Idealisme Jurnalistik dan Kodifikasi Karya dengan Segudang Pengalaman di Dunia Media - Tugujatim.id

Idealisme Jurnalistik dan Kodifikasi Karya dengan Segudang Pengalaman di Dunia Media

  • Bagikan
Pertemuan Dr Aqua Dwipayana dengan Ahmad Atho’ilah di rumahnya di salah satu perumahan di Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Senin (13/9/2021). (Foto: Moch Abdurrochim/Tugu Jatim)

Oleh Mochamad Abdurrochim*

TUBAN, Tugujatim.id – Beberapa hari mendampingi pakar komunikasi dan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana saat mengunjungi Kabupaten Tuban membuat saya seperti mendapat siraman air hujan yang begitu menyegarkan.

Bagaimana tidak, setiap tempat yang disinggahi (silaturahmi) selalu saja menemukan pelajaran yang perlu saya catat dalam menjalankan profesi jurnalistik guna menambah semangat untuk menekuni dunia media ini.

Saya menyakini, tidak semua orang diberikan kesempatan yang sama menjalani karir dalam hidupnya. Menjadi seorang pengusaha, guru, dll. Pun sama menjadi seorang jurnalis.

Profesi yang memiliki tanggung jawab yang besar. Baik kepada manusia juga kepada Tuhan Yang Maha Esa, selain itu juga menjadi seorang jurnalis memiliki tantangan besar. Tantangan menjawab proses bergeraknya dunia informasi yang cepat, menyajikan informasi yang akurat, dan mudah dikomsumsi masyarakat.

Meskipun begitu, menurut saya profesi ini memiliki banyak manfaat yang melekat bagi seorang wartawan, di antaranya: relasi, akses informasi ekslusif, dan banyak lagi yang lainnya.

Namun selain itu ada hal yang jarang diketahui tentang wartawan yang sering orang mengonotasikan buruk profesi ini. Apakah itu? Yaitu seorang wartawan harus memilik prisnsip dalam menjalankan kegiatan jurnalistik.

Mengujungi Wartawan Muda, Berdiskusi tentang Idealisme Jurnaslitik

Di dalam kode etik jurnalistik, tak diperkenankan menerima pemberian atau suap dari pihak-pihak luar. Suap dikhawatirkan dapat memengaruhi independensi dan idealisme seorang jurnalis.

Mungkin pengantar inilah yang disampaikan pakar komunikasi dan motivator nasional Dr Aqua Dwipayana saat mengunjungi, Ahmad Atho’ilah, salah satu wartawan muda yang berada di Bumi Wali, julukan Kabupaten Tuban ini.

Kala itu, dia meminta saya untuk mengantarkan ke rumahnya. Mungkin saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 22.00 WIB. Fisik saya yang masih muda. Seakan tidak bisa mengimbangi mobilitasnya dalam bersilaturahmi. Padahal, Aktivitas yang dilakukannya mulai Senin (13/9/2021) dini hari hingga malamnya.

“Tolong saya antarkan ke rumah Athok, ya mas Rochim. Tadi kelihatannya dia tertarik dengan obrolan kita saat pertemuan dengan teman-teman wartawan di Balai Wartawan siang tadi,” pinta bapak dari dua anak ini.

Tanpa berpikir panjang. Saya pun dengan secapat kilat mengiyakan. Di perjalanan, saya diminta untuk memastikan keberadaan wartawan yang bekerja di Radar Tuban itu.

“Coba telepon, mas. Dia ada di rumah gak?” katanya.

Akhirnya kami sampailah di rumahnya di kawasan perumahan di Kecamatan Semanding.

“Saya dulu memang pernah melakukan itu. terus Istri saya tahu, saya menerima amplop. Dia bertanya pada saya. Dan dipaksa mengambil keputusan. Masih menerima itu? Atau kita sudahi hubungan ini,” kata Dr. Aqua.

Aqua merasa heran dengan prinsip yang dipegang oleh istrinya. Tidak ingin menerima uang dari hasil amplopan, dibandingkan dengan hubungan ikatan pernikahannya.

Sejak saat itu lah, setiap kali melakukan kegiatan jurnalistik, dia tidak pernah menerima amplopan. Dan anehnya, bapak dari dua anak ini bisa menabung. Walaupun tidak seberapa nilainya yang dibandingkan masih menerima uang, tidak ada hasilnya.

“Benar, pak. Saya pun juga melakukan hal itu. Ternyata setelah saya tolak dan mengarahkan ke iklan saja. Rezeki yang saya terima malah lebih banyak lagi,” ucapnya.

Saya yang hanya menjadi pendengar selama pertemuan itu, seperti mendapatkan nasihat menghujam. Bagaimana prinsip dan sikap idealisme mereka dalam menekuni jusnalistik amatlah teguh digenggam. Bukannya hanya oleh pelaku profesi, namun juga oleh keluarga terutama istri.

Idealisme jurnalistik menjadi jati diri seorang wartawan yang melekat. Menjadi hal penting yang seakan-akan tidak penting oleh sebagian orang. Padahal hal tersebut merupakan pondasi dasar yang harus dimiliki seorang jurnalis.

Di akhir pertemuan, obrolan pun mengarah pada sebuah karya yang dikodifikasikan atau kata lain, bisa dibukukan. Sebab, dengan segudang pengalaman dan cara dalam menulis yang telah dikuasai. Tentunya bisa menghasilkan karya buku.

“Saya salut pada sampean mas Atok. Hingga bisa membuat buku. Saya melihat di luar sana, banyak senior sampai dengan pensiun tidak memilik karya yang dibukukan,” tandas penulis buku super best seller, “The power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi” tersebut.

 

*Wartawan Tugu Jatim (Tugujatim.id) area Tuban, Jawa Timur

  • Bagikan