• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Wahyu Muryadi. Foto: dok Wahyu Muryadi

Wahyu Muryadi. Foto: dok Wahyu Muryadi

Dokumen Fikih yang Terlupakan

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Esai
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Wahyu Muryadi*

Kagi asyik membaca Kitab Fiqih Muhammadiyah Jilid Telu terbitan Taman Poestaka Jogjakarta,1925 (cetakan pertama Kiai Badawi, 1967) yang ditulis dengan uruf Arab pegon, basa Jawi. Menarik, karena sebagaimana termaktub dalam buku jadoel itu, fikihnya Kiai Ahmad Dahlan, sang pencerah yg mendirikan Muhammadiyah ternyata sama dengan Kiai Hasyim Asy’ari, salah satu ikon pendiri Nahdlatul Ulama: tarawih 20 rakaat di luar witir, baca ushalli, qunut subuh, dan seterusnya..

You might also like

Tuban

Tuban dari Kadipaten ke Kabupaten: Jejak Panjang Kota Pesisir yang Tak Pernah Padam

18/11/2025 9:16 AM
Desa Terunyan.

Budaya Unik di Desa Terunyan Bali, Makamkan Jenazah di Bawah Pohon Besar

23/04/2025 11:27 AM

Belakangan Muhammadiyah bergeser kiblat fikihnya. “Fatwa” Kiai Dahlan yg satu guru, satu ilmu dan satu nasab dg Kiai Hasyim dikoreksi. Keduanya sama-sama murid, bahkan sekamar, saat mondok di Kiai Muhammad Saleh bin Umar As Shamarani alias Mbah Sholeh Darat di Semarang. Satu halaqah kala mengaji di Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, mufti jenius, imam dan pengajar non Arab pertama di Masjidil Haram, Mekah, yang lahir di Koto Tuo, di barat Kenagarian Koto Gadang, di kaki Gunung Singgalang, Sumatera Barat. Mereka berdua bahkan sama-sama keturunan Sunan Giri yang kalau ditarik dari atas sampai ke Fatimah binti Muhammad SAW.

Perubahan arah ubudiyah Muhammadiyah ini terjadi setelah Kiai Mas Mansur mendirikan Majelis Tarjih pada 1927. Semua keputusan majelis inilah yang sampai kini dijadikan pegangan para pengikut Muhammadiyah dalam menjalankan amal ibadahnya–ada sarjana yang menyebutnya sebagai mazhab Tarjih. Kiai Mas Mansyur, saat memimpin, mengemban peran ganda yang tak mudah: membentengi arus pengaruh hegemoni Wahabi, mazhab resmi Kerajaan Arab Saudi yang anti tradisi, sekaligus juga mencari ekuilibrium antara puritanisme-modernisme versus tradisionalisme-konservatifisme dengan cara merevisi sejumlah keputusan Kiai Dahlan demi kemaslahatan umat agar tak terbebani tradisi yang memberatkan.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa sikap non mazhab (semula Kiai Dahlan dan Kiai Mas Mansyur serta Kiai Hasyim pengikut mazhab Syafi’ie seperti juga dianut guru2 mereka, termasuk Syaikh Khatib) dengan slogan anti takhayul, bid’ah dan churafat atawa TBC ini menguat sejak ada pengaruh Haji Rasul (ayahanda Buya Hamka) di Sumatera Barat. Sebab itulah ada pameo: Muhammadiyah lahir di Yogya tapi “ideologi” dan ruh gerakannya menggumpal di Sumbar.

Sikap puritan yang hendak memurnikan ajaran tanpa bermazhab ini dikukuhkan di Muktamar Pekalongan 1972. Sikap ini berbeda dengan NU, yang berideologi ahl sunnah wal jama’ah, berfikih mazhab arba’ah (empat), khususnya Imam Syafi’ie; sedangkan sisi kalam atau teologinya bersandar pada Imam Al Asy’ary.

Mengapa bergeser? “Karena Muhammadiyah bukanlah Dahlaniyah,” ujar salah seorang Ketua PP Muhammadiyah Prof Yunahar Ilyas. Maknanya, mencegah terjadinya kultus individu walau tertuju pada pendiri organisasi.

