MALANG, Tugujatim.id – Jam dinding di rumah tampak menunjukkan pukul 11.30 WIB. Koper biru dan tote bag abu-abu di depan pintu siap saya boyong menuju Stasiun Malang Kota Baru, Jawa Timur, Kamis (28/08/2025). Rasa waswas kerap muncul, tatkala sadar ternyata saya, Dwi Lindawati seorang jurnalis difabel.
Antara rasa lelah dan kantuk usai menyelesaikan pekerjaan sebelum bertolak ke Jakarta, saya memesan GoCar menuju ke stasiun.
Jika tidak membawa koper, saya bakalan satset meluncur menuju stasiun memakai motor kesayangan roda tiga yang selama ini menemani ke mana pun pergi. Sayangnya, kali ini tidak bisa membawanya serta.
Langit cerah mendukung kedatangan mobil online warna putih yang saya pesan. Sopir langsung bergegas mengangkat koper menaruhnya di bagasi. Tidak lupa juga berpamitan dengan ibu saya, Heri Purwati. Wajahnya memperlihatkan penuh khawatir meski berusaha menyembunyikannya.

Biasanya ibu yang sering kali bepergian, kali ini giliran saya yang harus bertugas untuk memenuhi undangan kegiatan perdana kick-off Pelatihan Jurnalistik JFC Batch II 2025 di Rumah Belajar TBIG Karawaci, Tangerang, Banten, Jakarta.
Usai masuk GoCar, lambaian tangan ibu dan doa yang dipanjatkan mengiringi perjalanan saya menuju stasiun hendak ke Jakarta. “Hati-hati di jalan ya, semoga dilancarkan semuanya,” pesan ibu yang saya aminkan sambil tersenyum.
BACA JUGA: 13 Wartawan Kupas Program CSR TBIG Tangerang, JFC 2025 Gaungkan Inklusi Libatkan Jurnalis Difabel
Doa ibu seolah seperti sihir bagi saya, yakin semua akan dimudahkan dan dilancarkan. Tatapan saya pun masih tertuju kepada wajah ibu. Ada rasa khawatir yang juga saya rasakan karena beliau sering membutuhkan bantuan. Tapi, suara sopir GoCar memecah kekhawatiran itu.
“Mbak, ini ke Stasiun Kota Baru lewat pintu timur atau barat ya?” ucapnya.
Akses Paling Mudah Pilih Pintu Timur atau Barat?
Nah, inilah yang saya khawatirkan. Lama tidak bepergian dengan menggunakan kereta api, entah perubahan apa yang sudah terjadi. Terakhir saya naik kereta api pada 31 Agustus 2022 atau tiga tahun lalu. Tentu PT KAI bakal banyak melakukan perubahan dan berbenah.
Sebelum berangkat, saya memang sempat mencari referensi perbedaan masuk stasiun pintu barat dan timur. Bukan tanpa tujuan, saya ingin mencari akses masuk yang lebih mudah dan tidak jauh berjalan kaki. Semata-mata karena tidak ingin merepotkan petugas meski saya masuk kategori difabel yang membutuhkan bantuan orang lain. Selain itu, memang masih banyak masyarakat yang bingung antara pintu masuk timur dan barat.
BACA JUGA: Dwi Lindawati, Wartawan Tugujatim.id Terpilih Peserta Journalism Fellowship on CSR 2025 Batch II
Bahkan untuk memastikannya, sehari sebelum berangkat, saya mengirim direct messenger (DM) ke IG resmi @stasiunmalang.
“Pagi Kak, kalau mau ke Jakarta naik KA Jayabaya seharusnya naik lewat pintu mana? Timur atau barat?” isi pesan yang saya kirim.

Sayangnya, sampai saya berangkat, DM itu tidak berbalas. Hingga akhirnya saya memutuskan pilihan terbaik lewat pintu timur atau barat sesuai dengan intuisi.
Selama ini, yang saya tahu pintu yang mudah dijangkau agar tidak berjalan jauh adalah pintu yang terkenal dengan ikon patung singa yang berada di Jalan Trunojoyo, Kiduldalem, Kecamatan Klojen. Ini adalah pintu barat Stasiun Malang Kota Baru.
Pintu barat ini khusus untuk melayani keberangkatan dan kedatangan kereta lokal dan sebagai akses ke bangunan lama yang bersejarah. Di sekitar area pintu barat, penumpang dapat menemukan berbagai jajanan dan taksi konvensional, menjadikannya cocok bagi yang ingin mencari kuliner atau melanjutkan perjalanan dengan transportasi lokal.
BACA JUGA: Cerita Aisyah Nawangsari Putri, Wartawan Tugu Media Grup Langganan Program Fellowship
Sedangkan pintu timur, para penumpang kereta api bisa menuju ke Jl Panglima Sudirman, Kiduldalem, Klojen. Pintu ini adalah bangunan baru yang dikhususkan untuk perjalanan jarak jauh. Kebetulan, saya juga belum pernah lewat di pintu ini meski lokasinya viral karena keestetikan dan kekiniannya.
Informasi ini pun dibenarkan oleh driver mobil online yang sering mengantarkan penumpang. “Mbak, tujuannya ke mana dan naik kereta apa?” ujarnya.

Saya pun menjawab singkat ke Jakarta naik KA Jayabaya. “Kalau begitu masuk dari pintu timur (bangunan stasiun yang baru). Saya sering mengantar pelanggan yang perjalanan jarak jauh lewat pintu sana,” tegas driver GoCar menjawab.
Keraguan pun datang. Selama perjalanan saya masih berpikir akan masuk pintu yang mana. Selang 30 menit perjalanan hampir sampai di stasiun, saya memutuskan masuk melalui pintu barat yang terkenal dengan patung singanya.
Batin saya bergejolak. Takut lewat masuk pintu timur, saya terlalu jauh berjalan kaki. Sebab, saya memutuskan tidak mau menggunakan fasilitas kursi roda nantinya meski ada.
“Baik, saya antar ke pintu barat ya, Mbak,” ujar bapak driver dengan ramah.
Sampai di depan stasiun pintu barat, driver membantu menurunkan koper. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih.
Penumpang Bisa Memakai Jasa Porter
Tidak perlu menunggu lama, saya langsung menunjukkan tiket Eksekutif KA Jayabaya yang sudah dicetak dengan keberangkatan dari Malang, Kamis (28/08/2025), pukul 13.45, dengan tujuan menuju Stasiun Jatinegara yang dijadwalkan sampai pada Jumat (29/08/2025), pukul 01.46. Artinya, perjalanan ini akan menempuh waktu selama 12 jam.
Saat hendak masuk stasiun, caranya mudah tinggal penumpang kereta api menunjukkan tiket ke petugas. Lalu petugas langsung sigap mempersilakan penumpang masuk ke Stasiun Malang. Kalau barang bawaan penumpang cukup banyak, bisa menanyakan ke petugas untuk menggunakan jasa porter.
BACA JUGA: Wartawan Tugu Media Grup Terpilih Journalism Fellowship on CSR 2025
Untuk jasa porter, dibanderol sekira Rp25 ribu. Tapi, jika penumpang ingin memberikan jasa yang lebih dari itu maka diperbolehkan, mungkin bisa dilihat dari barang bawaan yang akan dibawa porter banyak atau sedikit. Tapi, ini hanya pendapat saya saja ya. Tapi, jasa porter cukup terjangkau.
Ya, Stasiun Malang Kota Baru ini menjadi stasiun utama di kawasan Malang Raya. Selain itu, menjadi salah satu stasiun keberangkatan utama bagi layanan kereta api antarkota dan kereta api lokal commuter line.

Letaknya sangat strategis berada tidak jauh dari Alun-Alun Bundar Tugu, kawasan pendidikan Tugu (SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 4 Malang), Gedung DPRD Kota Malang, Balai Kota Malang, Pasar Klojen, hingga markas satuan di bawah Kodam V Brawijaya.
Untuk diketahui, perjalanan dan pengalaman saya ke Jakarta menggunakan KA Jayabaya kali ini berkat undangan kegiatan perdana kick-off program Journalism Fellowship on CSR 2025 atau JFC 2025 Batch 2 bermitra dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan ini bergerak untuk menyewakan menara telekomunikasi, penyediaan sistem sinyal nirkabel seperti distributed antenna system (DAS), dan lain-lainnya.
Tentu, saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan undangan ini setelah melalui seleksi bertahap dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
JFC ialah kegiatan pelatihan jurnalistik Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan Tower Bersama Infrastucture (TBIG).
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan isu CSR bersama TBIG ini menjadi bagian pelatihan karena memiliki kepentingan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Hal ini sesuai tagline yang disampaikan Chief of Business Support Offcer PT Tower Bersama Infrastrucutre Group (TBIG) Lie Sie An maju “Bersama untuk Indonesia”.
Kick off JFC Batch 2 berlangsung di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Jakarta, Jumat (29/08/2025). JFC berlangsung selama sebulan mulai 1 September-8 Oktober 2025 dengan melibatkan 13 wartawan se-Indonesia sebagai peserta. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Dwi Lindawati
Editor: Darmadi Sasongko








