MAKKAH, Tugujatim.id – Di dua kota suci: Makkah dan Madinah, ada ribuan orang asal Indonesia yang hidup dari ekosistem umrah. Mulai dari menjadi juru masak, mutowif (pembimbing ibadah), sopir bus, jualan makanan, hingga mendorong kursi roda. Berikut sedikit cerita dari perjuangan mereka. Jurnalis dan CEO Tugu Media Group mewawancarai mereka di sela program umrah bersama Chatour Travel dan Tugu Media Group. Ini adalah catatan seri ke-12.
Badan saya pegal-pegal setelah dalam beberapa hari keliling area Masjid Nabawi, Madinah. Tentu saja, tidak hanya untuk ibadah, tapi juga untuk mencarikan oleh-oleh keluarga di rumah. Konon, oleh-oleh di Madinah, lebih murah daripada di Makkah.
Karena badan capek semua, tentu ketika Ferdiansyah Tedy Wibowo menawarkan jasa pijatannya, saya tidak bisa menolak. Tedy yang sedang main ke kamar saya itu, lantas memijat seluruh badan saya. Mulai dari kaki hingga kepala.
Sekitar satu jam dia memijat. Badan langsung segar semua. Pegal-pegal di kaki hilang.
”Sebelum berangkat ke sini sudah belajar pijat,” kata Tedy Wibowo memulai obrolan.
Saya baru bertemu pertama kali ini dengan Tedy Wibowo. Dia adalah pria asal Sumberpucung, Kabupaten Malang. Baru satu bulan ini dia berada di Arab Saudi, khususnya di Makkah dan Madinah untuk bekerja.

Tedy menghubungi saya karena dapat nomor saya dari Sidiq, teman dia saat nyantri di Pesantren Rakyat, Sumberpucung, yang didirikan kakak kelas saya saat di Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang yakni KH Abdullah Sam.
Tedy menghubungi saya karena saya aktif memposting status soal umrah. Dan, seperti itulah salah satu kerja Tedy yakni membangun jaringan dari mulut ke mulut. Terlebih, Tedy baru satu bulan di Makkah.
”Saya diajak kakak saya, yang sudah satu tahun ke sini,” katanya.
Lalu, apa kerja Tedy? dia menjawab serabutan. Mulai dari menjadi tukang pijat, pendorong kursi roda, dan lain sebagainya.

”Pokoknya apa pun yang bisa membantu jemaah umrah dan itu menghasilkan uang, saya sikat. Kalau kakak saya spesialis jualan Al-Qur’an, yakni orang yang mau wakaf Al-Qur’an di Masjidilharam, dilayani oleh kakak saya, fokus di situ,” ucap suami dari Firza Syaiba Asnha ini.
Awalnya, Tedy diajak kakaknya untuk bekerja sebagai karyawan kakaknya. Bayarannya juga lumayan yakni kurang lebih Rp8 juta dalam sebulan.
”Tapi saya senang bangun jalan sendiri, makanya serabutan juga di sini sambil ikut saudara,” tambah pria dua orang anak ini.
Kata Tedy, dalam bekerja dia cenderung mengandalkan tenaganya sendiri. Seperti memijat dan mendorong kursi roda. Semua perlu tenaga. Selain itu, yang paling penting juga jaringan.
”Makanya di awal-awal saya kasih pijat gratis mutowif (pembimbing ibadah umrah), agar mereka merekomendasikan jasa saya ke jemaahnya,” imbuhnya.
Kata Tedy, membangun jaringan ke ekosistem umrah sangatlah penting. Ekosistem umrah yang dimaksud adalah semua orang yang bekerja di bidang jasa umrah mulai dari mutowif, tour leader (TL), dan lain sebagainya.
Lalu, berapa tarifnya? Untuk pijat, dia menarif minimal 50 Riyal untuk pijat kurang lebih satu jam. Untuk uang Indonesia, kurang lebih Rp250.000.
Tedy sendiri bekerja di Makkah-Madinah karena saat di Indonesia, dia beberapa kali membuka usaha dan merugi.
”Karenanya ada utang yang harus dibayar, makanya ini berjuang, selain juga ingin keluar negeri dari awal,” katanya.
Sempat, Tedy mendaftar kerja ke Korea Selatan, tapi tidak kunjung berangkat.
”Lalu ada tawaran dari kakak dengan gaji Rp8 juta, coba bayangkan di Indonesia harus punya jabatan yang tinggi untuk bisa dapat gaji segitu,” imbuhnya.
Bagi yang sedang di Makkah atau Madinah, dan ingin memakai jasa Tedy, bisa mengirim pesan ke Tedy melalui Facebook-nya yakni Ferdiansyah Tedy atau di WhatsApp +62-857-0659-5239.
Kisah Mutowif Gagal Tanam Bawang, Kini Bisa Bangun Rumah
Cerita menarik juga datang dari Ustad Mujib, seorang mutowif yang membimbing kita selama di Makkah.
”Saya ke sini tahun 2021. Ke sini karena utang. Saya dulu sempat punya utang Rp200 juta,” katanya.
Sebelum 2021, dia melakoni banyak usaha di Pamekasan, Madura. Sayangnya, beberapa usahanya bangkrut.
”Salah satunya menanam bawang merah, tapi gagal,” katanya.

