Kisah Mahasiswa UM Belasan Kali Gagal Seleksi Pertukaran Pelajar, Tahun Ini Lolos IISMA

  • Bagikan
Haidir Algi G., mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) yang lolos seleksi program pertukaran pelajar IISMA 2021. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Haidir Algi G., mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) yang lolos seleksi program pertukaran pelajar IISMA 2021. (Foto: Dokumen)

MALANG, Tugujatim.id – Namanya Haidir Algi G., mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Tahun ini Haidir telah lolos seleksi program pertukaran pelajar dalam program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2021.

Haidir pun merasa senang sekali karena dia akan belajar di Palacky University Olomouc, Republik Ceko. Namun, kesuksesannya kali ini tak lepas dari tekad yang kuat karena belasan kali dia pernah gagal lolos seleksi program pertukaran pelajar.

Kepada Tugujatim.id, mahasiswa semester 6 ini menceritakan, dirinya melakukan persiapan sejak April 2021 atau saat jurusan menginformasikan adanya program IISMA.

“Ada sekitar 3.000 mahasiswa se-Indonesia yang daftar lho. Awalnya seleksi berkas, lalu setiap kampus ada seleksi internal di fakultas. Dan bersyukur saya bisa lolos dan mendapat bimbingan dari dosen,” kata mahasiswa kelahiran Tenggarong, Kaltim, ini.

Tentunya, karena lolos dalam program pertukaran pelajar ke luar negeri ini, Haidir sangat senang dan tak berhenti bersyukur karena belasan kali mencoba tapi selalu gagal. Bahkan, dia sudah mencobanya sejak masih duduk di bangku SMA, tapi tidak pernah berhasil untuk berangkat.

Haidir melanjutkan ceritanya, bahkan dia lolos seleksi program pertukaran pelajar ke Thailand. Namun, karena program tersebut tidak memberikan pembiayaan penuh, Haidir pun memilih mundur. Meski sebenarnya dia mengaku ingin sekali bisa lolos seleksi program belajar di Amerika Serikat. Tapi, menurut dia, belajar di Republik Ceko juga sangat keren.

“Saya senang sekali, semoga semua urusan visa dan lain-lainnya lancar karena agak ribet, ini musim pandemi Covid-19. Tapi, orang tua sangat bangga karena saya bisa lolos seleksi dan dapat pembiayaan penuh. Orang tua merestui saya,” kata Haidir.

Sementara itu berbeda dengan Haidir, Gebrilia Indra Parasanty, mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra UM, ini justru akan berangkat ke KU Leuven, Belgia. Bahkan, Gebril, sapaan akrabnya, baru kali ini ikut program pertukaran pelajar dan lolos. Mahasiswi asal Banyuwangi ini sangat senang bisa lolos seleksi program IISMA.

“Saya belum pernah ikut seleksi program seperti ini. Saya sangat senang sekali bisa lolos. Yang paling susah saat itu tes wawancara karena tidak tahu topik apa yang akan ditanyakan oleh kurator. Ya, nervous,” ujarnya.

Gebril memang sejak dulu bermimpi bisa belajar ke luar negeri. Dia mengaku ingin sekali belajar di New Zealand. Namun, di program IISMA ini, negara tersebut lagi tutup border. Akhirnya dia memilih belajar di Belgia.

“Di KU Leuven, mata kuliahnya juga menarik dan dosen saya merekomendasikan ke Belgia. Ya, kampusnya masuk Top 100 Dunia juga. Ini akan menjadi pengalaman penting dan berharga buat saya,” tambahnya.

Gebril pun mengaku tidak khawatir nantinya belajar di Belgia. Dia melanjutkan, karena ada 9 mahasiswa Indonesia lainnya yang juga lolos seleksi dan belajar di sana. Meski saat ini masih pandemi Covid-19, Gebril optimistis bisa berangkat ke Belgia.

“Saya di Malang juga hidup mandiri, jadi tidak khawatir nanti di Belgia. Saat ini Belgia tutup border untuk Indonesia, tapi saya optimistis bisa berangkat. Keluarga saya sangat mendukung dan tidak kalah excited dengan saya. Saya juga sekarang belajar bahasa Belanda (bahasa yang dipakai di Belgia),” tandasnya.

Untuk diketahui, IISMA 2021 adalah program pertukaran pelajar mahasiswa Indonesia ke luar negeri, diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan LPDP sebagai salah satu program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Ada 1.000 mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia yang berhasil lolos seleksi program ini.

  • Bagikan