JEMBER, Tugujatim.id – Ancaman persoalan sampah di Kabupaten Jember kini mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bupati Jember Muhammad Fawait yang kerap disapa Gus Fawait justru menyinggung persoalan lain yang dinilai mendesak, yakni ancaman krisis pengelolaan sampah di tengah pelantikan 777 pejabat pendidikan di SMPN 7, Sabtu (23/05/2026).
Di hadapan ratusan kepala sekolah, pengawas, dan penilik yang baru dilantik, Gus Fawait mengaku terkejut saat mengetahui kondisi pengelolaan sampah di Jember setelah dirinya resmi menjabat sebagai kepala daerah.
Menurut dia, persoalan yang dihadapi bukan lagi sekadar tumpukan sampah biasa, melainkan situasi yang berpotensi mengarah pada kondisi darurat.
“Tiba-tiba TPU sudah harus distop, kalau enggak pidana, terus tiba-tiba kalau kami mau buka ya nggak bisa,” kata Gus Fawait.
Baca Juga: Jember Wajib Kelola Sampah Mandiri, Gus Fawait Larang Plastik Sekali Pakai di Pertemuan
Pernyataan itu berkaitan dengan kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari yang saat ini disebut telah melebihi kapasitas tampung. Selain itu, sistem pembuangan terbuka atau open dumping yang selama ini diterapkan juga menjadi sorotan Kementerian Lingkungan Hidup karena dinilai tidak lagi sesuai standar pengelolaan sampah.

Data pemerintah daerah menunjukkan, pada periode Agustus hingga Desember 2025, timbunan sampah di Jember mencapai 1.046,35 ton per hari. Namun kemampuan pengelolaannya hanya berada di kisaran 19,78 ton per hari.
Kondisi itu diperparah dengan munculnya rencana penghentian sistem open dumping di TPA Pakusari yang disebut-sebut mulai berlaku pada Juni 2026.
Sekolah Diminta Jadi Garda Pengelolaan Sampah
Di tengah situasi tersebut, Gus Fawait meminta dunia pendidikan ikut ambil bagian dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Dia menilai sekolah memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan baru sejak usia dini.
“Maka mulai hari ini, dunia usaha kita minta untuk mengelola sampahnya sendiri, dan gak bisa saya menyukseskan ini tanpa bantuan Panjenengan,” ujarnya.
Tak hanya meminta dukungan, Gus Fawait bahkan memasukkan persoalan pengelolaan sampah sebagai salah satu indikator kinerja kepala sekolah yang baru dilantik dalam enam bulan ke depan.
“Saya minta ukuran kinerja dalam 6 bulan kedepan adalah bagaimana sekolah-sekolah berhasil memilah antara sampah organik dan sampah non organik,” katanya.
Baca Juga: Gus Fawait Larang Kantong Plastik, Jember Tekan Sampah dan Harga Plastik
Menurutnya, kebiasaan memilah sampah harus diajarkan sejak lingkungan sekolah hingga keluarga siswa.
“Ajari siswa Panjenengan, sampaikan kepada wali murid Panjenengan, Bu tolong dipisah, kalau dipisah punya nilai ekonomis,” ucapnya.
Dia mencontohkan, sampah anorganik yang dikelola dengan baik bahkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kalau nanti kerja sama dengan Pegadaian bisa dapat tabungan emas dari (pengelolaan) sampah non organik,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember saat ini juga telah menerbitkan surat edaran yang mendorong masyarakat dan pelaku usaha mulai mengelola sampah secara mandiri sebagai langkah menghadapi ancaman krisis sampah yang kian nyata. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M. Imron Fauzi
Editor: Dwi Lindawati








