JEMBER, Tugujatim.id – Dosen sekaligus peneliti Fakultas Teknik (FT) Universitas Jember (Unej), Dr. Ike Fibriani, S.T., M.T., berhasil mengharumkan nama kampusnya di tingkat internasional lewat inovasi Face Recognition melalui Mikroekspresi.
Ike mengembangkan konsep inovatif untuk identifikasi hubungan keluarga atau Kinship Recognition dengan memanfaatkan dua teknologi canggih, yakni Vision Transformer (ViT) dan Mamba. Sistem ini menggunakan model hybrid yang disebut VitMa, menjadikannya terobosan baru dalam bidang pengenalan wajah melalui mikroekspresi.
Dosen pengajar S1 dan S2 Teknik Elektro ini menyampaikan bahwa, penelitiannya berfokus pada identifikasi hubungan keluarga atau Kinship Recognition melalui mikroekspresi pada wajah orang Indonesia.
“Model hybrid ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dalam mengenali hubungan keluarga yang sebelumnya masih menjadi tantangan besar dalam penelitian pengenalan wajah dan belum ada riset sebelumnya korelasi antara kinship dan mikroekspresi,” jelas dosen yang juga aktif mengajar di Kampus Vokasi Unej itu.
Tambah Dr Ike, penelitiannya menjadi inovasi baru dan pertama di dunia karena beberapa alasan. Salah satunya, belum ada satu riset yang membahas korelasi antara kinship dan mikroekspresi.

“Selain itu, menggabungkan dua teknologi canggih ViT dan Mamba yang kemudian saya beri nama ViTMa, dalam satu model hybrid untuk kinship recognition yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kombinasi ini memungkinkan secara efektif mendeteksi ekspresi wajah yang sangat halus,” imbuhnya.
Berawal dari ketertarikannya dengan pengembangan teknologi pengenalan wajah dan aplikasi dalam konteks hubungan keluarga, Ike Fibriani terus mengembangkan penelitiannya dan berfokus kepada pengenalan hubungan keluarga dengan pendekatan mikroekspresi.
Melalui penelitiannya ini, ia memiliki banyak tujuan di antaranya mengidentifikasi hubungan keluarga melalui pendekatan mikroekspresi pada wajah orang Indonesia, mengembangkan model hybrid dengan menggabungkan teknologi ViT dan Mamba, meningkatkan akurasi dalam mengenali hubungan keluarga, dan memberikan kontribusi pada pengembangan teknologi pengenalan wajah yang lebih sensitif terhadap konteks budaya lokal.
Meskipun penelitiannya telah menjadi inovasi pertama di dunia, Ike Fibriani masih akan terus memberikan inovasi baru terhadap hasil penelitian ke depan.

“Inovasi utama yang akan saya lakukan terhadap penelitian ini ialah meningkatkan kemampuan model dalam mendeteksi mikroekspresi dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi, memperluas dataset yang digunakan, mengintegrasikan model ini dengan teknologi pengenalan suara atau analisis teks, dan mengembangkan aplikasi praktis yang lebih luas,” bebernya.
Di sisi lain, ia juga memberikan tip bagi mahasiswa untuk terus bisa berinovasi di tengah maraknya perkembangan teknologi yang canggih.
BACA JUGA: Vest Health si Rompi Pintar Mampu Antisipasi Risiko Kecelakaan Lalu Lintas
Dikatakan Ike Fibriani, mahasiswa harus pandai berinovasi di tengah maraknya perkembangan teknologi, mampu mengikuti perkembangan terkini dan aktif mengikuti perkembangan terbaru.
“Kolaborasi antar disiplin ilmu tidak hanya mengetahui bidang satu ilmu saja mereka harus berkolaborasi dengan mahasiswa atau profesional dari bidang ilmu lainnya, berani gagal harus terus mencoba dan gunakan teknologi untuk memecahkan masalah nyata,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter : Feni Yusnia
Editor: Darmadi Sasongko








