SIDOARJO, Tugujatim.id – Keluarga santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jatim, terus memanjatkan harapan dan doa untuk para korban di bawah reruntuhan yang belum ditemukan. Keluarga korban Ponpes Al-Khoziny hingga kini masih menunggu kabar keberadaan yang diperkirakan ada 59 santri hilang dalam tragedi ambruknya musala tiga lantai itu.
Hingga pencarian memasuki hari kelima ini, keluarga korban Ponpes Al-Khoziny bernama Irham Ghifari, 16, masih setia menunggu di sekitar lokasi. Menurut keluarga, santri asal Krian, Sidoarjo, itu yang sudah empat tahun menimba ilmu di pesantren tersebut.
Baca Juga: Tak Ada Lagi Sinyal Kehidupan, Evakuasi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Pakai Alat Berat
Ditemui Tugu Jatim di posko Basarnas, paman Irham yang rela datang jauh-jauh dari Madura, mengaku sudah berada di lokasi sejak malam hari pertama musibah. Dengan wajah lelah namun tetap tegar, dia mengatakan bahwa keluarga hanya bisa berserah diri sambil menunggu hasil pencarian.
“Kalau saya pasrahkan saja sama Allah. Pengennya secepatnya ditemukan, apa pun kondisinya,” ucapnya, Jumat (03/10/2025).
Keluarga Korban Dukung Petugas Evakuasi Pakai Alat Berat
Seperti yang diketahui, sebelumnya Tim SAR sudah melakukan pengecekan namun dilaporkan dibawa reruntuhan bangunan tersebut sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena keluarga pun mendukung langkah tim SAR yang mulai mengerahkan alat berat untuk mempercepat evakuasi. Meski berisiko, mereka menilai upaya itu lebih baik dibanding menunggu terlalu lama.
“Nggak masalah pakai alat berat. Daripada kelamaan. Terpenting terbaik buat anak-anak kita. Kalau pun nanti ditemukan tidak bernyawa, itu sudah jalan Allah. Kami sudah ikhlas,” jelasnya.

Dia melanjutkan, sejak kecil, Irham dikenal tekun menimba ilmu agama. Tidak hanya itu, Irham juga dikenal dekat keluarga. Komunikasi terakhir dengan keluarga terjadi saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ketika Irham sempat pulang ke Madura, serta terakhir kali menelepon ayahnya untuk meminta uang sebelum musibah terjadi.
“Saya terakhir ketemu waktu peringatan Maulid Nabi, dia dan orang tuanya pulang ke Madura,” imbuhnya.
Meski ikhlas, penantian panjang tetap menyisakan rasa haru, khawatir, cemas yang mendalam bagi keluarga korban Ponpes Al-Khoziny. Mereka memilih bertahan di lokasi, menunggu setiap perkembangan dari petugas.

“Namanya orang menunggu anak, nggak ada capeknya. Kami hanya berharap segera ada kepastian,” tutup sang paman dengan mata berkaca-kaca.
Diberitakan sebelumnya, suasana haru dan panik menyelimuti Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo usai bangunan musala dalam kompleks pesantren itu ambruk pada Senin sore (29/09/2025). Insiden terjadi sekitar pukul 15.00 WIB, sesaat setelah jemaah santri menunaikan salat Asar.
Musala yang sedang dalam tahap pembangunan lantai tiga dalam kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny, Desa Buduran, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, itu runtuh saat proses pengecoran berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








