Kisah Suka Duka Perawat di Isoter YPPII Kota Batu - Tugujatim.id

Kisah Suka Duka Perawat di Isoter YPPII Kota Batu

  • Bagikan
Wiwik Safitri, perawat yang mendedikasikan dirinya melayani pasien positif Covid-19 di isoter YPPI Kota Batu. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Wiwik Safitri, perawat yang mendedikasikan dirinya melayani pasien positif Covid-19 di isoter YPPI Kota Batu. (Foto: M. Ulul Azmy/Tugu Malang/Tugu Jatim)

BATU, Tugujatim.id – Kasus Covid-19 selama 2 bulan terakhir yang meledak, membuat penanganan pasien orang tanpa gejala (OTG) harus dipusatkan di tempat isolasi terpusat (isoter), termasuk di Kota Batu. Selama masa di isoter, ada banyak kisah suka duka dari perawat yang melayani para pasien Covid-19. Seperti apakah suka dukanya?

Salah satunya seperti yang dialami oleh Wiwik Safitri, 22, alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang bertugas di Yayasan Pelayanan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) Kota Batu. Dia sudah bertugas di sana sejak 7 bulan lalu. Selama setengah tahun itu, dia telah berhadapan dengan banyak karakter pasien. Mulai yang ramah hingga tidak mengenakkan, ada yang baik, ada yang suka marah-marah, bahkan pasien mengancam bunuh diri.

”Iya waktu Maret 2021 lalu itu ada yang ngancam bunuh diri. Dia merasa isoter ini kayak penjara. Padahal kan tidak, di sini kami memberi perawatan yang baik,” kisah dia pada awak media, Selasa (12/10/2021).

Tak hanya itu, Wiwik juga kerap mendapat ancaman tidak mengenakkan. Banyak pasien yang selalu marah-marah karena merasa dikurung seperti di penjara.

”Waktu itu saya gak berani dan akhirnya minta bantuan ke babinsa,” kata dia.

Meski begitu, pengalamannya pun tak melulu buruk. Perempuan berusia 22 tahun itu juga masih merasa nyaman bekerja di sana. Dia didukung dengan rekan kerja yang ramah selama bertugas. Bagaimanapun, dia mengatakan, kerjanya adalah sebuah kewajiban.

Wiwik memutuskan bekerja di tengah orang-orang yang terpapar Covid-19 bukan tanpa alasan. Dia memberanikan diri bertugas di isoter karena memang sedang butuh pekerjaan. Karena itu, setiap hari dia masih merasa waswas.

Meski sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat, dia masih tetap saja terpapar Covid-19 beberapa bulan lalu saat memberikan perawatan kepada pasien. Beruntung, dia tak memiliki gejala yang parah.

”Saya akhirnya dirawat 10 hari di isoter,” kata dia.

Hingga hari ini, dia masih waswas karena harus berinteraksi dengan orang-orang yang positif Covid-19 setiap hari.

”Tapi, saya percaya dan tetap waspada. Disiplin prokes dan banyak mengonsumsi vitamin,” yakinnya.

Kini Wiwik ikut lega sejak mulai melihat adanya tren penurun kasus penularan, terutama di Kota Batu. Di mana tingkat keterisian pasien di sini mulai menurun dibanding sebelumnya.

Dia mengatakan, keterisian paling tinggi yang pernah tercatat mencapai 112 bed dari total 156 bed. Nah, selama 2 hari ini tercatat sudah 0 pasien.

”Tertinggi pernah tembus 112 pasien karena memang kasus Covid-19 sedang meledak sekitar Juli-Agustus 2021. Meski begitu, kami tetap stand by buat jaga-jaga sampai kondisnya dinyatakan kondusif,” ujarnya.

  • Bagikan