Hari Raya Idul Fitri dan Hakikat Kemenangan - Tugujatim.id

Hari Raya Idul Fitri dan Hakikat Kemenangan

  • Bagikan
Hari Raya. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Muhammad Amiril A'la, MH, Dosen Fakultas Syairah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung. (Foto: Dokumen)

Oleh: Muhammad Amiril A’la MH

Tugujatim.id – Bulan Ramadhan sebagai bulan istimewa bagi seluruh umat Islam menjadi momen yang berharga untuk dijalani. Kewajiban menjalankan ibadah puasa juga menjadi metode yang baik untuk mencapai derajat takwa. Ibadah puasa yang dijalani selama bulan Ramadhan tentu juga diikuti dengan berbagai ibadah yang lain yang juga hanya dilakukan di bulan Ramadhan, seperti melaksanakan salat Tarawih berjamaah di masjid-masjid atau musala.

Ramadhan menjadi momen yang memberikan suasana ibadah dengan intensitas yang baik. Selain puasa dan Tarawih, kita juga merasakan momen buka dan sahur bersama keluarga, tadarus Al Qur’an di masjid dan musala, sampai mengumandangkan takbir di malam Lebaran, melaksanakan salat Idul Fitri dan berkumpul bersama keluarga. Momen tersebut tentu menjadi suasana yang dirindukan banyak orang, khususnya para perantau yang jarang pulang ke kampung halamannya.

Perjalanan ibadah puasa selama satu bulan penuh yang telah ditunaikan umat muslim bisa diartikan sebagai perjalanan spiritual serta bisa menjadikan latihan diri untuk mengukur sejauh mana kekuatan yang kita miliki. Dalam menjalankan puasa tentu tidak sekadar mengukur sejauh mana kekuatan fisik untuk menahan lapar dan haus selama menjalankan puasa, tapi ibadah puasa menjadi tolok ukur yang akurat untuk menilai diri kita sendiri tentang sejauh mana kitab bisa mengendalikan hawa nafsu yang membawa kita kepada hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan merugikan diri kita sendiri.

Ada tiga hal yang harus bisa kita kendalikan dalam menjalankan ibadah puasa, di mana tiga hal ini bisa menghilangkan keutamaan puasa dan bisa membatalkan puasa. Adapun tiga hal tersebut adalah menahan lapar dan haus sesaat setelah kita sahur dan berbuka puasa saat azan Maghrib dikumandangkan. Menahan lapar dan haus tentu berhubungan dengan minuman dan makanan,
menahan hawa nafsu selama menjalankan ibadah puasa. Menahan hawa nafsu bisa berarti menahan syahwat, khususnya hubungan bagi suami istri, juga termasuk menahan diri dari nafsu amarah, yaitu menahan emosi diri saat menghadapi hal-hal yang tidak berkenan di hati. Menahan nafsu juga berarti mengontrol diri secara penuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak terpuji, baik perbuatan yang dilakukan oleh kaki maupun tangan, termasuk menahan diri dari berbohong dan berkata-kata kasar dan tidak terpuji. Melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti sering mengeluh lapar dan haus, serta tidur berlebihan saat puasa.

Intensitas ibadah yang dilakukan umat Islam di bulan Ramadhan, ibarat sebuah perjalanan yang tentu memiliki tujuan. Perjalanan Panjang yang melatih diri baik fisik maupun jiwa mengantarkan orang-orang yang berpuasa menuju derajat takwa. Sebagai Allah menjelaskan bahwa Allah “memanggil” orang-orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa agar mereka mendapatkan predikat atau derajat takwa.

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS Al Baqarah 183)

Mencapai tujuan dari sebuah perjalanan panjang tentu menjadi impian yang diharapkan semua orang, seperti seorang ayah yang bekerja dengan tujuan membahagiakan keluarga, seorang ibu yang bekerja dan mengurus rumah tangga dengan tujuan kebahagiaan keluarga, begitu pun orang-orang yang berpuasa memiliki tujuan yaitu kemenangan. Dalam hal ini kemenangan yang paling ditunggu adalah Hari Raya Idul Fitri.

