Merasakan Hangatnya Masyarakat Kaki Gunung Slamet

Merasakan Hangatnya Masyarakat Kaki Gunung Slamet

  • Bagikan
Foto bersama Kepala Desa dan para petani pada saat penyuluhan pertanian organik.
Foto bersama Kepala Desa dan para petani pada saat penyuluhan pertanian organik di kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. (Foto: Dokumen Pribadi)

Oleh: Farhan Khaqiqi*

Tugujatim.id – Pengalaman yang sangat berharga saya dapatkan beberapa bulan lalu. Saat itu, saya melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat sebagai seorang mahasiswa, yaitu Kuliah Kerja Nyata Tematik, IPB University tahun 2021 di kaki Gunung Slamet.

Kehangatan warga masyarakat di daerah tersebut masih membekas, dan seringkali menjadi kerinduan tersendiri dan rasanya ingin sekali kembali ke sana.

Mencoba belajar hidup di tengah masyarakat pegunungan yang memiliki keunikan tersendiri. Mereka sering menyebutnya sebagai “wong gunung”. Pergi ke lahan setiap hari, dari pagi hingga petang tanpa lelah. Mereka lakukan setiap hari demi memenuhi kebutuhan pokok.

Ya, mayoritas dari mereka bekerja sebagai petani hortikultura sayuran. Niat awal hanya untuk menunaikan sebuah kewajiban, melaksanakan beberapa program kerja yang diharapkan bisa bermanfaat bagi mereka. Namun, di luar dugaan malah justru menjadi bagian dari mereka, sebuah keluarga dengan penuh kebersamaan bahkan hingga saat ini.

Kurang lebih selama 40 hari saya bersama tim belajar banyak hal dari sana. Kami mendapatkan tugas untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Sebuah tempat yang sangat indah, karena kita bisa berdiri di atas awan ketika pagi hari.

Karena tempat ini merupakan desa tertinggi sebagai akses masuk para pendaki yang berambisi mencapai puncak Gunung Slamet setinggi 3.428 mdpl.

Yang sangat menarik adalah bagaimana warga menyikapi keberadaan kami. Sebagai pendatang dari luar wilayah namun tetap disambut sebagai keluarga yang sangat dekat. Mereka sangat menghormati seorang tamu, tidak peduli mereka orang yang berkecukupan atau tidak. Mereka sangat ramah.

Selain itu, suhu yang cukup dingin menyebabkan kegiatan mereka terbatas hanya sampai sekitar waktu isya, dan di situlah menjadi momen untuk berbincang mendiskusikan banyak hal. Berbeda dengan kehidupan yang ada di kota, yang mengharuskan hidup sebagai satu individu, kehidupan masyarakat di pegunungan sangat menjunjung tinggi kerjasama dan gotong royong.

“Di sini masyarakat guyub rukun dan NKRI banget,” begitulah tutur pak kades yang masih sangat muda, Sutrisno namanya. Sebagai contoh, kegiatan panen kentang di desa ini dilakukan dengan gotong royong sebanyak kurang lebih 300 warga, mereka ikhlas membantu tanpa mengharapkan bayaran dari pemilik lahan.

Pemilik lahan hanya perlu mengganti upah dengan berinfak untuk keperluan pembangunan masjid, terdapat 10 masjid yang merupakan hasil guyub rukun warga tanpa bantuan dari pemerintah maupun donatur.

Hubungan silaturahmi dan komunikasi kami dengan warga masih terjalin dengan baik, tidak ada sekat sedikitpun antara kaum terpelajar dan masyarakat biasa. Tidak ada perbedaan, kami menyatu bagaikan sebuah keluarga kecil di dalam sebuah rumah.

Pengalaman ini singkat tapi penuh dengan makna, mengajarkan rasa bersyukur dan menjadi seorang yang rendah hati. Membuka maindset bahwa setinggi-tingginya sekolah, kepada masyarakatlah kita akan kembali, dan akan dipertanggung jawabkan ilmu yang kita dapat untuk kebermanfaatannya.

*Penulis adalah member Pondok Inspirasi.

  • Bagikan