Nasihat Ayah yang Tak Tersampaikan

  • Bagikan
Ilustrasi kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. (Foto: Pexels/Tugu Jatim)
Ilustrasi kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. (Foto: Pexels)

Tugujatim.id – Angin begitu kencang berembus menyibak setiap dedaunan dan bunga-bunga yang tertanam di taman dekat fakultas. Matahari bersinar berhias awan yang mulai gelap, keduanya tertutup pembangunan gedung yang hampir rampung, tapi entah akan dinamai apa gedung itu.

Suasana kampus sepi hanya beberapa orang saja berlalu lalang ke fakultas. Aku duduk di gazebo bersama beberapa temanku ditemani semilir angin sore yang menyapa. Suasana seperti ini sangat menyengarkan pikiran setelah penat menjalani aktivitas perkuliahan.

Sejenak aku pun masuk ke dalam peraduan pikirku dan mulai tenggelam di dasarnya. Belum lama aku menyelami setiap kisah dalam peraduan pikirku, aku melihat seorang mahasiswi yang dijemput pulang oleh ayahnya menggunakan kendaraan roda dua tanpa pedal. Saat itu aku mulai teringat ayah dan ibu yang ada di rumah, terkenang saat aku memutuskan untuk merantau ke kota kembang atau saat aku pulang ke rumah jika libur semester telah tiba.

“Ayo, makan dulu, Ibu sudah masak rendang ikan mas kesukaanmu, Nak,” suara ibu dengan nada tinggi terdengar dari seberang pintu kamar.

“Iya, Kak cepetan dong. Adek udah laper nih,” ujar adikku.

“Bener banget, kita udah kelaperan ga bisa nahan lagi,” ujar adikku yang lain.

Akhirnya aku keluar dari gua persembunyian menuju meja makan.

“Kenapa sih di kamar terus? Kalau di kamar terus udah mending setiap libur semester gak usah pulang aja. Apa sih yang dikerjakan? Sok sibuk banget jadi orang. Huuh, mentang-mentang udah jadi mahasiswa sekarang,” celoteh adik bungsuku.

“Yee, bilang aja kalau kangen, gengsi banget mau bilang. Ngaku kalian berdua!” timpalku.

“Mereka berdua itu hampir tiap hari nanya, Bu kapan sih Kakak libur? Katanya mau pulang tiap libur? Ini kok gak pernah pulang sih,” jelas ibu kepadaku.

“Halahh, giliran udah di rumah pada ga bilang kangen,” jawabku.

“Sudah-sudah, ini kapan mau dimulai makan kalau ribut terus seperti ini. Ayo, pimpin doa dulu sebelum makan. Sekarang giliran Kakak yang pimpin doa,” perintah ayah kepadaku.

“Nggih,” jawabku.

Selepas makan, kami sekeluarga akan berkumpul di ruang keluarga tanpa menyalakan TV. Kami akan bercerita secara bergantian tentang banyak hal. Ruang keluarga ramai dipenuhi gelak tawa dan cerita kami. Cerita yang dimulai dengan bagaimana adik-adikku tumbuh dan berkembang di sekolah, menikmati setiap ekstrakurikuler yang mereka ikuti, bahkan sampai hal-hal lucu bisa kami ceritakan semuanya. Malahan ibu cerita selalu bingung memikirkan apa yang harus dimasak untuk menu makan setiap hari serta ayah yang selalu bingung tiap kali mencari barang tanpa bantuan ibu.

Aku sedikit tersenyum simpul teringat hangatnya kebersamaan bersama ibu, ayah, dan adik-adikku. Lembayung mulai menurunkan tirainya di atas langit, membuat langit bermandikan jingga yang menyala. Aku harus segera beranjak dari kampus menuju kos yang letaknya tidak begitu jauh sehingga masih bisa berjalan menyusuri jalan yang ramai dilalui beberapa kendaraan roda dua. Lalu, mampir ke warung makan untuk membeli sebungkus lauk teman nasi.

Sesampainya di kamar kos, aku langsung membersihkan diri dan merapikan barang-barang yang terlihat cukup berantakan seperti buku-buku yang masih berseliweran di meja belajarku. Tak sengaja aku menjatuhkan kotak kecil yang belum pernah aku buka. Aku teringat bahwa kotak kecil itu adalah hadiah yang diberikan ayah ketika mengantarku ke terminal bus saat aku harus kembali merantau.

Aku dan ayah memang tidak pernah terlalu banyak bicara jika sedang berdua. Ketika ayah mengantarku ke terminal, sepanjang jalan kami hanya berdiam diri. Sekitar tiga puluh menit aku menunggu bus datang di kursi tunggu berwarna merah. Kami memilih diam dan hanya sesekali memandang keluar untuk memastikan busnya sudah datang atau belum. Meski sebenarnya aku tahu ada banyak kata, pesan, dan nasihat yang ingin ayah sampaikan kepadaku. Pun denganku, cukup banyak kata bersemayam di pikiran, tapi tetap saja lidah kami berdua kelu, tak bergeming seperti efek dari prosedur anestesi lokal. Bus pun tiba, aku berpamitan kepada ayah dengan menyalami tangannya yang terlihat semakin banyak keriputnya.

“Hati-hati ya, Nak. Ini hadiah dari ayah, semoga Kakak suka,” ujar ayah sambil memberikan hadiah untukku.

“Nggih terima kasih, Ayah,” ujarku.

Aku menaiki bus yang tinggi itu dengan perbekalan yang dibawakan oleh ibu. Ayah terus menatap ke arah tempatku duduk hingga bus yang kunaiki melaju perlahan-lahan dan mulai meninggalkan ayah di terminal.

Kotak kecil itu terjatuh dari meja belajarku sehingga memuntahkan isinya, yaitu jam tangan berwarna hitam yang selama ini aku inginkan tapi tak pernah kuutarakan. Ternyata bukan hanya jam tangan saja isinya, ada sepucuk surat yang ayah tulis untukku. Aku pun mulai membaca secara perlahan dan memahami setiap untaian kata yang ayah tuliskan di dalamnya.

Nak, ini Ayah. Ayahmu yang selalu merindukan anaknya pulang, tapi tak kuasa mengucap rindu selepas ibu. Nak, ayah tahu jika anak ayah ini sedang berjuang di perantauan. Menimba ilmu di kota tetangga, meninggalkan keluarga dan ayah tidak sanggup membiarkanmu kelaparan di kota asing yang tidak pernah membesarkanmu dari nol serta tidak tahu apa pun tentangmu. Karena itu, ayah akan selalu berusaha keras dan terus membiayaimu, meski ayah tahu badan ayah tidak muda seperti dulu. Mungkin, tiga langkah berpeluh ayah saat ini adalah satu langkah gagah ayah di masa lalu, tapi ayah tidak masalah dengan itu. Bagi ayah yang terpenting adalah anak ayah dapat hidup dengan layak meski jauh dari keluarga.

Nak, berapa usiamu sekarang? Ayah bahkan hampir lupa. Sebab, dirimu yang semakin dewasa, ayah justru semakin menua. Maaf jika ingatan ayah semakin memudar tentangmu.

Anakku, ayah tahu betul jika saat ini dirimu sedang berproses dan mendewasa. Ayah tahu di tempatmu yang sekarang, kau bertemu dengan banyak orang. Kau membaur dengan mereka. Membaur dengan orang-orang yang mungkin tak ayah kenal. Tapi, yang ayah kenal satu-satunya adalah dirimu, anakku.

Berapa banyak hal di sana yang dapat mengganggu kepribadianmu yang selama ini sudah ayah didik dengan hati-hati? Berapa banyak hal di sana yang mungkin mendorongmu untuk terus menjauh dari ayah dan ibumu hanya karena mengatasnamakan “sibuk”? Bahkan, yang ayah semakin risaukan adalah segala hal yang bisa saja membuatmu semakin tak jujur pada ibu. Ayah bisa saja menahan segala kecamuk rindu dan kekhawatiran ayah, lalu menyembunyikannya darimu, tapi ibumu tidak begitu. Ibu tak bisa seperti ayah. Hatinya terlalu tipis, sehingga kadang kala ayah menjumpai ibu sedang berderai air mata merindu di selepas salatnya.

Ayah ingin melihatmu menjadi pribadi yang tangguh, melihatmu menjadi pribadi yang semakin dewasa dalam menyikapi hidup. Bagi ayah, yang terpenting melihatmu sebagai hamba Allah, di mana pun dirimu berada. Mampu berdampingan dengan orang-orang pintar di perantauan sana memanglah membanggakan, tapi berdampingan dan tinggal bersama orang-orang cerdas nan soleh merupakan hal yang lebih mendamaikan.

Kampus adalah pintu terakhir sebelum dirimu memasuki dunia yang sesungguhnya. Ada banyak hal baru yang kau temui, beribu teman dengan beragam karakter, hingga berbagi perbedaan prinsip yang mungkin akan membuatmu bingung. Pesan ayah, tetaplah bertoleransi, mulailah berpikir cerdas, lihatlah segala kondisi dari berbagai sudut pandang, dan jagalah selalu apa yang selama ini kau pegang teguh, imanmu.

Ayah selalu berharap di sana dirimu mendapat kehidupan yang baik, bisa mengajarimu semakin mendekat pada Rabb-mu. Yakinkan ayah agar tidak perlu mengkhawatirkanmu lebih banyak, Nak. Yakinkan ayah bahwa setumpuk makalah tidak akan membuatmu melepas salat Tahajud yang biasa kau lakukan selama di rumah. Yakinkan ayah bahwa setumpuk jam kuliah tidak membuatmu lalai dalam menjaga waktu salat dan rawatibmu. Pun yakinkan ayah bahwa waktu senggangmu tidak sia-sia dengan tidak meninggalkan satu pun ayat-ayat suci Al-Quran, anakku. Sebab, ayah ingin engkau selalu menjadi kebanggaan ayah, dan ayah yakin bahwa tidak perlu sekhawatir itu. Sebab, dirimu tetap anak ayah yang kami percayai. Lagi pula, tidak mungkin anak ayah mengkhianati ayah, bukan?

Nak, ayah hanya ingin dirimu meluangkan sedikit waktumu untuk sekadar bertanya kabar ayah dan ibu di sini. Jangan tunggu ayah atau ibu meneleponmu karena kami hanya tidak ingin mengganggu saat kau sibuk dengan segala urusanmu, dan kelelahan dengan hal itu. Ketahuilah nak, ayah dan ibu selalu merindukanmu.

Tak terasa surat itu sudah berada di huruf terakhir dan selesai kubaca. Seperti ada getar dalam dadaku yang membuat mataku perih. Tak kuasa aku menumpahkan setiap perasaan yang aku tahan untuk ibu dan ayah.

Berapa banyak dari kita yang menginginkan surga? Berapa banyak dari kita yang ingin hidup dan berjalan dalam naungan rida-Nya? Namun, sudahkah kita menyadari bahwa selalu ada dua orang yang mengkhawatirkan dirimu tidak mendapatkan “apa yang orang-orang rindukan?”

Pahit manis masa rantaumu saat ini adalah masa paling berharga. Ada banyak surga yang ditawarkan kepadamu. Jangan lupakan ayah dan ibumu karena kesibukan yang semakin menggunung. Ingatlah tugasmu untuk selalu berbuat baik kepada mereka, selagi mereka masih ada di dunia untuk terus menyayangimu. Sebab, mereka adalah salah satu calon surga milikmu, calon surga akhiratmu.

 

*Penulis adalah seorang pembelajar tingkat dua yang selalu mencoba belajar. Dia juga memiliki hobi bersepeda sendirian, melihat pepohonan yang hijau, air terjun, dan bertadabur.

 

 

  • Bagikan