Dua Pilihan Hidup di Dunia

Dua Pilihan Hidup di Dunia

  • Bagikan
Ilustrasi pilihan kehidupan di dunia/tugu jatim
Ilustrasi pilihan kehidupan di dunia. (Foto: Pixabay)

Oleh : Alda Anggini*

Tugujatim.id – Pernahkah merasa terpuruk, keinginan tidak tercapai, ditolak berkali-kali dari lamaran pekerjaan, beasiswa, dan lain sebagainya? Sebagian orang yang mengalaminya akan merasa jatuh sejatuh-jatuhnya.

Mereka memandang bahwa kegagalan dan keterpurukan merupakan akhir segalanya. Merasa bahwa jalan kembali untuk menata masa depan dengan mimpi indah sudah lenyap dan bahkan hilang.

Ada kutipan penuh arti yang bisa menjadi refleksi bagi siapapun yang merasa gagal, “setiap kejadian akan bermakna, hanya ketika kita memilih untuk memaknainya.”

Apakah Anda pernah mendengar ini sebelumnya? Wise word ini adalah salah satu kalimat yang terdapat dalam buku “Dia Bukan Andrew” ditulis oleh Abang Fuji. Kalimat ini memberikan suatu arti yang sangat mendalam.

Hampir setiap hari, jam, menit, dan detik kita melalui berbagai kejadian dan momen, benar bukan? Ya saya yakin akan hal itu. Selagi status kita masih hidup dan belum almarhum dan almarhumah, kita akan merasakan segala hal di dunia ini, termasuk kejadian senang, sedih, gagal, dan sukses.

Akan tetapi, apakah kita memilih untuk memaknai setiap kejadian itu? Sekali lagi saya yakin, pasti ada orang-orang yang memilih itu dan saya harap salah satunya Anda.

Memaknai suatu kejadian adalah pilihan. Menurut saya, pilihan di dunia ini hanya ada dua yaitu “YA” atau “TIDAK”. Tidak ada pilihan ketiga yaitu “RAGU-RAGU”. Pilihan ketiga hanya membuat kita menjadi orang yang takut memulai dan hanya jalan di tempat saja.

Pilihan “YA” untuk menjadikan kejadian bermakna merupakan pilihan bijak dalam menghargai kehidupan, karena kita memahami bahwa hidup di dunia ini hanya sekali. Sampai detik ini kita masih bisa bernapas itu merupakan suatu anugerah.

Coba deh, lakukan satu kali saja. Ketika Anda berada di fase kegagalan, lalu Anda bilang, “Oke, gak apa-apa. Kegagalan ini suatu langkah awal bagi saya untuk menang. Belajar untuk tetap bersabar dalam proses serta belajar menjadi orang yang kuat. Terima kasih kegagalan, dengan ini saya sadar bahwa saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama kedepannya.”

Nah, bagaimana jika mengatakan itu ketika diri Anda sedang berada di fase terpuruk.  Cukup melegakan bukan? Anda pasti merasakan energi positif yang luar biasa, juga pasti merasakan kekokampakan organ tubuh Anda yang menggebu-gebu menyemangati diri, menolak untuk sakit apalagi meninggalkanmu.

Lalu, coba bandingkan dengan Anda yang berada di fase kegagalan, lalu mengatakan, “ah payah. Bodoh banget sih, itu ajah gak bisa. Mungkin saya terlahir memang untuk menjadi orang yang gagal. Saya tidak pantas menjadi orang sukses. Saya sudah gagal dan tidak mungkin bisa menang.”

Apa yang Anda rasakan seusai mengatakan hal tersebut ketika berada di fase gagal. Masihkah ada rasa semangat yang menggebu-gebu? Atau bahkan tambah menciut dan rasanya ingin hilang dari peradaban?

Dua ilustrasi di atas menggambarkan suatu kejadian yang sama yaitu berada di fase kegagalan, namun berbeda cara memaknai kejadiannya. Saya yakin, bahwa pilihan untuk memaknai suatu kejadian bukan hal yang sepele. Benar-benar harus dipikirkan secara rasional dengan jangka waktu panjang kedepannya.

Pilihan “YA” atau “TIDAK” bukan hanya sekadar memilih, namun juga harus mempertanggungjawabkan keberlanjutannya. So, pilih yang mana?

*Penulis adalah anggota Garuda Lirerasi

  • Bagikan