Masjid Tiban Malang: Desain Arsitektur Berdasar Salat Istikharah

  • Bagikan
beberapa menara masjid tiban malang
Beberapa menara Masjid Tiban Malang yang dibangun berdasarkan salat istikharah. (Foto: Gg/Tugu Jatim)

Malang –  Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah) atau yang lebih akrab dipanggil Masjid Tiban di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, terkenal memiliki interior dan eksterior megah.

Namun, siapa yang menyangka jika setiap detail pembangunan Ponpes Salafiyah ini, tidak melibatkan arsitek sama sekali. Justru berdasarkan hasil salat istikharah.

Sumbangan Kemanusiaan Gempa Malang

“Kalau ditanya bangunan ini arsiteknya siapa, ya saya jawab arsiteknya Romo Kiai Ahmad sendiri meskipun beliau tidak pernah memiliki pengalaman di bidang bangunan apalagi di bidang arsitektur. Semua pembangunan ini hasil salat istikharah beliau, lalu disampaikan pada para santri yang akan membangun juga melalui lisan,” terang Panitia Pondok Pesantren Salafiyah Bi Ba’a Fadlrah, Kisyanto, beberapa waktu lalu.

Masdjid Tiban di Turen, Malang. (Foto: RAP)
Masdjid Tiban di Turen, Malang. (Foto: RAP/Tugu Malang ID)

Baca Juga: Pemerintah Anggarkan Rp 15,1 Triliun untuk Dongkrak Pariwisata

Dia juga mengatakan, Romo Kiai Ahmad selalu menyampaikan hasil salat istikharah lewat lisan saja kepada para santri. “Beliau pasti selalu mengatakan mau dibangun begini, ukuran segini, dan tingginya segini. Lalu para santri pasti bilang: iya sudah paham, habis ini akan saya sampaikan saat musyawarah untuk teknis pelaksanaannya,” ungkapnya.

Romo Kiai Ahmad menyampaikan kepada para santri karena tenaga kerja utama yang membangun pondok pesantren adalah para santri. “Semua pembangunan ini tenaga kerja utama adalah para santri. Dan kalau tenaga kerja dari luar itu pasti orang sekitar pesantren,” bebernya.

Kisyanto sendiri mengakui, tidak mengetahui pasti setiap model bangunan yang akan dibangun. “Saya sendiri nggak tahu model arsitektur bangunannya, karena itu semua hasil dari salat istikharah. Dan disampaikannya cuma dengan mengatakan: nanti dipasang lampu yang menggantung-gantung seperti itu,” kenangnya.

“Lalu kami asosiasikan itu lampion, tapi ternyata kok belum masuk. Berarti itu ada masalah yang belum diselesaikan, ternyata itu harus dikasih tulisan Asmaul Husna,” sambungnya.

Baca Juga: 6 Tips Mudah Tetap Produktif Selama Akhir Pekan

Pria asal Sidoarjo ini juga mengatakan, setiap peziarah pasti selalu kagum dengan interior maupun eksterior di sini. “Sehingga saat orang datang pasti kaget kok ada budaya China, India, Eropa dan sebagainya. Ini tidak mencontoh siapa-siapa, Romo Kiai juga tidak pernah ke China atau India. Romo Kiai itu ke luar negeri itu hanya saat ibadah haji aja,” bebernya.

“Kalau melihat detail-detail interior ini pasti kalau dilihat dari ilmu arsitektur, pasti ini disebut pemborosan. Tapi karena setiap detail ini ada untuk menyelesaikan masalah, ya jadinya indah seperti ini,” pungkasnya. (rap/zya/gg)

  • Bagikan