Perkara pengkultusan ini, hemat saya, juga tak hendak dihidupkan oleh kaum nahdliyin kendati mereka sangat hormat kepada para kiai sepuh dan guru2 mereka. Sistem tata nilai yang kerap disebut tawadu’ ini dijaga betul di pesantren yang secara khusus mengajarkannya melalui kitab Ta’lim Muta’allim.

Muara kedua ormas ini sejatinya bertemu di titik yang sama: niat luhur untuk mengayomi umat dan menjaga negeri agar bergerak ke arah yang lebih baik. Memahami sejarah pendirian mereka niscaya bisa menajamkan permakluman dan menumbuhkan rasa saling pengertian.

Sama bagus argumen keduanya. Sama kuat hujjahnya. Sama pula benarnya? Barangkali. Sikap yang sudah pasti benar dan terpuji adalah manakala para pemeluk dan pengikut kedua ormas Islam ini saling menghormati pandangan dan penafsiran atas ajaran masing-masing. Tersebab kebenaran hakiki hanyalah milik Allah SWT. Rahasia ilahi rabbi. Kulil haqq min rabbikum. Katakanlah kebenaran itu sejatinya dari Tuhanmu. Ayat lain dalam Qur’an menyebut kulil haqq min amri rabbi.

Dokumen berharga yang terlupakan ini menjadi bukti penting betapa kedua ormas Islam terbesar di Indonesia ini punya akar pijakan yang semula sama. Mungkin sampai sekarang pun prinsipnya juga sama, walau melahirkan varian praktik ibadah yang berbeda terutama pada 30-an perkara ranting ritual atau furu’iyah.

Pokok ajaran atau ushul keduanya berada dalam satu biduk. Tak usah kaget, namanya juga ikhtiar. Mazhab NU yang dikaji terus via bahtsul matsail diniyah atau non mazhabnya Muhammadiyah yang berpatokan pada majelis Tarjih, sejatinya merupakan pendekatan menuju kebenaran. Bukan kebenaran itu sendiri, sehingga siapapun tak berhak memonopoli kebenaran apalagi memutlakkan kebenaran pendapatnya.

Duh, tak usah ribut…

Pondokgede, 1 Ramadan 1437/5 Juni 2016

*Penulis berasal dari Komunitas Santri Bakiak Ujungaspal (Kubus)

Tags: dokumen fikihfikihfikih yang terlupakan
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Tuban

Tuban dari Kadipaten ke Kabupaten: Jejak Panjang Kota Pesisir yang Tak Pernah Padam

by Darmadi Sasongko
18/11/2025 9:16 AM
0

TUBAN, Tugujatim.id — Di balik hiruk-pikuk kota pesisir yang kini tumbuh sebagai simpul industri dan jalur transit penting di jalur...

Desa Terunyan.

Budaya Unik di Desa Terunyan Bali, Makamkan Jenazah di Bawah Pohon Besar

by Dwi Linda
23/04/2025 11:27 AM
0

BALI, Tugujatim.id - Terunyan adalah sebuah desa unik yang terletak di tepi timur Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali,...

Karanggenting.

Memaknai Kelahiran dan Kehadiran: Refleksi Satu Tahun Pesantren Budaya Karanggenting

by Dwi Linda
08/01/2025 9:38 AM
0

Oleh: Fathul H. Panatapraja, Ketua Lesbumi NU Kota Malang   Nuqtatul Wujud Bismillahirrahmanirrahim, adalah lafadz yang merupakan rukun qauli untuk...

Unim Mojokerto 3

Peran Baru dan Kriteria Pemimpin Versi Cak Sandi

by Darmadi Sasongko
10/09/2024 12:22 PM
0

MOJOKERTO, Tugujatim.id - Ada peristiwa tak biasa pada Opening Ceremony Peringatan Dies Natalis XXV Universitas Islam Majapahit (UNIM) kali ini...

Next Post
work from home tugu jatim

Alasan Hari Work From Home Diperingati Setiap 10 April

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID