Mantan Petani Sawit di Desa Tumpakrejo Mulai Beralih ke Tanaman Kelapa Hibrida hingga Sayuran - Tugujatim.id

Mantan Petani Sawit di Desa Tumpakrejo Mulai Beralih ke Tanaman Kelapa Hibrida hingga Sayuran

  • Bagikan
Di sebelah tanaman sawit, petani menanam kelapa hibrida sebagai alternatif lain.(Foto: Rap/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Kejengkelan mantan petani sawit di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, tampaknya sudah mencapai batasnya. Lantaran, sawit yang sudah mereka tanam sejak 2009 silam, nyatanya gagal menjadi komoditas yang menjanjikan di desanya.

Bahkan, menurut petani, tanaman kelapa di desanya lebih menjanjikan secara ekonomi karena buahnya bisa dijual ke wisatawan yang mengunjungi pantai-pantai di Malang Selatan. Karena itu, beberapa warga sudah mulai menanam tanaman kelapa hibrida disamping bekas tanaman sawit mereka.

“Sawit di sini tidak berhasil, jadi saya tanami tebu, kelapa, sayuran, dan lain-lainnya. Kalau kelapa di sini kan bisa dimanfaatkan daging buah dan airnya untuk wisatawan,” terang Agus, 35, salah satu mantan petani sawit di Desa Tumpakrejo saat ditemui tugumalang.id, partner tugujatim.id, Rabu (25/05/2021).

Beberapa warga juga mulai beralih menanam sayur-sayuran seperti terong dan cabai. Syukurnya tanaman terong dan cabai tergolong berhasil dibudidayakan di Desa Tumpakrejo, hasil panennya juga lumayan untuk dijual di pasaran.

Agus, mantan petani sawit di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)
Agus, mantan petani sawit di Desa Tumpakrejo, Kabupaten Malang.(Foto: Rap/Tugu Jatim)

“Bahkan punya salah satu warga ini ditanami cikal, lalu ditanami cabai. Jadi, waktu tanaman cikal panen, alhamdulillah cabainya juga ikut panen. Cabai ini sangat menguntungkan karena waktu harganya naik itu keuntungannya luar biasa. Alhamdulillah cabai di sini termasuk bagus, meski di sini ada kabut tapi alhamdulillah tetap bagus,” bebernya.

“Kemudian ada juga yang ditanami terong, bagus-bagus hasil terong di sini. Jadi, membuat bahagia yang punya. Di sini itu termasuk cocok untuk ditanami sayur-sayuran, bawang juga bisa ditanam kok di sini,” sambungnya.

Agus mengakui jika memang wilayahnya cukup memiliki kesulitan untuk irigasi, terutama saat terjadi kemarau. Untungnya, warga tidak kehilangan akal dengan menggunakan mesin pompa untuk mengaliri air di kebunnya.

Tanah bekas persawahan yang ditanami kelapa sawit ini tampak retak-retak dan kekurangan air. (Foto: Rap/Tugu Jatim)
Tanah bekas persawahan yang ditanami kelapa sawit ini tampak retak-retak dan kekurangan air. (Foto: Rap/Tugu Jatim)

“Memang di sini tidak bisa dibuat irigasi, jadi kalau musim kemarau memakai diesel buat mengalirkan air,” tuturnya.

Lebih lanjut, saat ditanya mengenai kenapa tidak sekaligus mencabut tanaman sawitnya agar bisa ditanami tanaman lain. Agus menjawab, biaya untuk menebang saja sudah sangat tinggi sehingga warga memilih mendiamkan tanaman sawitnya sampai berharap nanti akan mati sendiri.

“Sawit punya saya tidak saya tebangi, cuma saya potongi daunnya. Di sini masih ada sekitar 1.000 pohon sawit yang belum dipotong,” katanya.

“Untuk memotong sekitar 20 pohon sawit biayanya Rp 1 juta lebih,” ujarnya.

  • Bagikan