Mengenal FKKTPQ Sidoarjo, Wadah untuk Guru TPQ yang Getol Perangi Buta Aksara Al-Qur'an - Tugujatim.id

Mengenal FKKTPQ Sidoarjo, Wadah untuk Guru TPQ yang Getol Perangi Buta Aksara Al-Qur’an

  • Bagikan
Jajaran Pengurus dan Pembina Forum Komunikasi Kepala Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Kabupaten Sidoarjo di Surabaya, Sabtu (29/05/2021). (Foto: Reni Novitasari/Tugu Jatim)
Jajaran Pengurus dan Pembina Forum Komunikasi Kepala Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Kabupaten Sidoarjo. (Foto: Reni Novitasari/Tugu Jatim)

SIDOARJO, Tugujatim.id – Pendidikan merupakan bagian penting untuk membangun, mengembangkan dan memajukan peradaban manusia. Pendidikan tidak sekadar soal ilmu-ilmu sains, teknologi, atau ilmu sosial. Ada ilmu agama yang merupakan pondasi penting untuk merawat kebaikan, begitu pula pentingnya sosok pendidik Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang berupaya mengurangi buta aksara Al-Qur’an.

Mengurangi Buta Aksara Al-Qur’an, Tujuan Awal Pembentukan FKKTPQ

Atas dasar itu, H. A. Wahid Evendi Anwar, M.Ag yang akrab disapa ‘Abah Wahid’ selaku Ketua Pembina Forum Komunikasi Kepala Taman Pendidikan Al-Qur’an (FKKTPQ) Kabupaten Sidoarjo berupaya menjelaskan, menceritakan dan menerangkan awal mula berdirinya ‘perkumpulan’ yang menjadi wadah bagi guru-guru TPQ dari 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Agar masyarakat, guru-guru TPQ, dan elemen lain, tidak salah mengartikan, dapat memahami dan mengerti tujuan awal didirikan FKKTPQ.

“Kami mendirikan FKKTPQ atas dasar Juknis (petunjuk teknis, red) yang dikeluarkan Kanwil Depag tahun 1993 kemudian diperbarui tahun 2003, ada klausul (kesepakatan atau perjanjian, red) bahwa Kepala Kantor Kemenag berkewajiban membentuk paguyuban yang menaungi pengelola TPQ dalam rangka pemberantasan buta aksara Al-Qur’an,” terang Abah Wahid pada Tugu Jatim, Sabtu (29/05/2021).

Selain itu, Abah Wahid menegaskan bahwa FKKTPQ Kabupaten Sidoarjo dibentuk dengan tujuan mengurangi buta aksara Al-Qur’an hingga menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan TPQ di 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo. Awalnya, jelas Abah Wahid, pembentukan pertama FKKTPQ ada di Kecamatan Candi, Sidoarjo.

H A Wahid Evendi Anwar Mag akrab disapa Abah Wahid selaku Ketua Pembina Forum Komunikasi Kepala Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (29/05/2021). (Foto: Reni Novitasari/Tugu Jatim)
H A Wahid Evendi Anwar Mag akrab disapa Abah Wahid selaku Ketua Pembina Forum Komunikasi Kepala Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (29/05/2021). (Foto: Reni Novitasari/Tugu Jatim)

“Menjadi wadah untuk merumuskan berkaitan dengan pemberantasan buta aksara Al-Qur’an dan menyelesaikan problem (permasalahan, red). Atas dasar itu, kami mengumpulkan semua kepala TPQ (atau guru ngaji, red) di Kecamatan Candi, terbentuklah FKKTPQ,” sambungnya.

Gayung bersambut. Melihat perkembangan FKKTPQ yang makin bagus tiap waktu, jelas Abah Wahid, kemudian bernisiatif untuk mendirikan di setiap kecamatan di Sidoarjo melalui penyuluh-penyuluh KUA yang sudah dikenal oleh Abah Wahid. Hingga 18 kecamatan tersebut memiliki FKKTPQ masing-masing.

“Di forum itu, alhamdulillah dengan dana urunan kami mengajukan kepada kepala KUA dapat sumbangan ya disiapi kaleng kotak untuk operasional. Sempat menyisihkan Rp 2 ribu. Selaras dengan perjalanan, kok bagus, lalu saya meminta penyuluh-penyuluh untuk mendirikan FKKTPQ di kecamatan lain,” jelasnya.

Dana Bantuan Insentif Guru-guru TPQ, Pembentukan Logo, AD/ART, Akta Notaris, dan SK Kemenkumham

FKKTPQ makin direspon positif. Abah Wahid melanjutkan, ada dana bantuan insentif untuk guru ngaji usulan dewan yang perlu disalurkan ke guru-guru TPQ, namun perlu melalui organisasi, lembaga atau perkumpulan yang independen. Disepakatilah FKKTPQ sebagai penyalur, kemudian dibentuk perkumpulan tingkat Kabupetan Sidoarjo.

“Maka selaras dengan itu, ada dana bantuan insentif untuk guru ngaji usulan dewan. Harus ada lembaga atau organisasi yang independen. Lalu, ada yang namanya FKKTPQ di Kecamatan Candi, lalu didirikan FKKTPQ Kabupaten Sidoarjo. Dalam perjalanan waktu, kami buat AD/ART dan logo,” bebernya.

Setelah terbentuk, Abah Wahid menegaskan, mulai berpikir terkait pembuatan logo, PD/PRT atau AD/ART, Akta Notaris, hingga pemilihan status ‘perkumpulan’ menjadi bentuk yang disepakati oleh seluruh anggota dari FKKTPQ Kabupaten Sidoarjo.

“Jadi, logo ini kami rapat di tahun 2005, setelah itu buat Akta Notaris. Maka berdasarkan logo ini, tidak ada namanya ‘Forum’ saja, tapi muncul nama ‘Perkumpulan Forum’, maka AD/ART di-review lagi jadi FKKTPQ,” jelasnya.

Selain itu, jelas Abah Wahid, SK Kemenkumham juga diperlukan, kendati yang muncul yakni bentuk ‘yayasan’, bukan ‘perkumpulan’. Namun, Abah Wahid tetap fokus pada tujuan awal pendirian FKKTPQ yakni untuk mendakwahkan Al-Qur’an bersama guru-guru TPQ di Kabupaten Sidoarjo.

“Jadi, target kami tahun 2015, bagaimana forum ini mempunyai SK Kemenkumham. Yang penting, berjalan barokah buat guru-guru TPQ. Dada kita untuk dakwah Al-Qur’an, urusan lain anggaplah rumput. Jangan sampai rumput itu mengalahkan padi. Andai dada kami dibelah, tidak ada niatan sedikitpun melakukan itu,” pungkasnya.

  • Bagikan