MOJOKERTO, Tugujatim.id – Objek wisata religi kelolaan Pemkab Mojokerto belum bakal bertambah dalam waktu dekat. Meski, sebelumnya sempat terdengar bahwa terdapat masjid berusia ratusan tahun di Mojokerto akan diusulkan menjadi objek wisata religi.
“Belum ada rencana. Usulan itu juga butuh banyak pertimbangan, misal bangunan yang mengandung nilai histrorisnya seperti apa, sudah dipugar apa dipertahankan,” ujar Kadisbudporapar Kabupaten Mojokerto Ardi Sepdianto pada Jumat (06/03/2026).
Baca Juga: Momen Ramadhan 2026, Pengunjung Wisata Religi Troloyo Mojokerto Naik
Ardi melanjutkan, memang masjid di Mojokerto yakni Masjid Agung Darussalam atau Madasa berusia ratusan tahun. Namun, bukan itu saja indikator untuk menentukan objek tersebut layak menjadi wisata religi atau tidak.
“Pertimbangannya banyak, yang jelas untuk waktu dekat belum ada ke arah situ. Sementara kami maksimalkan wisata yang ada untuk menambah pemasukan daerah,” tandasnya.
Sebagai informasi, masjid yang dimaksud adalah Masjid Agung Darussalam Mojokerto atau Madasa Mojokerto yang dibangun di masa Bupati Mojokerto, Kromodjojo Adinegoro III (1894–1916).
Bangunan Madasa Lama Bernilai Sejarah yang Lestari
Madasa memang sebelumnya telah mengalami renovasi. Meski begitu, beberapa bagian masjid lama masih berusaha dipertahankan, yakni soko guru atau empat tiang utama masjid yang kembali dipasang di sebelah timur bangunan baru. Selain itu, tangga bangunan Madasa lama juga dihadirkan sebagai penanda nilai kesejarahan agar tetap lestari.
Tidak hanya itu, masjid yang berada persis di jalan arteri Surabaya–Madiun. Masjid ini juga masih menyimpan beduk raksasa yang diklaim sebagai yang terbesar di Indonesia. Beduk berbahan kulit sapi dan kayu jati dengan diameter 2,25 meter dan panjang 3,5 meter memiliki bobot mencapai 560 kg. Beduk raksasa ini didatangkan langsung dari Cirebon, Jawa Barat.
Baca Juga: Ketua DPRD Kota Malang Amithya Sampaikan Peluang Destinasi Wisata Religi
Selain itu, terdapat pilar masjid berwarna kombinasi coklat emas turut menambah suasana mewah dan megah. Tak hanya itu, ukiran pada pilar ini membawa nuansa khas Majapahitan, terlebih pengerjaannya yang melibatkan tenaga berpengalaman dari Boyolali, Jawa Tengah.
Pilar yang menyerupai yoni pada masa kerajaan Majapahit ini berbalut ukiran kayu jati. Terdapat 10 pilar dengan model serupa yang harga setiap satu pilar mencapai Rp280 juta, sedangkan harga pilar yang besar mencapai Rp600 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








