Mengenal Plagiarisme, Faktor Malas atau Kepepet ya? - Tugujatim.id

Mengenal Plagiarisme, Faktor Malas atau Kepepet ya?

  • Bagikan
Plagiarisme. (Foto: Dokumen/Tugu Jatim)
Sinta Amanda, Mahasiswi IAI Al Qolam Kabupaten Malang.(Foto: Dokumen)

Oleh: Sinta Amanda, Mahasiswi IAI Al Qolam Kabupaten Malang

Tugujatim.id – Plagiarisme merupakan penjiplakan suatu karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. Perbuatan tersebut adalah suatu perbuatan yang kurang baik. Dalam lingkungan akademik kelas dosen maupun mahasiswa masih terdengar familier plagiarisme tersebut dikerjakan.

Dari perbuatan plagiarisme yang masih kerap sering didengar di lingkungan akademik, masih biasa saja tanggapan menurut pelakunya. Karena memang plagiarisme tersebut sudah dianggap kebiasaan. Jadi, ya seperti tanpa ada dasar hukum mengenai hal plagiarisme. Padahal, plagiarisme sendiri sudah mempunyai pasal hukum negara.

Plagitor yang belum paham benar tahu tentang hal plagiarisme akan terus dilakukannya. Tapi, katakan seorang dosen yang sudah memahami tentang dasar hukum perbuatan plagiarisme tentunya akan menghindari perbuatan tersebut. Tapi, kalaupun belum mengetahui dasar hukumnya tentu tetap tidak akan melakukannya karena karya dosen akan dilihat dan bahkan juga sering dikunjungi situs webnya maupun dibaca oleh mahasiswa.

Berbicara tentang plagiarisme memang banyak sekali unsur-unsur yang mengkaitinya. Mulai dari faktor penyebab terjadinya plagiarisme, menurut pandangan orang lain mengenai tentang plagiarisme, dan solusi untuk mengatasinya berbeda-beda. Nah, di sini saya sedikit akan menjelaskan atau memaparkan hasil dari wawancara saya bersama rekan mengenai plagiarisme.

Pertama, mengenai tentang faktor penyebab terjadinya plagiarisme. Ada beberapa faktornya yakni kemalasan. Nah, dari situ terjadilah perbuatan plagiarisme karena tidak mikir panjang dia akan segera copy paste suatu karangan maupun karya dari orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. Jadi, kayak seolah-olah itu karyanya. Kedua, kurangnya wawasan atau pengetahuan. Kalau yang seperti ini biasanya sih kurang membaca mungkin ya walaupun saya juga termasuk kategori kurang sekali dalam hal membaca hehe.

Dari faktor di atas pelaku plagiator akan menjiplak juga suatu karya orang lain ya mungkin akan sedikit diubah dari karya tersebut. Ketiga, tidak mau ribet. Alhasil, dia akan segera mencari sebuah teori maupun referensi yang sedang dicari dan langsung menjiplak karya tersebut. Tapi, terkadang yang tidak mau ribet seperti itu langsung copy paste semua sih tanpa dibaca juga. Nah, itu sih dari hasil wawancara yang dapat saya pahami yaa.

Masih membahas tentang plagiarisme yaa memang sih terkadang membahas saja sedikit takut, karena memang sering dilakukan di kalangan mahasiswa. Tentunya pernah semua melakukan itu walau tergantung berapa persen yang mereka copy paste. Memang terkadang penyebabnya itu DEADLINE! Memang deadline kadang kan tugasnya berbarengan, sedangkan teori belum siap ataupun tugas belum merasa lengkap juga. Di sini akan menjadi peluang terjadinya perbuatan copy paste atau plagiarisme.

Namun, tingkat pengetahuan mahasiswa berbeda-beda mengenai tingkat pengetahuan perbuatan plagiarisme. Ada yang mengetahui semua tentang plagiarisme dan ada juga yang tidak tahu mengenai tentang copy paste itu aslinya sudah tindakan plagiarisme. Hehehe, dari situ mungkin memang sudah ada faktor penyebabnya dan tidak semuanya mengetahui tentang plagiarisme secara detail.

Kapan hari saya dan rekan saya mewawancarai salah satu dosen IAI Al-Qolam Malang. Dia adalah Gus Hilal dulu pernah mengajar di kelas saya sebagai dosen Pengampu Mata Kuliah Teori Filsafat. Tidak lama dia langsung menjelaskan tentang plagiarisme, faktor penyebabnya, harapan untuk mahasiswa kampus IAI Al-Qolam untuk ke depannya mengenai tentang plagiarisme serta pengalaman temannya yang menjadi dosen Di Bogor yang pernah melakukan plagiarisme.

Beliau langsung menjelaskan bahwa tindakan plagiarisme adalah suatu hal pencurian karya orang yang tidak dicantumkan sumbernya. Dia juga memberi tahu apa saja yang dapat diplagiat. Nah, menurut dia yang dapat dijiplak yakni karya tulisan, karya seni, karya karangan, dan lain-lainnya. Makanya sebuah seni maupun tulisan itu sangat mahal, tapi jika ada plagiator yang menjiplak salah satu karya pencipta karya tersebut sangatlah kurang baik.

Lanjutan dari hasil wawancara yang saya dapatkan dari dosen saya Gus Hilal, plagiarisme di kalangan mahasiswa ini masih sering terjadi, tidak di IAI Al-Qolam saja, tapi di kampus yang diajar teman saya tepatnya di Bogor.

“Masih banyak mahasiswanya yang melakukan plagiarisme. Bahkan, ada dosen di Bogor yang melakukan tindakan ini. Kalau di kelas dosen, yang diplagiatkan yakni mengenai tentang pemberian tugas, laporan, maupun jurnal yang ada di berbagai web,” ujarnya.

Kalau mengenai tentang solusi ini yang dapat dia berikan yakni, harus sering-sering membaca bagi kalangan mahasiswa, dilawan rasa malasnya, lebih kreatif dalam merangkai kata-kata, serta harus lebih semangat dalam kegiatan berkarya. Begini saran Gus Hilal mengenai tentang tanggapan bagaimana untuk ke depannya mahasiswa kampus IAI Al-Qolam dalam menghindari maupun proses mengurangi persentase tingkat plagiarisme harus lebih sering-sering komunikasi dan interaksi sesama mahasiswa maupun dosen.

Kalau menurut pendapat saya, dengan memberikan dorongan dengan membentuk suatu grup atau kerja kelompok untuk mengerjakan tugas secara bersama dilakukan versi sharing dan tukar pendapat mengenai berbagai macam hal dan selalu kreatif untuk mengemukakan pendapatnya. Selain itu, berani berbicara atau percaya diri mengenai hasil pemikirannya maupun hasil kerjanya. Juga apa yang selalu dibicarakan, dikerjakan harus optimis kalau hasil itu baik menurutnya.

Karena menurut saya, memang tingkat percaya diri yang tinggi itu penting mengenai hal berkomunikasi, tapi kita juga harus tetap memperhatikan etika ketika berbicara dan interaksi komunikasi antar sesama. Menurut saya memang sesuatu hal yang dimulai dengan hal yang baru memang sulit namun jika sudah terbiasa insyaa Allah akan mudah.

So…, buat saya pribadi tanggapan mengenai semua teori plagiarisme, semoga juga dapat memberikan motivasi bagi diri saya sendiri untuk berhati-hati dan berusaha menghindari tindakan plagiarisme. Bahkan bisa membuat saya lebih kreatif dan lebih percaya diri lagi dalam berkomunikasi dan mengutarakan pendapat menurut pemikiran sendiri. Karena memang tindakan plagiarisme sedikit demi sedikit dan hari demi hari pasti akan berkurang.

  • Bagikan