Idul Fitri menjadi hari kemenangan bagi yang menjalankan ibadah puasa. Hari Raya Idul Fitri menjadi momen pencapaian setelah sebulan penuh menahan diri dari rasa lapar dan haus, menjaga hawa nafsu serta “memaksa diri” untuk menjadi lebih baik dengan melakukan amalan-amalan baik lainnya. Idul Fitri juga menjadi penantian sebagai hari kemenangan dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Momen hari kemenangan juga sebagai pertanda kita mampu melawan hawa nafsu yang ada pada diri kita sendiri karena sesungguhnya jihad (usaha) yang paling berat adalah melawan diri kita sendiri.

Secara bahasa, Idul Fitri dalam kamus “Al-Munawwir Arab–Indonesia”, al fith-ru (الفطر) berarti kasru ash-shawmi, yang memiliki arti hal buka puasa. Selain kata fith-run, buka puasa disebut juga ifthâr (sighat mashdar dari afthara – yufthiru). Senada dengan hal tersebut, makan pagi yang dalam bahasa Inggris kita kenal dengan istilah breakfast (menghentikan puasa), dalam bahasa Arab disebut futhûr.

Dengan demikian, Idul Fitri (عيدالفطر) bermakna hari raya berbuka. Dari uraian bahasa tersebut, Idul Fitri dapat diterjemahkan sebagai hari raya di mana umat Islam wajib berbuka atau kembali makan. Sedangkan ahli tafsir Indonesia, Prof M. Quraish Shihab dalam wawasan Al-Quran, Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat, menerangkan bahwa kata fithr antara lain berarti asal kejadian, agama yang benar, atau kesucian.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan pula bahwa Idul Fitri bisa diartikan bahwa kita kembali. Kedua pengertian tersebut dapat kita jadikan ukuran diri, posisi mana yang saat ini kita tempati? Apakah Idul Fitri kembali makan ataukah kembali suci (fitrah)?

Dua definisi di atas memiliki penjelasan sebagai berikut, bahwa kembali makan adalah; jika kita tidak dapat menahan diri dan bahkan sampai sakit perut akibat berlebihan makan. Artinya, kita telah gagal menjadi pemenang, idealnya adalah puasa mengajarkan kita untuk bisa menahan diri dan tidak berlebihan terhadap sesuatu. Sedangkan kembali suci atau kembali fitrah adalah lebih mengacu kepada orientasi jiwa dari perjalanan puasa selama bulan Ramadhan. Idul Fitri adalah kembali pada jiwa yang suci kita mampu berbenah diri untuk disiplin dan tertib menjalankan salat, melebur dalam kedamaian saling memaafkan bukan kebencian, iri, dengki, amarah, dan kesombongan.

Namun, selain hari raya kemenangan dan kesucian, Idul Fitri juga dapat dimaknai sebagai hari raya kesucian dan kekuatan. Fitrah tidak hanya bermakna suci, tetapi juga kekuatan. Setelah sebulan penuh berpuasa, kaum beriman diharapkan dapat terlahir kembali dengan fitrah kemanusiaan yang suci, bersih dari dosa, dan mendapat kekuatan baru. Karena sejatinya ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan mengandung dua arti, yaitu tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tarbiyatun nafs (penguatan diri). Ramadhan menjadikan kita bersih hati dan kuat diri, baik lahir maupun bathin.

Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri, semoga Allah berkenan memberikan dan menempatkan kita kepada derajat takwa sehingga kita menjadi bagian dari hamba-hambanya yang beruntung, yaitu orang-orang yang bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan meningkatkan intensitas ibadah dan “berburu” keutamaan-keutamaan di dalamnya. Hal yang juga penting menjadi pengharapan kita semua adalah semoga Allah Kembali mempertemukan kita di bulan suci Ramadhan di tahun-tahun selanjutnya. Aamiin.

 

 

*Dosen Fakultas Syairah dan Ilmu Hukum UIN Sayyid Ali Rahmatullah, Tulungagung.


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan