Kisah di Balik Watu Gong Kota Malang, Sempat Dicuri Gunakan Ilmu Hitam

Kisah di Balik Watu Gong Kota Malang, Sempat Dicuri Gunakan Ilmu Hitam

  • Bagikan
Situs Watu Gong di Kota Malang tampak dari depan.
Situs Watu Gong di Kota Malang tampak dari depan. (Foto: Yolanda Natasya Clara Dilla)

MALANG, Tugujatim.id – Situs Watu Gong Kota Malang tidak hanya menandai peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, tetapi ada kisah-kisah menarik tentangnya. Salah satunya, batu-batu yang ada di situ sempat dicuri oleh seseorang yang menggunakan ilmu hitam.

Situs yang kini telah menjadi cagar budaya di Kota Malang ini berada di Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Tepatnya, berada tidak jauh dari Universitas Brawijaya Malang.

Menurut penuturan banyak orang, dinamakan Watu Gong karena batu yang ditemukan menyerupai alat musik tradisional yaitu gong. Sehingga warga menamakan situs tersebut dengan istilah Watu Gong.

Pada Rabu 22 Juni 2022, wartawan Tugu Jatim berkunjung ke lokasi tersebut. Di sana ditemui oleh Miftahul Huda selaku juru kunci saat ini. Dalam kesempatan itu, dia menceritakan bahwa situs ini masih ada hubungannya dengan prasasti Dinoyo yang menunjukkan bahwa masih terkait dengan Kerajaan Kanjuruhan.

Dilansir dari travelingyuk.com, prasasti Dinoyo bertahun 760 M. Pada bait ke 7 prasasti itu tertulis adanya pembangunan rumah besar untuk Brahmana. Hal itu dikuatkan dengan adanya penemuan umpak atau
batu yang mirip dengan gong yang fungsinya sebagai pondasi untuk rumah pada zaman itu dan juga lesung untuk menumbuk padi.

Batu yang ditemukan jumlahnya ada 12, arca sejumlah 5 buah lalu lesung penumbuk padi 1 buah. Benda-benda ini ditemukan oleh warga yang bekerja sebagai pembuat batu bata pada tahun 1985.  Saat warga menggali tanah menemukan benda aneh lalu digali terus menerus hingga ditemukan sejumlah batu-batu tersebut.

Miftahul Huda, juga menejelaskan bahwa batu-batu dan arca yang ada di situs tersebut pernah dicuri orang tak dikenal. Anehnya, pencurian tersebut tidak diketahui warga sekitar.

“Pencuri batu dan arca tersebut menggunakan ilmu hitam karena saat mencurinya tidak terdengar suara-suara aneh oleh para warga,” kata dia.

Adapun luas pendopo situs ini adalah 12 x 10 meter. Dengan bagian belakang 10 meter dan bagian depannya 12 meter. Situs ini pernah direnovasi pada tahun 2020 lalu oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Sementara, kepengurusan situs ini melalui Kantor Trowulan yang ada di Mojokerto. Dari informasi yang didapatkan jika ada kerusakan ataupun hal yang berhubungan dengan situs ini harus langsung melaporkan kepada pihak pariwisata Trowulan.

Situs watu gong dipercaya oleh warga untuk menaruh sesajen. Konon, jika tidak menaruh sesajen saat akan ada hajatan besar atau perayaan oleh warga sekitar maka akan ada saja masalah yang datang pada saat acara dilaksanakan.


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan