PASURUAN, Tugujatim.id – Mukarim (74) pantas disebut sebagai pahlawan mangrove dari pesisir Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sejak muda, Kakek asal Desa Penunggul, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, itu menanam mangrove di pesisir pantai hingga kini luasnya mencapai 140 hektar.
Mukarim bahkan sempat disebut “gila” oleh para tetangganya. Namun, usahanya ini justru menjadikan area sekitar tempat tinggalnya menjadi jujukan wisata mangrove Desa Penunggul.
Mukarim menuturkan bahwa usaha untuk menanam mangrove ini dimulai sejak 1983 silam. Saat itu, Mukarim muda melihat permasalah kampungnya yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai. Dengan jarak sedekat itu, rumah-rumah nelayan di kampungnya rawan terkena gelombang ombak laut hingga banjir rob.

“Akhinya saya nanam mangrove jenis rhizophora mucronata atau yang biasa dikenal dengan tanaman bakau,” ujar Mukarim.
Awalnya, Mukarim hanya menanam 500 buah bibit mangrove di pesisir pantai Desa Penunggul seluas 5 meter persegi. Meski awalnya hanya sedikit, namun dia takjub dengan proses pertumbuhan mangrove yang cepat. Diapun seakan lupa waktu.
Tak pandang siang dan malam, dia menyempatkan waktu menanam mangrove di sela-sela kesibukannya sebagai pencari kepiting. “Orang-orang sampai bilang saya itu stress, karena tiap hari kerjaannya menanam mangrove,” ungkapnya.

Meski dianggap tidak waras, Mukarim tetap meneruskan obsesinya untuk memenuhi pesisir pantai di Desa Penunggul dengan pohon mangrove. Bahkan, dia rela jauh-jauh berlayar ke Probolinggo untuk mencari buah mangrove yang jatuh untuk dijadikan bibit. “Cari bibitnya di bulan Agustus sampai Desember, terus saya bawa pakai perahu dan tanam sendiri,” ungkapnya.
Selama 13 tahun rutin menanam pohon mangrove, usaha Mukarim akhirnya membuahkan hasil. Pada 1999, sebanyak 47 hektar pesisir pantai Desa Penunggul telah menjadi hutan bakau.
Menurut Mukarim, dulu kampungnya selalu tergenang banjir rob saat pasang hingga setinggi 30 cm. Namun berkat ekosistem hutan bakau, kini air pasang laut tidak pernah sampai meluber melewati bibir pantai. “Semenjak itu warga banyak yang mulai tahu tujuan saya dan mengapresiasi,” imbuhnya.

Setelah itu, mulai 2001, hutan mangrove yang ditanamnya mulai dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Diapun dipanggil untuk mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Sekaligus difasilitasi untuk mengembangkan hutan mangrovenya menjadi kawasan wisata unggulan Desa Penunggul.
Mukarim bahkan pernah mendapat penghargaan Kalpataru sebagai kategori perintis lingkungan yang diserahkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada 2005. “Pesannya pak SBY waktu itu, saya disuruh berhenti jadi nelayan, dan diminta mengajarkan orang-orang terkait mangrove,” jelasnya.
Pesan dari presiden keenam itupun benar-benar dilaksanakan oleh Mukarim. Kakek dengan tujuh anak dan 15 cucu itupun fokus membina warga sekitar untuk bisa membudidayakan mangrove.
Tak hanya itu, Mukarim bahkan sering menerima kunjungan dari mahasiswa hingga pemerhati lingkungan dari berbagai belahan dunia, seperti Belanda, Polandia, hingga Australia.
“Saya ngajarkan ke siapa saja soal bagaimana mengembangkan tanaman mangrobe sebagai sabuk hijau atau dinding penahan pantai dari abrasi,” tuturnya.
Hingga kini, Mukarim masih aktif melestarikan mangrove bersama warga sekitar. Saat ini, hutan mangrovenya sudah berkembang hingga 140 hektar. Bahkan, setiap tahunnya dia menyuplai jutaan bibit mangrove untuk dijual dan ditanam di berbagai wilayah di Indonesia. “Setahun bisa ngirim tiga juta bibit mangrove. Terakhir pesanan banyak pas G20, itu sekitar 4.000 bibit,” pungkasnya.








