Kisah Pilu Ibu Meninggal karena Covid-19, Ayah Dirawat di RS, 3 Bocah di Malang Jalani Isoman tanpa Orang Tua

  • Bagikan
Kakak dan adik di Kota Malang ini tampak masih ceria meski menjalani isoman tanpa kehadiran kedua orang tuanya, Senin (19/07/2021). (Foto:Istimewa/Tugu Jatim)
Kakak dan adik di Kota Malang ini tampak masih ceria meski menjalani isoman tanpa kehadiran kedua orang tuanya, Senin (19/07/2021). (Foto:Istimewa)

MALANG, Tugujatim.id – Ada 3 bocah di Kota Malang yang terpaksa menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah tanpa kehadiran orang tuanya. Diketahui, sang ibu mereka wafat akibat terpapar virus Covid-19. Begitu juga sang ayah, sedang dalam perawatan di rumah sakit, juga akibat paparan virus asal Wuhan, China ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, satu keluarga di Perumahan Puskopad, RT 05, RW 03, Buring, Kota Malang, ini terkonfirmasi positif Covid-19 setelah menjalani tes swab pada 3 Juli 2021. Hal ini dikatakan Ketua RT setempat Pudjo Leksono, 58, kepada reporter saat ditemui di kediamannya, Senin (19/07/2021).

Dia menceritakan, awal paparan ini diketahui dari sang ayah, SB, 52, hingga dilakukan pelacakan kontak erat. Hasilnya, satu keluarga yang terdiri dari 5 orang ini positif.

”Akhirnya, mereka semua dianjurkan isoman di rumah hari itu juga,” kisah Pudjo.

Selang 2 hari pada 5 Juli 2021, kondisi sang ayah terus memburuk karena memiliki penyakit komorbid jantung. SB dilarikan ke RSUD Kota Malang untuk dirawat. Kondisi serupa dialami sang ibu, IKW, 50, yang ikut memburuk dan menyusul masuk rumah sakit pada 11 Juli 2021.

Ketua RT setempat Pudjo Leksono, 58, menunjukkan lokasi rumah 3 bocah yang menjalani isoman tanpa orang tuanya, Senin (19/07/2021). (Foto:Azmy/Tugu Jatim)
Ketua RT setempat Pudjo Leksono, 58, menunjukkan lokasi rumah 3 bocah yang menjalani isoman tanpa orang tuanya, Senin (19/07/2021). (Foto:Azmy/Tugu Jatim)

Beruntung, 3 bocah ini tidak memiliki gejala signifikan. Kondisinya terus membaik hingga saat ini. Namun, kabar pilu datang 7 hari kemudian, pada Minggu (17/07/2021), sang ibu diketahui mengembuskan napas terakhirnya.

”Sementara itu, sang ayah dikatakan kondisinya mulai membaik. Tapi, masih dalam perawatan medis. Selebihnya, hanya petugas puskesmas yang tahu update kondisinya,” terang dia.

Gerak Cepat Tetangga Pantau Kondisi 3 Bocah Ini

Wujud ketangguhan kampung Perum Puskopad, RT 5, RW 3, dalam penanganan Covid-19 ini sangat terasa. Usai mendengar kabar ini, warga langsung bergerak cepat mensterilisasi kampung secara rutin.

Selain itu, jaminan kelangsungan hidup ketiga bocah yang masih kecil ini juga disokong bersama oleh para tetangga. Apalagi, melihat kondisi anak pertama yang adalah anak berkebutuhan khusus (ABK). Praktis saat di rumah, anak kedua yang berusia 12 tahun yang menjadi anak sulungnya.

”Setiap hari kami suplai makanan rutin, pagi, sore, dan malam. Kami juga ikut pantau kondisi mereka lewat ponsel dan terus koordinasi dengan puskesmas. Saudara-saudara mereka juga ikut mantau tiap hari. Alhamdulillah, mereka sehat-sehat saja,” jelas dia.

Sejauh ini, kondisi ketiga bocah itu baik-baik saja. Pudjo mengatakan, mereka rupanya sudah terbiasa hidup mandiri. Bahkan, mereka bisa menanak nasi sendiri. Kini Pudjo dan warga sekitar fokus menjaga kondisi psikis sang anak agar tidak mengalami trauma akan kondisi ini.

”Jadi, kami tinggal kontrol lewat ponsel. Kami pantau terus, mau makan apa biar mereka gak sedih, kami turuti, kami masakin. Kami terus pantau sampai masa isomannya selesai,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sesuai keterangan dari puskesmas setempat, masa isolasi mandiri ketiga anak ini akan berakhir dalam 1-2 hari ke depan.

  • Bagikan