JEMBER, Tugujatim.id – Museum Huruf dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember mendeklarasikan Hari Aksara Nusantara yang berlangsung di Pendapa Wahyawibawagraha, Jumat (30/08/2024).
Peringatan Hari Aksara Nusantara menjadi upaya dalam mempertahankan budaya serta kearifan lokal di dalamnya, di tengah-tengah masalah bangsa Indonesia, tentang ingatan masyarakat sekarang dengan masa lalunya.
Guru Besar Filologi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Oman Fathurahman menjelaskan, masalah akut bangsa Indonesia saat ini adalah putusnya ingatan kolektif masyarakat saat ini dengan masa lalunya.
“Salah satu masalah yang paling akut di bangsa kita itu adalah keterputusan ingatan kolektif masyarakat sekarang dengan masa lalu,” ujar Prof Oman usai menjadi salah satu pemateri di Seminar Nasional dan Deklarasi Hari Aksara Nusantara di Jember, Jumat (31/08/2024).
Baca Juga: 5 Inspirasi Gerbang Rumah Minimalis dengan Model Simpel dan Elegan, Cocok untuk Rumah Gen Z
Salah satu contoh terkait bencana alam yang terjadi. Prof Oman menegaskan bahwa ratusan tahun yang lalu bencana-bencana itu juga terjadi. Selain itu, terkait pandemi, karena ingatan manusia yang terbatas, seolah-olah bencana semacam itu baru terjadi.
“Padahal, manuskrip-manuskrip kita mencatatkan abad ke-14 ada pandemi. Nah itu masalah kita, demikian juga dalam hal kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” terang Prof Oman.
Menurut dia, salah satu upaya dalam mengingat dan melestarikan kebudayaan yaitu dengan membuat perayaan yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti Hari Aksara Nusantara yang digagas Museum Huruf di Jember.

“Kita mendeklarasikan Hari Aksara Nusantara itu sebetulnya untuk menyambungkan kembali ingatan masyarakat kita dengan masa lalu, bahwa kita itu masyarakat yang sangat amat beradab sejak abad ke-5,” paparnya.
Baca Juga: Proyeksi Porprov IX Malang Raya, Sepak Bola Mojokerto Masih Buka Peluang Pemain Baru
Prof Oman juga menyinggung terkait krisis identitas bangsa Indonesia. Ketika orang-orang tidak tahu masa lalu bangsanya, bahkan memungkinkan ketidaktahuan jati diri yang sebenarnya. Karena itu, Prof Oman berharap, adanya Hari Aksara tersebut memunculkan ide-ide kreatif anak muda.
“Mudah-mudahan dengan deklarasi Hari Aksara Nusantara ini ke depannya itu ada konten-konten kreatif dari anak-anak muda yang dipahami oleh masyarakat milenial sekarang, tapi basisnya itu pada ingatan bersama tentang aksara Nusantara kita,” ujar Prof Oman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