Karena kegagalan demi kegagalan itulah, dia lantas ingin ke Makkah untuk menjadi mutowif.
”Kebetulan saat baru lulus kuliah, saya dulu kerja seperti ini tapi bagian handling di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta,” kata alumnus UIN Jakarta ini.
Kurang lebih empat tahun berjuang di negeri orang, alhamdulillah saat ini utang Mujib lunas.
”Juga bisa membangun rumah dan beli mobil di desa,” katanya.
Bagi Mujib, kerja seperti dirinya yang perlu diutamakan adalah kepercayaan dan jaringan.
”Jangan sampai orang kecewa dengan layanan kita,” ucapnya.
Mujib sendiri jasanya di bidang mutowif, artinya yang order dia adalah biro travel. Selain itu, dia juga buka layanan badal umrah. Jadi, seseorang yang ingin mengumrahkan keluarganya yang sudah wafat, bisa memakai jasa Mujib.
”Biayanya sekitar Rp1,5 juta,” katanya.
Selain itu, dia juga buka jasa layanan jasa titip (jastip) seperti makanan dan parfum.
”Dan bisa juga kadang orang minta didoakan dari tanah haram, lalu transfer uang,” katanya.
Untuk jasa mutowif, biasanya Mujib mendapatkan 200 Riyal atau sekitar Rp900.000 dalam sehari. Maka tidak heran, jika setiap bulan dia bisa meraih Rp30 juta-Rp 50 juta.
”Kalau dapat Rp30 juta, bersih mungkin Rp15 juta-Rp20 juta, karena perlu buat biaya makan dan sewa kos-kosan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Pokok di sini rumusnya, kalau ada kerjaan sebagai mutowif ini saya jadi hemat karena makan ikut hotel,” ucap pria empat anak ini.

Selain biaya hidup sehari-hari, dia juga perlu memperpanjang visa umrah-nya setiap tiga bulan sekali. Biasanya, dia memperpanjang visa tersebut dengan cara keluar dulu seperti ke Turki.
”Habis sekitar Rp7 juta setiap tiga bulan sekali,” ucapnya.
Mujib juga belum mempunyai target kapan akan kembali menetap di Indonesia.
”Saya mengalir saja, karena saya lihat selama ini saya bisa dapat uang dari jasa beginian, ya pokoknya yang ada kaitannya dengan umrah,” katanya.
Adapun di Makkah dan Madinah, Mujib memperkirakan kalau orang Indonesia yang hidup dari ekosistem umrah lebih dari dua orang.
”Mungkin 50 persen orang Madura, sisanya ada orang Lombok, Jawa Barat, dan lain-lain. Kalau sebelum Covid-19, orang Madura bisa tembus 75 persen. Meski banyak orang Madura, tapi di sini nggak ada toko Madura,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Irham Thoriq
Editor: Dwi Lindawati








