JEMBER, Tugujatim.id – Syarat akan makna, lukisan bertajuk Majma’al Bahrain Karya Akhmad Horizi, seniman Kabupaten Jember, ditampilkan pada pagelaran seni di Jember Kreatif Lab (J-Klab).
Majma’al Bahrain secara harfiah dapat diartikan sebagai Pertemuan Dua Lautan, yang terlihat jelas melalui goresan Horizi dalam menghadirkan dua sisi lautan yang berbeda. Terlihat dengan jelas melalui kontras warna yang dihasilkan.
Pada bagian sentral lukisan, kepiawaian nya dalam melukis ditunjukkan melalui gambar ikan yang dibuat dengan detail. Sedangkan pada bagian atas ikan, begitu aneh namun tersirat makna mendalam dari adanya gambar busur yang dihadirkan dari tangan kreatif Horizi.
Kepada Tugujatim.id Horizi menyampaikan bahwa, lukisan bertajuk Majma’al Bahrain terinspirasi dari kisah yang disampaikan Cak Nun (Emha Ainun Najib), di mana kisah tersebut juga tertuang di dalam Alquran surat Alkahfi ayat 60 hingga 63.
BACA JUGA: Kenal Lebih Dekat Tradisi Nikah Malem Songo di Tuban, Kerap Disebut Nikah Pemutihan
Horizi menjelaskan bahwa, lukisan tersebut menceritakan kisah Nabi Musa yang diperintah Allah SWT melakukan perjalanan. Nabi Musa kehilangan ikan santapannya di Majma’al Bahrain atau Pertemuan Dua Lautan, dalam perjalanan menemui Nabi Khidir.
“Majma’al Bahrain adalah pertemuan atau benturan antara dua lautan letaknya di sebelah utara Maroko dan selatan Spanyol saat ini, laut itu adalah benturan antara Samudra Atlantik dan Laut Mediterania yang memiliki suhu dan kadar garam yang jauh berbeda,” jelas Horiizi.

Sedangkan busur, yang terdapat pada bagian atas ikan, dapat dimaknai secara luas oleh masing-masing penikmat lukisanya. Tetapi, Horizon menegaskan bahwa, busur tersebut sebagai tanda jika anak muda saat ini cenderung menggunakan kemajuan teknologi dan jarang mengetahui asal usul, serta akar dari peradaban.
Padahal, kemajuan yang saat ini terjadi, tidak terlepas masa lalu, yang ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan terdahulu. “Busur itu adalah penemuan ilmuwan muslim Al-Khawarizmi, yang merupakan awal dari lahirnya algoritma,” tegas Horizi.
BACA JUGA: Usia Ratusan Tahun, Masjid Agung Darussalam Mojokerto Pertahankan Bagian Bernilai Sejarah
Secara garis besar, Horizi menjelaskan bahwa, ikan pada lukisan Majma’al Bahrain seperti hidup yang di dalamnya terjadi benturan, tersirat melalui pertemuan dua lautan. “Ketika benturan itu hadir, yang bahkan mungkin membuat kita hampir saja mati, justru bisa membuat kita hidup kembali, bersyukurlah ketika saat ini kita merasakan benturan, dengan itu kita harus menjadi lebih baik, kreatif, kuat, lebih siap untuk berjuang, bahkan kita yang hampir mati bisa hidup kembali,” pungkas Horizi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor : Darmadi Sasongko








