saat ini Waroeng Kemarang baru berumur tiga tahun, tapi sudah banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Bahkan, sebelum pandemi, rata-rata pengunjung setiap bulan mencapai 7.000 orang.

Saat ini ada sekitar 40 pegawai di Waroeng Kemarang. Sebelum pandemi, total ada 60 pegawai.

”Semoga segera normal kembali sehingga kami bisa membuka lapangan kerja lebih banyak lagi,” kata pria yang sudah melancong ke sekitar 12 negara ini.

Karena begitu memikatnya Waroeng Kemarang ini, kami bertiga pun sepakat, kalau ke Banyuwangi belum ke Waroeng Kemarang, berarti “sejatinya” belum mengunjungi Banyuwangi.

”Nah, saya sepakat, belum ke Banyuwangi, kalau belum ke Waroeng Kemarang,” kata Dr Aqua Dwipayana.

 

*Penulis adalah CEO Tugu Media Group

  • Bagikan