TUBAN, Tugujatim.id – Program Sekolah Rakyat (SR) Tuban ternyata tidak selalu berjalan mulus. Tercatat ada dua siswa Sekolah Rakyat di Tuban yang memutuskan mundur pada September 2025 ini. Mereka terdiri dari satu siswa laki-laki dan satu siswa perempuan.
Kepala Sekolah Rakyat Tuban Vera Khairun Nissa membenarkan kabar tersebut. Menurut dia, posisi siswa laki-laki sudah ada pengganti, namun untuk siswi perempuan hingga kini masih kosong.
“Kalau dari SMA ada satu anak juga yang memilih tidak melanjutkan. Jadi saat ini jumlah siswa SMA hanya 24 orang,” jelas Vera, Kamis (02/10/2025).
Baca Juga: Menpora Dito Ariotedjo Serahkan Peralatan Olahraga untuk Sekolah Rakyat di Tuban
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Sosial P3A dan PMD Kabupaten Tuban Sugeng Purnomo mengungkapkan alasan mundurnya para siswa Sekolah Rakyat di Tuban cukup unik. Salah satunya karena tidak bebas menggunakan gawai selama berada di asrama.
“Alasan pertama ya karena tidak bisa pegang HP. Mereka terbiasa setiap hari main HP, sementara di SR ada aturan ketat soal itu. Sudah dibujuk, bahkan orang tuanya ikut menasihati, tapi tetap tidak mau,” terang Sugeng.
Pihak sekolah dan dinsos sebenarnya sudah berupaya memberi pemahaman bahwa aturan ini demi kebaikan masa depan siswa. Namun, keputusan anak tetap bulat untuk mundur.
“Kami juga serba bingung, karena di satu sisi harus melindungi anak dan keluarganya. Tapi kalau anaknya sudah menolak keras, ya akhirnya kami izinkan mundur,” tambahnya.
Selain soal HP, faktor lain yang membuat siswa Sekolah Rakyat di Tuban tidak betah adalah kebiasaan di rumah yang berbeda jauh dengan kehidupan di asrama.
“Satu siswa laki-laki itu tidak kerasan karena terbiasa bebas di rumah, sementara di asrama ada aturan ketat. Jadi dia memilih mundur,” jelas Sugeng.

Meski begitu, pihak sekolah masih membuka peluang pengganti selama masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung. Setelah MPLS berakhir, kesempatan untuk mengisi kekosongan siswa tidak lagi dibuka.
“Selama MPLS ini masih ada kesempatan mencari pengganti. Setelah itu tidak bisa lagi, sesuai ketentuan dari Kementerian,” tegasnya.
Kasus mundurnya dua siswa ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara SR Tuban. Program yang dirancang untuk memberi kesempatan pendidikan setara, terutama bagi anak-anak dari keluarga penerima manfaat, ternyata tidak lepas dari tantangan penyesuaian diri siswa.
Meski begitu, pihak dinsos memastikan bahwa komitmen untuk mendukung keberlangsungan SR tetap kuat.
“Kami terus berupaya agar siswa bisa beradaptasi. Harapan kami, yang sudah masuk bisa bertahan hingga lulus,” pungkas Sugeng.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








