• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Nahdlah Tsaniyah: Nahdliyin Beyond Mikrofon

Fathul H. Panatapraja, Warga Nahdlatul Ulama, Tinggal di Malang

Nahdlah Tsaniyah: Nahdliyin Beyond Mikrofon

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
7 months ago
in Catatan, Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Nahdlah Tsaniyah: Nahdliyin Beyond Mikrofon ditulis oleh Fathul H. Panatapraja, Warga Nahdlatul Ulama, Tinggal di Malang, Jawa Timur.

 

Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34 yang dihelat di Lampung pada 22-24 Desember 2021 silam, merupakan muktamar yang temponya sangat cepat. Meskipun berisik di awal namun teduh di akhir. Dan yang melegakan adalah bahwa muktamar kali ini tidak menyisakan residu perpecahan seperti yang pernah terjadi pada muktamar sebelumnya di Jombang, Muktamar ke-33 yang penuh ketegangan dan menyisakan permenungan.

You might also like

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM
Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

08/07/2026 8:34 AM

Namun ternyata, pada nyatanya mulai berisik juga di tahun kedua dan ketiga, apalagi menjelang Pemilu 2024. Bahkan keberisikan itu terus berjalan, dan membesar di akhir 2025. Apa sebab? Banyak sebabnya. Sebab-sebabnya bisa dicari di berbagai lini media baik mainstream maupun tulisan-tulisan personal yang tersebar di jagat media sosial.

Mengibaratkan NU

Jika Nahdlatul Ulama diibaratkan seperti sebuah pesantren, maka Rais Aam adalah pengasuh pesantrennya, sedangkan Ketua Umum adalah lurahnya. Pengasuh memimpin dan menanggung jawabi pesantren secara keseluruhan dengan tata pengelolaannya, pertanyaannya apakah pengasuh pesantren adalah pemilik (owner) dari sebuah pesantren?

Dalam kehalusan bahasa biasanya para kiai atau pengasuh pesantren mendaku sebagai khadimul ma’had (pelayan pesantren dan umat). Sedangkan lurah melaksanakan hal-ihwal yang termaktub dalam mandat yang diembannya guna menjadi tangan dan kaki sakti dari seorang kiai. Itu jika diibaratkan pesantren. Tetapi jika diibaratkan organisasi modern, maka ada hal-ikhwal yang harus disesuaikan dengan tata kelola organisasi. Berarti NU ini kelompok yang memiliki dua pemaknaan sekaligus.

BACA JUGA: Mantan Katib Aam PBNU Sarankan Tambang NU Dikembalikan ke Pemerintah, Rekonsiliasi Dinilai Jalan Terbaik

Banyak orang yang masih mengira, bahwa posisi puncak di Nahdlatul Ulama adalah Ketua Umum, padahal bukan, melainkan Rais Aam. Maka tak heran jika dulu Gus Dur sempat mengusulkan bahwa penulisan-penyebutan Ketua Umum Tanfidziyah diganti-kurangi dengan cukup menyebut Ketua Tanfidziyah saja, tanpa diembel-embeli dengan ‘Umum’.

Mungkin usulan Gus Dur tersebut adalah salah satu upaya melakukan semacam supremasi syuriah di tubuh Nahdlatul Ulama. Karena orang sering lupa dengan tingginya posisi ini, sehingga maqam tersebut hanya dipandang sebagai “kumpulan kiai yang kegiatannya hanya rapat”.

Membaca Semiotika Celana Gus Yahya

Selama kurang lebih sepuluh tahun, KH. Yahya Cholil Staquf duduk di kepengurusan PBNU dalam jajaran syuriah. Baik sebagai Katib Syuriah (2010-2015), maupun Katib Aam (sekretaris umum syuriah) mendampingi KH. Ma’ruf Amin sebagai Rais Aam (ketua umum, dalam arti normalnya) dan KH. Miftachul Akhyar selaku pejabat pengganti Rais Aam.

Jika kita saat itu mencermati, kita akan melihat perubahan kecil yang terjadi pada tampilan Gus Yahya saat terpilih di Muktamar Lampung. Jika sebelum muktamar ia memakai sarung sebagai identitas kesyuriahannya, maka saat tampil pertama kali menyampaikan pidato penutupan muktamar sebagai ketua umum terpilih, ia sudah mengganti sarungnya dengan celana. Gus Yahya telah mengirim sebuah pesan kepada khalayak ramai Nahdlatul Ulama.

BACA JUGA: Banom NU Pusat Serukan Pendinginan Suasana, Dorong Musyawarah Jernih di Tengah Dinamika Internal

Meminjam kaca semiotika Rolan Barthes mengenai tanda dan pesan yang disampaikan seseorang, maka kita akan paham, bahwa Gus Yahya sebenarnya sedang berbicara, ia sedang mengirim pesan. Secara signifikasi Barthesian dapat dilihat dari tindakan yang dipilih oleh Gus Yahya. Bukan tanpa alasan, sarung dilepas dan diganti dengan celana. Tindakan ini mengikat dua arah komunikasi, dari pemberi pesan dan penerimanya sekaligus. Tindakan ini menghasilkan sebuah tanda, yang semestinya bisa dibaca.

Pesan yang diupayakan oleh Gus Yahya telah meninggalkan jejak makna dari konteks sebelumnya. Di mana kini ia tak lagi berdiri sebagai representasi kelembagaan syuriah, melainkan sebagai seorang Ketua Umum Tanfidziah yang merupakan pelaksana amanah dan sebagai kaki penggerak pesan-pesan kiai. Dalam pidato perdananya sebagai ketua umum, ia telah melakukan berbagai kombinasi pesan, baik verbal maupun non verbal. Pesan-pesan itu mensyaratkan sebuah semangat “cancut tali wondo”.

Sekira lima belas tahun yang lalu, saya pernah menjumpai sebuah peristiwa semiotika melalui bahasa ekologi dari seorang kiai. Suatu hari di pesantren di mana kami belajar, beberapa santri membersihkan halaman sekitar kompleks kamar.

BACA JUGA: Suara Kiai Sepuh NU Menggema dari Ploso: Serukan Islah Demi Jaga Marwah PBNU

Setelah bersih, halaman yang berhadap-hadapan dengan dapur umum tersebut dialih fungsikan sebagai wahana olahraga. Sejak hari itu, tiap sore ada ‘peristiwa kebudayaan’ sepak bola di dekat kompleks kamar kami. Hari-haripun kami lalui biasa saja, dengan riang gembira. Tanpa ada pengumuman pelarangan.

Beberapa waktu kemudian, mungkin kiai kami menilai akan ada banyak kemudharatan yang akan terjadi jika terus-terusan dibiarkan. Maka pagi-pagi sekali kiai kami meninjau halaman kompleks belakang tersebut, sambil melihat-lihat kontur tanah. Kami mengintip dari kejauhan, terlihat kiai kami merogoh saku baju, mengeluarkan bibit kecil pohon klengkeng. Ditanamlah pohon kecil yang setinggi kopiah tersebut di tengah-tengah halaman. Semenjak hari itu, sepak bola di halaman tersebut tidak lagi dijumpai.

Menghidupkan Gus Dur dan Upaya Beyond Mikrofon

Menghidupkan Gus Dur, adalah password pembuka yang dipakai oleh Gus Yahya untuk membawa gerbong Nahdlatul Ulama melanjutkan separuh “kurva s” yang sedang berjalan. Kurva harapan yang terus diikhtiyarkan. Untuk melanjutkan khidmat perjuangan Nahdlatul Ulama di abad kedua dan berperan aktif dalam urusan pembangunan peradaban dunia.

BACA JUGA: Gus Yahya Bantah Isu Berafiliasi dengan Zionis Israel: Saya ke Yerusalem Demi Palestina

Ke depan, kader-kader, aktivis, para penggerak Nahdlatul Ulama di basis, tak sekadar sebagai dai dan penceramah keagamaan. Melainkan sudah melakukan perjuangan-perjuangan dan khidmat keumatan di wilayah-wilayah yang sepuluh atau dua puluh tahun lalu tak pernah terbayangkan. Dengan bonus demografi yang terjadi, Nahdlatul Ulama akan memasuki era surplus sumber daya pemuda.

Mengutip apa yang dulu pernah disampaikan oleh Prof. M. Nuh menjelang Muktamar Lampung, selaku Ketua Steering Comittte Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama. Bahwa ke depan, Nahdlatul Ulama memiliki tantangan besar yakni bagaimana mengkonversi intangible aset menjadi tangible aset, riil aset menjadi riil power.

Maka tak ada lagi pertanyaan apa sumbangsih Nahdlatul Ulama terhadap bangsa, karena pertanyaan tersebut sudah terjawab di masa-masa seratus tahun pertama. Tetapi, di seratus tahun kedua pertanyaan yang harus muncul adalah apa yang bisa dikerjakan dengan kecakapan-kecakapan yang melimpah dan potensi-potensi yang dimiliki oleh Nahdatul Ulama; nahdliyin sebagai arus sumberdaya.

Kecakapan-kecakapan yang melimpah tersebut, bisa kita lihat dengan nyata, bahwa saat ini banyak kader-kader muda NU berada di jalanan basis massa, terjun di wilayah persimpangan antara agama, politik, dan yang sangat penting yaitu pada wilayah sublimitas masyarakat (kemenyatuan antara diri dan liyan, sebagai aku dalam bentuk yang lain).

Di jalur sublimitas masyarakat, semua berangkat dari cara melihat masyarakat sebagai bagian dari dirinya, bukan melihat masyarakat sebagai sebuah problem atau persoalan. Berangkat dari titik itulah kiranya yang membentuk dan merentangkan peta jalan kader-kader muda NU  selama ini.

BACA JUGA: Pesan Gus Dur untuk Elit NU

Mengutip wawancara Yenny Wahid di kompas.id edisi 19 Agustus 2023, Yenny menyampaikan bahwa ia akan meneruskan visi Gus Dur dan menambahkannya, yaitu tentang hilirisasi kemerdekaan masyarakat. Dalam pandangan Yenny, tidak semua negara dengan sumber daya alam melimpah bisa memanfaatkan kekayaan alamnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat sehingga muncul fenomena yang disebut kutukan sumber daya alam.

Kondisi itu di antaranya terjadi sejumlah negara di Afrika. Negara-negara itu kaya akan sumber daya alam, tetapi pemimpinnya tidak mampu memanfaatkannya untuk kepentingan pembangunan masyarakat. Apakah kutukan sumber daya alam memang benar adanya? Mari silahkan direnungkan bersama.

Memaknai Kehadiran NU

Menurut Cassius Longinus, dalam jagat kemanusiaan kita terdapat apa yang disebut dengan sublim atau sublimitas (hypsos), yang merupakan gema dari roh (spirit) yang terbesar. Manusia (siapapun itu) dapat meraih hal tersebut melalui kemampuannya. Kemampuan manusia menangkap gema yang agung (sublim) menjadi hal yang patut dikagumi. Bahwa sublimitas merupakan manifestasi dari penangkapan manusia atas berbagai hasil cercapan. Dengan demikian makna dari kehadiran ialah kondisi manusia dan prosesnya.

Apakah NU hari ini sedang menjalani kesubliman ini sebagai sebuah kehadiran? Seharusnya iya. Kesubliman menjadi penting karena mengatasi berbagai model penampakan bagi manusia, termasuk di antaranya; keindahan, teror, atau kehampaan. Sublim dalam pemahaman Longinus dengan kata lain ialah kebesaran dan penyatuan yang didapat dalam proses pengenalan manusia dengan sebuah ciptaan, termasuk alam (di dalamnya).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Gus Yahya diminta mundurNahdlatul UlamaopiniPBNU
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Muktamar

Muktamar dan Belajar dari Verifikasi Ahli Hadis

by Mochamad Abdurrochim
05/07/2026 10:21 AM
0

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang Ada satu kalimat yang sejak lama...

Najib Mahfud.

Haul KH Najib Mahfud di Gresik Berlangsung Khidmat, Mbah Bolong: Rawat Selalu Anak Yatim

by Dwi Linda
01/07/2026 11:03 AM
0

GRESIK, Tugujatim.id - Haul ke-5 KH Najib Mahfud di Gresik berlangsung lancar dan khidmat Selasa malam (30/06/2026) di Pondok Pesantren...

Next Post
Jembatan Putus di Jember

Debit Air Sungai Meluap, Rumah Hanyut dan Jembatan Putus di Jember

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID