Kasus DBD di Kabupaten Pasuruan Sepanjang 2020 Turun jadi 116 Kasus

  • Bagikan
Ilustrasi penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pasuruan. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Pasuruan. (Foto: Pixabay)

PASURUAN, Tugujatim.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Pasuruan sepanjang tahun 2020 mengalami penurunan dari tahun sebelumnmya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pasuruan, angka kasus tahun 2019 sebanyak 130 kasus dengan 2 angka kematian, sedangkan tahun 2020 terjadi penurunan sebanyak 116 kasus.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Pasuruan, Agus Eko Wahyudi menyampaikan bahwa dari 116 kasus DBD sepanjang 2020, kejadian paling banyak terjadi di triwtulan pertama antara Januari-Maret. Dengan total sebanyaj 60 kasus.

Baca Juga: 6 Rekomendasi Drama Saeguk, Drama Korea Berlatar Belakang Kerajaan

Kemudian di triwulan kedua dengan 42 kasus, triwulan ketiga 8 kasus, dan triwulan keempat 6 kasus.

“Di triwulan pertama, kejadian warga yang terserang demam berdarah paling banyak pada bulan Maret ada 20 orang. Kemudian bulan Februari ada 19 orang dan bulan Januari sebanyak 20 orang,” ujar Agus, Rabu (06/01/2021).

Rata-rata, kasus demam berdarah di Kabupaten Pasuruan menyerang warga dengan rentang usia produktif yakni antara 5-44 tahun dan paling banyak terjadi di wilayah Kecamatan Sukorejo, Wonorejo, Prigen dan Purwodadi. Kata Agus, paling banyak menyerang usia remaja, karena perilaku hidup bersih yang kurang.

“Aktivitas yang berlebihan kemudian ketika drop, nyamuk demam berdarah langsung datang dan menggigitnya. Kebanyakan karena menjaga kebersihan yang kurang sehingga nyamuk gampang masuk,” terangnya.

Agus Menambahkan, menurunnya tren kasus demam berdarah atau DBD dalam dua tahun terakhir lantaran partisipasi masyarakat dalam melakukan pencegahan sangat tinggi. Utamanya dengan hadirnya para kader Jumantik (juru pemantau jentik) di masing-masing kecamatan, desa, hingga sampai di level RT, RW dan masing-masing warga secara individual.

Baca Juga: Mengenal Prialangga, Kreator di Balik Layar Video Klip Raisa ‘Bahasa Kalbu’

“Kader Jumantik bukan hanya di tingkat kecamatan, tapi setiap warga bisa menjadi kader Jumantik. Melihat sendiri-sendiri apakah jentik nyamuk ada di tempat-tempat yang dipenuhi air atau tidak,” pungkasnya

Dan yang terpenting, pihaknya selalu mengimbau masyarakat agar tetap menjaga lingkungan dan kesehatan tubuh dan melaksanakan 3M. Yakni menutup tempat-tempat air, menguras bak mandi seminggu sekali dan mengubur barang-barang bekas.(Agus Set/gg)

  • Bagikan