Musim Membara: Mengenang Kembali Chico Mendes

Musim Membara: Mengenang Kembali Chico Mendes

  • Bagikan
Muhammad Hilal, penikmat film dan dosen IAI Al-Qalam Malang sekaligus pengampu kajian filsafat di STF Al Farabi Malang/tugu jatim
Muhammad Hilal, penikmat film dan dosen IAI Al-Qalam Malang sekaligus pengampu kajian filsafat di STF Al Farabi Malang. (Foto: Dokumen/Muhammad Hilal)

Oleh: Muhammad Hilal*

Tugujatim.id – Pada mulanya kupikir aku hanya berjuang untuk menyelamatkan pohon karet, kemudian kupikir aku hanya berjuang untuk melindungi hutan Amazon. Kini kusadari, aku berjuang untuk kemanusiaan, (Chico Mendes).

Chico Mendes adalah aktivis lingkungan berkebangsaan Brazil. Pekerjaannya hanyalah pengerat getah karet, namun gerakannya melawan korporasi multinasional sangat mengesankan. Kisah perlawanannya itu kemudian diabadikan dalam sebuah film yang sangat memukau: The Burning Season.

Apa yang istimewa dari Chico Mendes bukanlah aktivismenya, sebab di bawah kolong langit ini banyak juga yang berjuang untuk sesuatu hal yang diyakininya sebagai kebenaran. Chico Mendes istimewa justru karena dia memulai segalanya hampir dari nol. Dia berjuang tidak hanya dengan aksi-aksi lapangan, namun juga melalui pendidikan, melalui serikat pekerja, melalui kampanye politik, hingga ke titik nafasnya yang penghabisan.

Dengan demikian, Chico Mendes adalah cerminan sejati dari Intelektual Organik, yakni kaum intelektual yang hidup bersama kaum tertindas dan bekerja bersama-sama dengan mereka menghentikan laju penindasan oleh sistem penindasan. Chico Mendes bukan orang yang menyerukan perlawanan dari balik meja, lalu menyebar tagar di media sosial. Dia lahir di masyarakat yang tertindas, lalu berdiri bersama-sama dengan masyarakatnya untuk melawan.

Poster film The Burning Season yang diperankan Raul Julia/tugu jatim
Poster film The Burning Season yang diperankan Raul Julia. (Foto: IMDB)

Di daerahnya, yaitu perkampungan Xapuri di Brazil yang berselimut hutan Amazon, masyarakat mengais nafkah dari mengerat getah karet. Begitu pula Chico Mendes, sejak usia 9 tahun dia sudah membantu orang tuanya bekerja. Namun masyarakat di situ adalah orang-orang yang tidak berdaya, sebab permainan harga getah karet dan pengepulnya adalah para begundal mafia lokal.

Di film The Burning Season keadaan itu digambarkan dengan apik. Saat musim menjual bongkahan getah, masyarakat berbondong-bondong ke pasar lelang dengan perahu. Anehnya pasar itu dijaga oleh para preman bersenjata api. Keadaan di situ tidak lagi serupa pasar, melainkan penuh dengan ketakutan dan kemurungan di wajah para pekerja karet.

Penentuan harga pun sewenang-wenang. Bongkahan getah karet dihargai dengan sangat murah. Namun masyarakat tidak berdaya, selain karena mereka butuh pada hasil penjualan itu, mereka juga tidak bisa protes karena para penjaga pasar itu bersenjata api. Bukannya dapat harga lebih tinggi, bisa-bisa dada mereka yang kena tembus peluru panas.

Itulah kenyataan yang dilihat oleh mata Chico Mendes muda. Itulah gamblangnya realitas penindasan yang disaksikan dan dirasakan olehnya. Namun saat itu dia belum mengerti. Dia masih terlalu muda untuk mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Kenyaatan itu memang hampir mustahil akan dipahami oleh Chico Mendes, sebab dia tidak punya kesempatan mengenyam pendidikan yang layak. Sekolah di daerah sekitar perkebunan karet dilarang oleh pemiliknya, karena mereka tidak ingin para pekerjanya bisa membaca dan berhitung. Chico Mendes memang tidak pernah sekolah secara formal.

Namun pendidikannya diperoleh secara informal. Seseorang bernama Euclides Fernando Tavora adalah pendatang baru di sekitar perkebunan. Selain bekerja sebagai pengerat getah, dia juga mendidik orang-orang di situ untuk membaca dan berhitung.

Chico Mendes adalah salah satunya. Di film The Burning Season penggambaran cara mendidiknya sangat unik dan tidak lazim. Selain mengajari anak-anak itu berhitung dan membaca, Tavora juga menyelipkan kesadaran akan realitas penindasan dan ketidakadilan di wilayah situ. Dalam suasana pendidikan yang seperti itulah Chico Mendes tumbuh menjadi lelaki dewasa.

Setelah itu, Mendes bersama Tavora memperlebar cakupan pendidikan itu ke masyarakat yang lebih luas. Pendidikan adalah alat penyadaran, dan dari situlah sejarah aktivisme di daerah Xapuri itu bermula. Pendidikan itu berhasil memperluas kesadaran masyarakat sehingga berdiri sebuah perserikatan pekerja di lingkungan perkebunan karet itu.

Organisasi ini menjadi alat masyarakat di situ untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Bahkan masyarakat berbondong-bondong melawan pembabatan serta pembakaran hutan dan mengusir alat-alat berat para pembalak liar di lingkungan hutan Amazon. Kesadaran masyarakat Xapuri telah berbuah aksi bersama.

Pada mulanya, upaya itu berhasil dengan gemilang. Selanjutnya adalah ujian yang sangat berat. Organisasi itu dianggap mengganggu oleh pengusaha kayu. Mereka munggunakan para mafia bayaran dan bahkan aparat negara untuk menghentikan upaya organisasi itu.

Masyarakat yang sedang protes digebuki oleh aparat hingga kocar-kacir. Sebagian dari mereka, termasuk Chico Mendes, ditangkap oleh aparat dan disiksa di penjara hingga babak belur. Tavaro dibunuh oleh mafia lokal. Itu adalah kekalahan telak pertama yang dialami oleh organisasi itu, dan luka batin yang mereka rasakan sangat menyakitkan.

Chico Mendes sempat berusaha kabur dari kampungnya, mengungsi untuk selamanya. Biar bagaimanapun, dia adalah kemungkinan target pembunuhan berikutnya. Chico Mendes sangat ketakutan.

Saat di atas bus pelarian, dengan wajah penuh memar, dia melihat alat-alat berat pembalakan hutan diangkut ke arah kampungnya. Hal itu memantik amarah di hatinya. Ada ekspresi dari perasaan tidak terima dan perasaan terhina di hatinya. Semua siksaan dan pukulan yang diarahkan kepada masyarakat Xapuri itu hanya punya satu tujuan yang pasti: agar pembalakan bisa berlangsung terus tanpa gangguan. Saat itu juga dia berteriak agar bus itu berhenti, lalu dia keluar.

Amarah itu telah mengatasi rasa takutnya. Dia kembali ke kampungnya lagi, kembali ke masyarakatnya. Dia masih menanggung kewajiban untuk mengajak mereka terus berjuang apapun risiko yang harus diterimanya.

Begitulah, Chico Mendes terus bekerja dan berjuang. Keberhasilan dan kegagalan silih berganti dialaminya. Namun selamanya dia adalah pengganggu bagi para bos pembalakan hutan.

Hingga akhirnya, muncullah keputusan pengadilan bahwa pembabatan dan pembakaran di hutan Amazon adalah terlarang. Para bos mengajak Mendes berunding. Perundingan itu adalah permintaan agar pembalakan diperbolehkan bekerja di situ. Chico Mendes tetap pada pendiriannya: mesin-mesin pembalakan harus segera hengkang dari tempat itu. Selamanya.

Namun para mafia lokal marah besar atas kemenangan Chico Mendes. Selama ini mereka turut menikmati hasil pembalakan hutan. Jika pembalakan dihentikan, maka sumber penghasilan mereka akan turun tajam. Mafia lokal itu sangat marah. Chico Mendes akhirnya dibunuh pada 22 Desember 1988.

Terbunuhnya Chico Mendes ini justru membangkitkan kesadaran masyarakat lebih luas lagi untuk melindungi hutan Amazon dari pembabatan dan pembakaran. Aktivisme perlindungan hutan menyebar dengan cepat, mulai dari warga lokal di sekitar hutan hingga warga perkotaan.

Chico Mendes memang sudah tiada. Namun warisannya terus bergelora ke generasi-generasi berikutnya.

Biodata Film :

Judul            : The Burning Season
Tahun          : 1994
Sutradara    : John Frankenheimer
Pemeran     : Raul Julia, Carmen Agenziano, Sonia Braga, Kamala Lopez, Luis Guzman, Nigel Havers
Negara asal: Amerika Serikat, Brazil
Durasi         : 123 menit
Produksi     : HBO Pictures

*Penulis adalah penikmat film dan dosen IAI Al-Qalam Malang sekaligus pengampu kajian filsafat di STF Al Farabi Malang

  • Bagikan