Mantan Deputi Direktur BPJS Naker Jateng, Muhammad Triyono Rintis Percetakan Al-Qur’an

  • Bagikan
Percetakan Al-Qur'an di Semarang yang dirintis oleh Muhammad Triyono, Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng.
Percetakan Al-Qur'an di Semarang yang dirintis oleh Muhammad Triyono, Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng. (Foto: Dokumen)

SEMARANG, Tugujatim.id – Masa purna tugas, menjadi waktu para pegawai untuk regenerasi sekaligus beristirahat. Sembari menikmati masa tua.
Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Muhammad Triyono. Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng yang baru pensiun 1 September 2020 ini, justru memilih merintis usaha percetakan Al-Qur’an di Semarang.

Percetakan tersebut bernama CV Alfikri Semarang. Dirintis bersama rekan-rekannya sejak tahun 2019 lalu. Alasannya sederhana, hanya ingin agar masa tuanya tetap aktif dan produktif.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

“Jadi kan saya mau purna tugas. Saya berfikir ini harus ada killing time (mengisi waktu). Tapi tanpa meninggalkan pendapatan. Kemudian saya ngobrol sama teman-teman. Rupanya ada yang punya pengalaman disitu (percetakan Al-Quran),” jelasnya.

“Waktu itu ada ada satu mesin percetakan tidak dipakai karena berhenti dan hampir bangkrut. Maka mesin itu kita ambil. Kita coba kolaborasi dengan temen yang berpengalaman tadi,” imbuhnya.

Percetakan Al-Qur'an di Semarang yang dirintis oleh Muhammad Triyono, Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng. (Foto: Dokumen)
Percetakan Al-Qur’an di Semarang yang dirintis oleh Muhammad Triyono, Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng. (Foto: Dokumen)

Baca Juga: Apa Anda Sudah Terdaftar sebagai Penerima Vaksin COVID-19? Yuk, Cek Situs Ini

Dia mengaku, itupun harus menunggu mesin cetak dapat beroperasi normal selama 4 bulan, lantaran kondisinya yang sudah mulai rusak.

“Setelah itu berjalan, kita pasarkan dan alhamdulillah semua jalan. Meskipun oplahnya nggak terlalu besar tapi yang penting bisa menutup kebutuhan toko buku dan toko kitab yang jadi sasaran distribusi kita,” tambahnya.

Sejauh ini, percetakan milik Triyono memproduksi mulai dari Al-Qur’an, Al Berjanji, Jus Amma, hingga Yasin tahlil terjemah.

Usahanya juga sudah berkembang. Tak hanya kerap menerima pesanan dari dalam kota, namun juga luar kota, bahkan luar pulau Jawa seperti Sumatera.
Mempekerjakan hampir 15 orang karyawan, CV Alfikri bahkan pernah memproduksi hingga 5 ribu Al-Qur’an dalam satu bulan.

“Kondisi tertentu kami rekrut tenaga kerja lebih banyak. Misal ada order khusus, juga menyesuaikan dengan pasar ya, mana yang ramai, misal kalau waktu maulid, yang ramai Yasinnya, kadang juga Al-Qur-an,” jelasnya.

Saat ditanya kenapa Al-Qur’an, Triyono mengaku ibarat menyelam sambil minum air. Dia ingin menyeimbangkan kebaikan di dunia maupun di akhirat.

“Kita sih berharapnya setiap orang yang kemudian membeli dan membaca Al-Qur’an itu, akan mendapat pahala di tiap hurufnya. Kami ingin ada keseimbangan dunia dan akhirat. Sehingga kami nggak milih yang lain tapi lebih ke Al-Qur-an,” ujar pria asli Semarang itu.

Muhammad Triyono. Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng yang baru pensiun 1 September 2020 ini, justru memilih merintis usaha percetakan Al-Qur'an di Semarang. (Foto: Dokumen)
Muhammad Triyono. Mantan Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Jateng yang baru pensiun 1 September 2020 ini, justru memilih merintis usaha percetakan Al-Qur’an di Semarang. (Foto: Dokumen)

Baca Juga: Kaleidoskop Internasional 2020: Kebakaran Hutan Australia hingga Ledakan Beirut

Kendati demikian, berbagai suka duka banyak dilewati selama setahun lebih merintis usaha. Dalam kondisi-kondisi tertentu, dia mengaku kewalahan mencari kertas sebagai bahan produksi. Utamanya saat awal pandemi COVID-19. Bahkan, dia sempat tak bisa produksi dan mengalami kendala pengiriman barang selama kurang lebih 4 bulan.

“Mulai COVID-19 itu, barangnya juga gak ada. Toko kertas banyak yang tutup. Akhirnya 4 bulan barang numpuk setelah cetak tapi nggak bisa di kirim. Kemarin yang Pilkada juga kertasnya habis. Jadi sementara cuma ngabisin stok-stok (barang) yang ada, paling duka itu kalau nggak bisa memenuhi kebutuhan pesanan,” tuturnya sembari terkekeh

Untuk menghemat biaya pengeluaran, dia bersama timnya juga memilih mengantarkan barang secara langsung. “Sakjane yo asik-asik wae (sebenernya ya senang-senang saja). Sukanya kita kadang terjun langsung ngirimkan barang ke Tegal, Purwokerto, yang terjangkau lah. Karena kadang biayanya lebih hemat kalau kita jalan sendiri,” imbuhnya.

Pria 57 tahun ini mengaku, kunci dalam menjalankan usaha antara lain adalah fokus dan pelayanan terhadap konsumen.
“Fokus. Kemudian pelayanan tetep tidak bisa diremehkan. Meskipun kami jualan tapi pelayanan tetep. Ketika misalnya ada kesalahan di halaman sekian, kita cek, kita tarik, nanti kita tukar. Kita jaga kepercayaan konsumen. Gimna caranya konsumen puas dan mau kembali membeli barang kita,” tandasnya. (Ads/fen/zya/gg)

  • Bagikan