Cerita si Kembar Nicholas dan Michael Asal Surabaya Teliti Genetika di New Zealand

Cerita si Kembar Nicholas dan Michael Asal Surabaya Teliti Genetika di New Zealand

  • Bagikan
Si kembar asal Surabaya Nicholas dan Michael Pudjihartono.
Si kembar asal Surabaya Nicholas dan Michael Pudjihartono. (Foto: Dokumen)

Tugujatim.id – Si kembar asal Surabaya Nicholas dan Michael Pudjihartono memiliki ceritanya sendiri sebagai mahasiswa doktoral di University of Auckland, New Zealand. Mereka mengambil jurusan yang sama yaitu Biokimia dan Genetika bahkan risetnya juga sama yaitu genetika walaupun spesifikasinya berbeda.

Nicholas meneliti genetika di balik penyakit imun manusia, sedangkan Michael berfokus pada genetika di balik penyakit kanker. Kesamaan-kesamaan ini membuat cerita dua sosok ini menjadi menarik,

Memang memiliki model DNA yang hampir sama, membuat anak kembar cenderung memiliki beberapa kesamaan dalam hidup mereka. Meski begitu, sangat jarang ditemukan saudara kembar yang bahkan hingga program studi kuliahnya pun sama.

Namun Nicholas dan Michael Pudjihartono, saudara kembar dari Surabaya yang menempuh pendidikan hingga program doktor di New Zealand dengan mengambil program studi yang sama.

“Kami sama-sama mengambil bidang Biokimia dan Genetika. Sejak saat menempuh pendidikan sarjana di Univeristy of Otago hingga sekarang program doktor di University of Auckland, kami memang mengambil prodi yang sama. Karena ya kita sama-sama tertarik di bidang ini,” kata Michael menjelaskan perjalanan studinya bersama saudara kembarnya, Nicholas, Senin (4/7/2022).

Nicholas mengatakan bahwa memiliki ketertarikan ilmu yang sama dengan saudara kembar itu banyak memberikan kemudahan. Salah satunya adalah mereka bisa saling berdiskusi dan membantu dalam menyelesaikan studi mereka.

Dalam perjalanannya, Nicholas dan Michael sering belajar bersama, bekerja sama menyelesaikan projek, saling membantu dan saling memberikan motivasi.

“Apalagi di jenjang doktor, orang yang bisa kita ajak diskusi pasti sangat terbatas. Sebab, semakin tinggi jenjang pendidikan yang kita ambil, pasti sedikit juga rekan diskusinya. Jadi, untuk diskusi terkait genetika, riset paling baru, ataupun berita terbaru terkait prodi ini, rekan paling enak untuk diskusi ya saudara kembar saya ini,” tambah Nicholas.

Meskipun mengambil prodi yang sama, tentu riset dan objek penelitian yang tengah mereka kerjakan saat ini berbeda. Penelitian yang diangkat Nicholas berkaitan dengan genetika di balik penyakit imun manusia, berjudul Understanding the gene-regulatory mechanisms behind Juvenile Idiophatic Arthritis (JIA) and Its Comorbidities.

Sedangkan penelitian dari Michael berfokus pada genetika di balik penyakit kanker, berjudul Interpretation of Noncoding Mutations Driving Melanoma.

“Intinya sih penelitian kita ini nantinya bisa diaplikasikan sebagai bentuk pencegahan terhadap penyakit kanker dan penyakit imun,” katanya.

Menurutnya, setiap manusia itu bisa terjangkit penyakit yang berbeda-beda, karena memang spesifikasi DNAnya berbeda. Untuk itu dia meneliti mengapa pergantian di DNA manusia bisa menyebabkan penyakit tertentu, contohnya kanker atau imun.

“Kita ingin tau, mengapa mutasi-mutasi DNA tertentu bisa menyebabkan penyakit ini. Ini penting karena DNA bisa dibaca, sehingga mutasi mana saja yang bisa menyebabkan kanker atau penyakit imun juga bisa dibaca bahkan sejak dini. Jika sejak dini bisa dideteksi, maka kita bisa melakukan pencegahan melalui perawatan tertentu secepatnya,” katanya.

“Karena mencegah tentu lebih baik kan dari pada mengobati,” timbal Nicholas setelah saudara kembarnya menjelaskan panjang lebar terkait penelitian mereka.

Rencana kedepannya, kembar bersaudara ini akan kembali ke Indonesia dan menerapkan riset yang tengah mereka kerjakan. Tentu, dengan teknologi-teknologi tertentu yang mungkin masih sedikit atau bahkan belum ada di Indonesia.

Mereka memiliki keinginan agar Indonesia juga bisa memberikan perawatan lebih awal bagi siapapun yang memiliki kemungkinan terjangkit penyakit kanker maupun penyakit imun. Dengan begitu, jumlah penderita kanker dan imun di Indonesia bisa berkurang dan diminimalisir.

“Memang sudah jadi rencana sih nanti kita bakal kembali ke Indonesia kalau program PhD kita di sini udah selesai, ya kira kira 2 tahun lagi lah. Harapannya semoga masyarakat Indonesia akan welcome dan aware ya terkait pencegahan penyakit kanker dan imun ini. Kita semua pasti berharap untuk Indonesia lebih sehat dan lebih baik kedepannya,” terang Michael.

Untuk mewadahi rencana tersebut, Michael dan Nicholas nantinya akan membangun sebuah tempat layanan masyarakat seperti lab yang akan diisi dengan teknologi memadai.

Hal ini untuk melakukan pemeriksaan dini kepada orang-orang agar bisa memberikan perawatan maksimal sehingga jumlah penderita kanker dan penyakit imun bisa berkurang seiring berjalannya waktu.

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan