Makna Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Umat Islam Jawa Peninggalan Sunan Kalijaga - Tugujatim.id

Makna Filosofi Lebaran Ketupat, Tradisi Umat Islam Jawa Peninggalan Sunan Kalijaga

  • Bagikan
Filosofi Lebaran ketupat. (Foto: Unsplash/Tugu Jatim)
Ilustrasi Lebaran ketupat, makanan khas saat Hari Raya.(Foto: Unsplash)

PASURUAN, Tugujatim.id – Umat Islam di Jawa punya beragam tradisi unik untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah. Salah satunya dengan menggelar tradisi Lebaran Ketupat. Sebenarnya apa sih filosofi Lebaran Ketupat itu?

Tradisi Lebaran Ketupat diibaratkan sebagai sesi perayaan Lebaran kedua. Lebaran pertama adalah Idul Fitri yang dirayakan setelah salat Id pada 1 Syawal 1443 H atau Minggu (02/05/2022). Sementara Lebaran Ketupat nantinya diperingati satu minggu setelahnya, tepatnya pada 8 Syawal 1443 H atau Senin (09/05/2022).

Filosofi Lebaran Ketupat itu merupakan makanan tradisional berupa beras ketan yang dibungkus daun kelapa dan dibentuk segi empat. Pemilihan ketupat sebagai makanan khas saat Lebaran ternyata punya makna filosofis yang dalam.

Dikutip dari laman NU Online, tradisi Lebaran Ketupat kali pertama dicetuskan anggota Walisanga, yakni Sunan Kalijaga. Kala itu ketupat yang telah dimasak, dibagikan kepada para tetangga serta kerabat dekat sebagai bentuk kasih sayang dan kebersamaan antar sesama manusia.

Selain itu, kata ketupat atau kupat sendiri dipercayai mempunyai dua arti. Pertama, “kupat” dapat diartikan sebagai singkatan dari “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Dengan kata lain, ketupat sendiri dimaknai sebagai simbol ajakan untuk saling bermaaf-maaf saat Idul Fitri, baik meminta maaf lewat tradisi sungkeman kepada kedua orang tua maupun meminta maaf kepada para tetangga, saudara, dan kerabat.

Untuk makna filosofi Lebaran Ketupat lain dari istilah “kupat” adalah laku papat atau 4 tindakan. Yaitu, 4 tindakan ini dimaknai orang Jawa sebagai lebaran, luberan, leburan, dan laburan.

Untuk lebaran berarti berakhir atau selesainya ibadah puasa Ramadhan digantikan dengan hari kemenangan. Sementara luberan berarti meluber atau tumpah, di mana umat Islam menyedekahkan kelebihan atau luberan hartanya pada fakir miskin dan anak yatim.

Untuk leburan berarti melebur atau menghabiskan segala dosa dan kesalahan dengan cara saling bermaafan. Terakhir, labur berarti melapisi dengan kapur. Warna kapur yang putih menyimbolkan kembalinya kebersihan dan kesucian hati kita di hari yang fitri.

 

 


Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim

 

 

  • Bagikan